Kisah Nyata · muslimah · Siroh

Nusaibah, Wanita Setara Dengan Seribu Pria

ALLAH Subhanahu Wa Ta’ala mewajibkan peperangan pada kaum mukminin –walau mereka tidak menyukainya– karena berguna untuk melawan kesewenang-wenangan, mempertahankan tanah air, dan menjaga agama dari penghinaan tangan-tangan kaum tercela; serta melindung kehormatan, kemuliaan, dan harta benda.

Allah tidak mewajibkannya pada wanita karena mereka tidak akan mampu memikul beban-bebannya dan tidak kuasa menghadapi berbagai tekanan dan kesulitan. Allah menempatkan mereka di belakang kaum lelaki guna mendidik anak-anak, mengurus rumah tangga, melayani suami, dan tugas-tugas lain yang dibebankan pada kaum ibu.

Namun demikian, apabila kondisi mendesak, Allah mengizinkan mereka turut serta bersama kaum lelaki terjun dalam pertempuran. Sebab, dalam situasi seperti ini, wanita mampu menghadapi peperangan dan melakukan sesuatu yang bermanfaat bagi para tentara.

Para ahli sirah dan sejarawan menyebutkan bahwa wanita telah memberi sumbangsih besar pada kaum laki-laki dalam banyak pertempuran. Ia bahu membahu berperang bersamanya, atau berada di belakang pasukan untuk melindunginya dari tipu daya musuh, mengembalikan tentara yang lari dari medan tempur, menyediakan air, makanan serta senjata untuk mereka, dan hal-hal lain yang diperlukan dalam peperangan.

Di antara pejuang wanita yang memiliki nama harum dalam sejarah para wanita penyabar dan tulus adalah Ummu Umarah Nusaibah binti Ka’ab bin Amru bin Auf bin Mabdzul Al-Anshariyah Al-Khazrajiyah An-Najjariyah.

Ia satu di antara para mujahid wanita terbaik yang telah menyumbang andil besar demi membela agama dalam berbagai peristiwa. Ia menyatakan pada seluruh dunia bahwa bila seorang wanita muslimah menyandang senjata iman yang sempurna, tekad tulus dan keinginan kuat, ia bisa menciptakan banyak keajaiban dan membuat contoh menakjubkan dalam bentuk kepahlawanan langka dan keberanian yang luar biasa.

Ia seorang wanita yang beriman kepada Rabb dan konsisten pada ajaran agamanya. Allah memberinya keyakinan dan petunjuk, serta menganugerahinya kekuatan menghadapi kesulitan dan menaklukkan berbagai halangan.

Ia adalah salah satu dari dua wanita yang datang bersama 73 lelaki ke Mekah untuk bertemu Nabi Muhammad Shalallaahu ‘Alahi Wasallam dan berjanji setia pada beliau di Aqabah. Selamanya, ia termasuk wanita yang berbai’at. Ia berbai’at kepada Nabi dalam Bai’atur Ridhwan yang berlangsung di bawah sebuah pohon, di mana Allah telah meridhai semua orang yang berbai’at di bawahnya dan mencatatkannya dalam Al-Qur’an.

Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon, maka Allah mengetahui apa yang ada di dalam hati mereka lalu menurunkan ketenangan atas mereka dan memberi balasan kepada mereka dengan kemenangan yang dekat (waktunya).” (Al-Fath: 18).

Bai’at ini dilakukan terkait kesediaan berperang melawan penduduk Mekah bila mereka berani mengganggu atau merintangi kaum muslimin masuk Mekah untuk mengunjungi Baitul Haram. Kisah bai’at ini dimuat dalam buku-buku sirah.

***

Nusaibah berangkat ke medan Uhud bersama suami dan kedua anaknya, Hubaib dan Abdullah putra Zaid bin Ashim bin Amru. Ia bertempur dengan gigih dan mendapat hadiah 12 luka.

Dalam berperang, ia menunjukkan keberanian luar biasa yang mampu menarik kekaguman Nabi dan para sahabat beliau yang menyaksikan. Ia meloncat, menerkam, dan mengayunkan pedangnya ke segala arah. Bersama suami dan kedua putranya bahu membahu menggempur musuh.

Nabi melihat keluarga ini membelah jalannya menuju Uhud dengan penuh percaya diri dan yakin. Beliau bersabda pada mereka, “Semoga Allah merahmati kalian wahai keluarga. Semoga Allah memberkahi kalian wahai keluarga.”

Nusaibah memanfaatkan kesempatan ini dengan berkata, “Wahai Rasulullah, mohonkan pada Allah agar kami dapat menemani baginda di surga.” Lantas beliau mengucapkan, “Ya Allah, jadikan mereka kawan-kawanku di surga.”

Kebahagiaan besar memancar dari hati Nusaibah. Ia menuturkan, “Setelah itu aku tidak peduli apa pun yang menimpaku dalam urusan dunia.”

Nusaibah pernah bertarung melawan musuh Allah, Amru bin Qum’ah. Dalam pertarungan ini, Nusaibah memperlihatkan keahlian bertempurnya dan semangat juangnya dalam berperang, sehingga musuh Allah ini tidak sanggup mengalahkannya. Hanya saja ia berhasil menimpakan luka mendalam yang cukup lama diderita Nusaibah.

Ummu Sa’ad binti Sa’ad bin Rabi’ pernah bertanya padanya tentang kenangan-kenangan jihad dan perjuangannya. Ia berkata, “Wahai bibi, ceritakan padaku kisahmu di perang Uhud.”

Kemudian Ummu Umarah menuturkan, “Menjelang siang, aku keluar melihat orang banyak. Aku membawa wadah berisi air. Aku sampai kepada Rasulullah yang berada di tengah-tengah para sahabat. Keuntungan berpihak pada pasukan muslimin –maksudnya, saat itu mereka unggul–. Kemudian ketika pasukan muslimin terdesak, aku bergabung bersama Rasulullah. Aku ikut terjun dalam perang, melindungi beliau dengan pedang dan membidikkan panah, hingga aku mengalami luka-luka.”

Lantas Ummu Sa’ad menanyakan luka di pundaknya yang dalam, siapa yang melukainya? Ia menjawab, “Ibnu Qum’ah, semoga Allah menghinakan dan menistakannya.”

Kisahnya, ketika orang-orang meninggalkan Rasulullah, Ibnu Qum’ah datang sambil berkata, “Tunjukkan padaku di mana Muhammad. Aku tidak selamat bila ia selamat.” Maka aku, Mus’ab bin Umair dan beberapa orang yang bertahan untuk melindungi Rasulullah menghadangnya. Ia memukulku hingga menyebabkan luka ini. Sebenarnya aku berhasil membalasnya dengan beberapa pukulan, sayangnya musuh Allah ini mengenakan dua lapis baju besi.”

Demikianlah, wanita yang diasuh Islam dan menjadi putri keimanan ini tidak gentar terhadap tebasan pedang dan tusukan tombak. Sebaliknya ia maju dengan gagah berani dan bertekad mengerahkan semua kemampuannya demi membela agama, kemerdekaan dirinya, dan kehormatan umatnya.

Ia membalas satu pukulan orang yang jahat lagi pendosa dengan beberapa pukulan yang kuat dan berbobot. Hanya saja musuh terlaknat ini melindungi tubuhnya dengan dua lapis baju besi. Lihat! Tidak cukup satu baju besi. Saat itu Ummu Umarah melupakan segala sesuatu selain bahwa dirinya berada di tengah-tengah medan yang memerlukan ketulusan dan pengorbanan. Karenanya, ia terus menikam dan memukul hingga Rasulullah pernah bertutur, “Aku tidak menoleh ke kanan dan kiri kecuali aku melihat Ummu Umarah bertempur melindungiku.”

Di perang Uhud, Nabi melihat seorang laki-laki yang membawa perisai, namun tidak ia pergunakan untuk melindungi diri. Sedangkan Ummu Umarah tidak membawa peralatan untuk melindungi dirinya. Maka Nabi berkata kepada lelaki tersebut seraya menunjuk pada Ummu Umarah, “Lemparkan perisaimu pada orang yang bertempur itu.”

Orang itu memberikan perisainya, lalu Ummu Umarah mempergunakannya untuk melanjutkan pertarungan.* (bersambung) /Prof. Dr. Muhammad Bakr Ismail, terangkum dalam bukunya Bidadari 2 Negeri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s