Keluarga · Kisah Nyata · muslimah

Nusaibah, Wanita Setara Dengan Seribu Pria-2

MANAKALA Rasulullah Shalallaahu ‘Alahi Wasallam melihat luka Ummu Umarah mengalirkan darah, beliau memanggil putranya seraya berkata, “Hai putra Ummu Umarah, ibumu… ibumu! Balutlah lukanya! Semoga Allah memberkahi kalian wahai keluarga. Ibumu lebih baik daripada si fulan dan si fulan.”

Dan ketika putranya Abdullah terluka, darah mengalir deras. Maka Rasulullah bersabda kepadanya, “Balutlah lukamu!” Ummu Umarah mendengar ucapan Rasulullah dan ia membawa beberapa helai perban yang ia gantungkan di perut. Ummu Umarah mengambilnya, kemudian membalut luka putranya. Selanjutnya ia berkata, “Bangkitlah, gempurlah musuh-musuh itu.”

Dengan penuh kekaguman, Nabi bersabda kepadanya, “Siapa yang mampu melakukan apa yang telah engkau lakukan ini, wahai Ummu Umarah?” Tidak lama setelah itu, Rasulullah melihat orang yang telah melukai putra Ummu Umarah. Beliau menuding orang tersebut sembari berkata kepada Ummu Umarah, “Ia yang melukai putramu.”

Ummu Umarah segera berusaha mendekati orang tersebut dan memukul betisnya. Musuh itu jatuh tersungkur, kemudian Ummu Umarah menuntaskan kematiannya. Rasulullah bersabda kepadanya, “Segala puji bagi Allah yang telah memenangkanmu, membahagiakanmu dengan kematian musuhmu dan memperlihatkan terbalasnya dendammu pada kedua matamu.”

Ummu Umarah menuturkan apa yang ia alami dalam perang ini, “Aku melihat orang-orang berhamburan meninggalkan Rasulullah –mereka lari meninggalkan beliau karena sangat takut–. Dan hanya tersisa kira-kira 10 orang. Aku, dua putraku, dan suamiku, berdiri di depan beliau. Kami melindungi Rasuiuilah dari incaran musuh, sedang orang-orang hanya melewati beliau. Mereka terdesak mundur.

Beliau melihatku tidak memegang perisai. Ketika beliau melihat seorang prajurit yang lari dan ia membawa perisai, beliau berteriak, “Lemparkan perisaimu pada orang yang berperang itu.” Prajurit itu melemparkannya, lantas aku mengambilnya. Kemudian aku pergunakan sebagai perisai untuk melindungi Rasulullah.

Sungguh yang bisa membuat kami kerepotan hanya pasukan kuda. Andai mereka berjalan seperti kami, insya Allah kami sanggup mengalahkan mereka. Seseorang datang dengan menunggang kuda. Ia memukulku dan aku menangkisnya dengan perisai. Ia tidak dapat berbuat apa-apa dan berbalik. Aku segera memukul tumit kudanya, sehingga ia terjatuh dari punggung kuda. Spontan Nabi berteriak, “Ibumu… ibumu..” Lantas putraku membantuku mengalahkan orang itu hingga aku berhasil mengantarkannya menuju ajalnya.

Abdullah bin Zaid berkata, “Di hari itu aku mendapat luka mendalam dan darah tidak mau berhenti mengalir. Nabi bersabda, “Balutlah lukamu.” Ibu menghampiriku dengan membawa beberapa perban di pinggangnya. Ia membekap lukaku, sedang Nabi berdiri. Setelah selesai, ibu berkata, “Bangkitlah putraku, kalahkan orang-orang itu!”

Nabi bersabda, “Siapa yang sanggup memperbuat apa yang engkau perbuat, wahai Ummu Umarah?!”

***

Hari-hari terus berjalan dengan manis dan pahitnya, sedang Nusaibah binti Ka’ab setia berjihad di jalan Allah dengan segenap kemampuan yang dimiliki. Rasulullah wafat, kemudian kaum muslimin membai’at Abu Bakar sebagai khalifah, dan kelompok murtadin berbalik meninggalkan agama Islam.

Di bawah pimpinan Musailamah Al-Kadzdzab, mereka menyuarakan peperangan terhadap kaum muslimin. Maka Abu Bakar menyiagakan beberapa gempuran pada kelompok murtad di semenanjung jazirah Arab tersebut.

Pertempuran Yamamah merupakan pertempuran terdahsyat bagi kaum muslimin, tapi mereka memperlihatkan keberanian yang tidak tertandingi.

Di antara para pejuangg di jalan Allah ini adalah Nusaibah binti Ka’ab dan kedua putranya, Hubaib dan Abdullah. Hubaib tertawan oleh Musailamah. Ia disiksa dan menerimanya dengan sabar.

Musailamah berkata pada Hubaib, “Apakah engkau bersaksi bahwa Muhammad Rasulullah?” Dengan tegas ia menjawab, “Ya”

Musailamah bertanya lagi, “Apakah engkau mengakui aku utusan Allah?” Ia menjawab, ‘Aku tidak mendengar.” Lantas Musailamah mencincang tubuh Hubaib hingga meninggal.

Nusaibah mengetahui kematian putranya. Ia bernazar tidak akan mandi hingga Musailamah mati. Ia pun menuju medan laga bersama putranya yang lain, Abdullah. Ia sangat ingin menghabisi nyawa Musailamah dengan tangannya. Tapi takdir menghendaki orang yang membunuh Musailamah adalah putranya, Abdullah, yang membalaskan dendam saudara kandungnya, Hubaib.

Ummu Umarah menuturkan, “Dalam pertempuran Yamamah, tanganku terputus padahal aku ingin membunuh Musailamah. Namun tidak ada yang mengendurkan keinginanku hingga aku melihat orang busuk tersebut terkapar tidak bernyawa. Ternyata putraku, Abdullah bin Zaid, tengah mengusap pedangnya dengan bajunya. Aku menanyainya, “Engkau telah membunuhnya?” Ia menjawab, “Ya.” Lantas aku sujud syukur kepada Allah.

Dalam membunuh Musailamah, Abdullah dibantu Wahsyi bin Harb –pembunuh Hamzah di perang Uhud. Ia telah masuk Islam dan bersungguh-sungguh menjalankan ajarannya.

Dalam berbagai palagan perang, Nusaibah sebanding dengan 1.000 lelaki. Ia memenggal tengkuk pasukan musyrikin dan tidak peduli dengan keselamatannya selagi demi membela Allah.

Nusaibah adalah teladan bagi setiap mukmin dan mukminah, dan figur perjuangan serta pengorbanan. Kiranya Nusaibah binti Ka’ab dan wanita-wanita mukminah mujahidah lainnya cukup menjadi teladan bagi setiap wanita beriman yang mampu memberi kontribusi berarti dalam membela agama, melindungi tanah air dan merealisasikan kemajuan serta kesejahteraan. Semoga Allah membimbing dan meluruskan langkah mereka.*/Prof. Dr. Muhammad Bakr Ismail, terangkum dalam bukunya Bidadari 2 Negeri.

dari http://www.hidayatullah.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s