Akhlak · Keluarga

Mengendalikan Emosi dan Rasa Cemburu

EMOSI dan cemburu adalah dua saudara kandung yang saling melengkapi satu sama lain. Biasanya dipicu oleh informasi yang tidak utuh, atau bahkan sama sekali tidak memiliki landasan kebenaran yang dapat dipertanggungjawabkan. Emosi dan cemburu akan membuat orang cerdas menjadi bodoh. Membuat orang logis kehilangan perhitungan. Orang tenang menjadi kehilangan kendali. Firman-Nya:

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.” (Q.S. Al-Hujuraat: 6)

Pada ayat di atas jelas peringatan Allah Ta’ala terhadap bahaya membiarkan diri bereaksi reaktif atas informasi yang belum tentu benar.

Selain karena informasi yang tidak utuh atau tidak benar, emosi dan cemburu juga bisa disulut oleh prasangka buruk atau lazim disebut su’u-dhon:

“Wahai orang-orang beriman! Jauhilah banyak prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa, dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain, dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang.” (Q.S. Al-Hujuraat: 12)

Ayat di atas memberikan pelajaran bahwa membiarkan diri terlena dan berlama-lama dalam prasangka adalah termasuk perbuatan dosa. Dan setiap perbuatan dosa akan mengundang akibat lain yang juga buruk selain perbuatan dosa itu sendiri. Salah satunya adalah semakin berkurangnya rasa kepercayaan satu sama lain antara pihak-pihak yang berinteraksi.

Terdapat hadis tentang bagaimana Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam juga menjadi “pihak yang terkena” prasangka buruk dan bagaimana Rasulullah mengatasinya:

“Dari ‘Ali bin a-Husain radliallahu ‘anhuma bahwa Shafiyah isteri Nabi mengabarkan kepadanya bahwa dia datang mengunjungi Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dalam masa-masa i’tikaf Beliau di masjid pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, dia berbicara sejenak dengan Beliau lalu dia berdiri untuk pulang. Maka Nabi pun berdiri untuk mengantarnya hingga ketika sampai di pintu masjid yang berhadapan dengan pintu rumah Ummu Salamah, ada dua orang dari kaum Anshar yang lewat lalu keduanya memberi salam kepada Rasulullah. Maka Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam berkata kepada keduanya: “Kalian tenang saja. Sungguh wanita ini adalah Shafiyah binti Huyay”. Maka keduanya berkata: “Maha suci Allah, wahai Rasulullah”. Kejadian ini menjadikan berat bagi keduanya. Lalu Nabi berkata: “Sesungguhnya setan mendatangi manusia lewat aliran darah dan aku khawatir setan telah memasukkan sesuatu pada hati kalian berdua.” [HR Abû Dâwûd Sulaymânu ibnu al-As‘ats ibnu Ishâqi, Sunan Abû Dâwûd, Kitab Âdâb, Bab al-Nahyi ‘An al-Tajassusi, No. 4888, Dâr al-Risâlah al-‘Âlamiyyah, 2009, Juz 7, h. 250]

Jika suatu waktu kita menjadi obyek penderita sikap suu-dhon pihak lain, maka sikap yang paling baik dan bermanfaat adalah menenangkan diri. Menjadi korban seperti itu adalah sebuah keniscayaan bagi setiap orang. Maka bersabarlah dan minta tolonglah kepada Allah…

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” (Al-Baqarah: 45-46).

Dari hadis di atas kita juga belajar akan sikap Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam yang bersikap preventif dan sensitif membaca dan menjauhi hal-hal yang bisa menimbulkan prasangka. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dapat membaca bahasa tubuh sahabat yang melihatnya, sensitif, lalu mengambil langkah preventif mencegah berkembangnya suu-dhon di hati para sahabat tersebut.

Lalu, bagaimana jika kita yang menjadi “pihak yang melakukan” pelaku su’u-dhon? Apakah mungkin? Tentu saja. Karena, sebagaimana dikatakan dalam hadis di atas, “Syaithan itu mengalir bersama aliran darah”, sedangkan darah itu pasti mengalir di setiap tubuh anak adam.

Terdapat hadis bagaimana Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam menjaga dirinya dari kemungkinan munculnya sikap su’u-dhon ini. Yaitu di antaranya agar tidak berada dalam situasi “tajassus“, memata-matai, yang sangat rentan menyebabkan su’udhon.

Hal ini termuat dalam sebuah hadis panjang yang menceritakan bahwa sudah menjadi menjadi kebiasaan Rasulullah bila dari bepergian, tidak langsung masuk kota, tapi berhenti dulu di suatu tempat seakan-akan memberi kesempatan para sahabat dan keluarganya untuk bersiap-siap menyambutnya… [Abû al-Husein Muslim Ibn al-Hajjâj Ibn Muslim al-Qusyairî al-Naisaburî, Sahih Muslim, Kitab Fadâilu al-Sahâbah, Bab Fadâilu Ummu Sulaym Radiyallâhu ‘Anhâ, No. 6404, Juz 7, h. 146]

Tajassus, atau mengamat-amati atau memata-matai pihak lain yang bukan dalam situasi perang, adalah negatif dan membahayakan sendi-sendiri kebersamaan dan kerukunan dalam masyarakat. Sebagaimana disebutkan dalam hadis:

Dari Mu’awiyah ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah bersabda: “Jika engkau mengamat-amati (menelusuri) aurat (aib) orang-orang, berarti engkau merusak mereka, atau hampir-hampir engkau merusak mereka.” [Abû Dâwûd Sulaymânu ibnu al-As‘ats ibnu Ishâqi, Sunan Abû Dâwûd, Kitab Âdâb, Bab al-Nahyi ‘An al-Tajassusi, No. 4888, Dâr al-Risâlah al-‘Âlamiyyah, 2009, Juz 7, h. 250]

Oleh karena itu, setiap kita hendaknya mengingat kaidah ini. Biasanya, sepasang suami-istri yang memata-matai pasangannya, hubungan antara keduanya tidak menjadi lebih baik, bahkan biasanya menjadi lebih buruk.

Emosi dan cemburu harus disikapi dengan lebih bijak dan matang, terutama di zaman digital saat ini. Verifikasi kabar, menahan diri dari sikap reaktif, juga menahan diri dari tajassus atau bahasa orang muda, stalking, juga perlu dikedepankan. Cukuplah mengamalkan hal-hal tersebut dengan niat mengikuti perintah Allah ta’ala dan sunnah Rasul-Nya.

Emosi dan cemburu juga harus diletakkan secara proporsional, dengan tidak mengesampingkan rasa keadilan. Setiap orang bisa khilaf, maka memaafkan itu lebih baik. Juga karena kebaikan dan keburukan akan selalu menyertai setiap sisi kehidupan, dalam setiap interaksi, dengan individu manapun. Demikianlah sifat dunia yang telah ditetapkan Allah subhanahu wa ta’ala, sebagai ajang ujian bagi hamba-hamba-Nya:

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan Menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami.” [QS: al-Anbiya’ [21]:35]. Wallaahu a’lam bish showwaab.*

Nesia Andriana/Penulis alumni STIU Darul Hikmah – Bekasi/www.hidayatullah.com

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s