Akidah · Keluarga · Tazkiyyah

Surat Cinta Untuk Pendukung LGBT

ADA yang bilang: Kenapa Tuhan tidak langsung mengazab negeri-negeri yang menolerir LBGT?

Jawabnya mudah, usah bimbang, terpancing emosi, apalagi gagal fokus. Terus kejar cita-cita dan harapan anda.

Kita sering kali menghabiskan waktu meladeni perkataan tak popular yang di sebagian orang justru dijadikan rujukan dan kebanggaan. Tapi yakin saja pengikutnya hanya secuil. Mudah-mudahan anda tidak termasuk.

Ibarat tukang parkir pertigaan atau perempatan jalan yang nekat menghentikan puluhan kendaran yang sedang melaju dengan kecepatan tinggi, hanya karena satu atau beberapa mobil yang hendak menyimpang, berharap dapat uang recehan. Tak peduli omongan orang, apa saja dihalalkan yang penting hajat terlampiaskan. Pernahkah anda memperhatikan?

Begitu pula orang-orang yang suka mengotak-ngatik kesakralan isi Al Qur’an, bahkan seolah-olah menjadi pakar sejarah, bukan karena mereka hebat dan hafal Al Qur’an, sekali-kali mereka tidak demikian. Namun ada maksud lain yang belum terlampiaskan. Pernahkah anda memperhatikan?

Hukuman di era global tidak melulu dengan turun hujan batu, ditenggelamkan, disambar petir, dikutuk jadi kera, babi, datang burung ababil dan sejenisnya, walau hal demikian sangat mudah bagi Allah yang Maha Perkasa.

Perhatikan saja wajah-wajah yang “mungkin” menarik perhatian Anda. Adakah aura memancar?

Cahaya akan memudar dari pelaku penyimpangan dan para pembelanya, di hari kiamat kegelapan wajah mereka akan disempurnakan. Adapun kalangan beriman dan pelaku kebajikan yang sekalipun berkulit hitam legam, mereka laksana purnama yang membuat iri para durjana nan durhaka.

Biarkan saja mereka berkicau, toh siapa yang mampu memberi petunjuk selain Allah kepada orang yang menyembah hawa nafsu, karena pendengaran, mata dan hatinya telah tertutup dan terkunci.

Doakan agar mereka diberi hidayah, bertaubat dan husnul khatimah, tiada yang tak mungkin bagi Allah, begitu luas ampunan dan rahmatNya bagi mereka yang tersadar. Namun jika tidak berhenti, maka pastilah ketetapan Tuhan akan terjadi sebagaimana kepada umat sebelum kita. Demikian namanya “sunnatullah”

Penciptaan manusia tidak lebih dahsyat dari penciptaan alam semesta, adakah kita mengambil pelajaran?

“Dan tidaklah sama orang yang buta dengan orang yang melihat?” (QS. Ghafir: 58)

Memaknai firman Tuhan tidak bisa diartikan secara harfiah, namun di balik itu banyak pesan berharga. Tidakkah kita memperhatikan bagaimana Al Qur’an membandingkan antara orang yang melihat (Bashir) dengan orang buta (A’maa).

Maksud bashir, abshar, mubshir maupun bashair ialah mereka yang dianugerahkan ilmu yang dengannya ia bisa membedakan antara hak dengan batil sekalipun ia buta secara fisik atau berkebutuhan khusus.

“Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq dan Ya’qub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang tinggi (Al Abshar). (QS. Shaad: 45)

“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa apabila mereka dibayang-bayangi pikiran jahat (berbuat dosa) dari syaitan, merekapun segera ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat (kesalahan-kesalahannya) (Mubshirun).” (QS. Al A’raaf: 201)

“Al Quran ini adalah pedoman (bashair) bagi manusia, petunjuk dan rahmat bagi kaum yang meyakini.” (QS. Al Jatsiyah: 20)

Adapun A’maa, bukan buta matanya, karena bisa jadi ia normal, berpenampilan menarik, berstatus sosial, bahkan berpendidikan tinggi, namun buta mata hatinya. Akibatnya ia mengalami kesulitan membedakan haq dan bathil, bahkan seringkali mencampuradukkannya.

Keintelektualan seseorang seharusnya menjadi sarana memahami agama Allah yang penuh kemudahan serta menjadikan lebih dekat denganNya, bukan menjadi pembantah hebat.

Agama yang lurus bukan penuh kerancuan, jika akal benar-benar difungsikan, maka tabir yang tersembunyi bisa terkupas, bukan dengan dugaan, doktrin, apalagi dogma semata.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Agama itu mudah, agama yang disenangi Allah (ialah) yang benar lagi mudah.” (HR. Bukhari)

Sabda Nabi tersebut senada dengan firman Allah Ta’ala di surat Al Hajj ayat 78:

“Dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan”

Secara fitrah, manusia mengetahui siapa yang telah menciptakan alam semesta beserta aksesorisnya, jika setiap orang ditanya demikian, maka jawabannya “Allah”.

“Dan sungguh jika kamu tanyakan kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, Niscaya mereka akan menjawab: “Semuanya diciptakan oleh yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.” (QS. Az Zukhruf: 9)

Setiap insan tahu betapa rapuh dirinya, kecuali yang tidak mengenal fitrahnya, ia sulit menyadarinya. Tatkala mendapat musibah, manusia akan mengadu kepada Tuhan, begitu juga para Nabi mengadukan segala keluh kesah dan memohon segala sesuatunya hanya kepada Allah Ta’ala.

Kami cukupkan surat cinta ini dengan firmanNya sebagai jawaban terbaik;

“Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka, dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun. (QS. Al Anfal: 33). Mengapa kita tak juga mengambil pelajaran darinya?

 

Guntara Nugraha Adiana Poetra

Penulis dosen Komunikasi & Penyiaran Islam Fakultas Dakwah Universitas Islam Bandung (UNISBA)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s