Akhlak · Hikmah · Tazkiyyah

Beramal Untuk Kaya di Dunia

TELAH tibakah masanya? Masih jauhkah kita dari keadaan ini? Ataukah kita yang tak peka sehingga tak sanggup melihat apa yang sesungguhnya telah terjadi?

Diriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu bahwa beliau menyebutkan sejumlah fitnah yang akan terjadi di akhir zaman. Kemudian ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu berkata kepadanya, “Kapankah itu terjadi, wahai ‘Ali?”

‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu anhu menjawab:

“(Fitnah-fitnah tersebut terjadi) jika fiqih dikaji sungguh-sungguh bukan karena agama, ilmu agama dipelajari bukan untuk diamalkan, serta kehidupan dunia dicari bukan untuk kepentingan akhirat.” (Riwayat Al-Hakim).

Telah adakah gejala-gejala seperti ini di hadapan kita? Jika dulu para shahabat radhiyallahu ‘anhum ajma’in bekerja mencari penghidupan bahkan dalam rangka keta’atan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, demi meraih akhirat yang sentausa, maka pada zaman fitnah yang terjadi justru sebaliknya. Akan banyak orang yang berlomba-lomba mencari dunia, tetapi sama sekali bukan untuk kepentingan akhirat. Jalannya mungkin ibadah, tetapi demi meraih dunia.

Ini mengingatkan kita pada perkataan Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu dalam sebuah hadis shahih mauquf. Salah satu tanda zaman fitnah menurut Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu adalah “ultumisatid dunyaa bi’amalil aakhirati” (mengejar dunia dengan amalan akhirat). Di masa itu, akan banyak orang bersemangat melakukan sebagian amal akhirat untuk mengejar dunia sebanyak-banyaknya. Ini berkebalikan dengan para salafush shalih yang mereka mencari dunia pun untuk mengejar akhirat. Sangat berbeda.

Sudahkah ini terjadi?

Banyaknya orang mengejar dunia dengan amal akhirat, berbarengan dengan munculnya orang yang “tufuqqiha ligharid diien”. Siapakah itu? Mereka yang bertekun-tekun mendalami agama bukan untuk agama. Mereka bersungguh-sungguh mempelajari agama untuk meraih dunia. Mereka inilah orang yang sangat memukau perkataannya tentang kehidupan dunia dan mempersaksikan kebenaran isi hatinya kepada Allah Ta’ala. Dan manusia pun berbondong memburu dunia dan mencintainya (hubbud dunya) tanpa merasa khawatir sedikit pun amalannya terhapus di Yaumil Qiyamah.

Alangkah berbedanya dengan generasi salafush shalih yang senantiasa mengkhawatiri amalnya. Padahal mereka adalah sebaik-baik generasi.

Marilah kita renungi sejenak firman Allah berikut ini:

“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan.” (QS. Huud, 11: 15).

Allah Ta’ala memberi balasan tunai di dunia. Tetapi di akhirat? Adakah yang disebut sebagai kekekalan energi positif seperti syubhat yang disuarakan oleh para penganut Law of Attraction? Mari kita perhatikan ayat selanjutnya:

“Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Huud, 11: 16).

Alangkah buruk kesudahannya. Alangkah buruk….

Sudah adakah tanda-tanda manusia mengejar dunia dengan amal akhirat? Sudah adakah orang yang bertekun mendalami agama untuk dunia? Jika masa itu telah tiba, ingatlah bahwa air paling jernih adalah yang paling dekat dengan sumbernya. Maka, tengoklah generasi itu; generasi awal yang terbaik, para salafush shalih.

Berpeganglah kepada yang dalilnya kuat. Bukan kisah yang tidak jelas keshahihannya. Bukan pula dalil umum untuk perkara yang khusus.

Sebagai penutup, marilah kita renungkan sejenak apa yang menjadi kekhawatiran Nabi shallaLlahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda:

“Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas umatku adalah setiap munafik yang fasih lisannya (pandai bersilat lidah).” (HR. Ahmad).

Semoga catatan sederhana ini bermanfaat dan barakah. Semoga Allah Ta’ala kokohkan iman kita dan tidaklah kita mati kecuali dalam keadaan benar-benar beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Apakah tidak boleh kita meminta dunia kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala? Sangat boleh. Tetapi bukan melakukan amal akhirat untuk meraih dunia. Mintalah kepada Allah Ta’ala kapan saja, tak menunggu sedekahmu berlimpah. Ketahuilah adab-adabnya. wallaahu a’lam

Mohd Fauzil Adzim; twitter @kupinang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s