Akidah · Artikel

Memahami dan Mengikuti Jalan Orang Beriman

Allah Ta’ala berfirman, “Barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (An-Nisa’: 115)

Ibnu Katsir mengatakan, “Barang siapa yang menempuh jalan selain jalan syariat yang dibawa oleh Rasul Shallallaahu ‘alaihi wasallam., ia berada di suatu jalur, sedangkan syariat Rasul Shallallaahu ‘alaihi wasallam. berada di jalur yang lain. Hal tersebut dilakukannya dengan sengaja sesudah tampak jelas baginya jalan kebenaran.” (Tafsir Ibnu Katsir, II/412).

Ibnu Mas’ud berkata, “Pada suatu hari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam membuat sebuah garis lurus untuk kami, kemudian beliau bersabda, ‘Ini adalah jalan Allah’, kemudian beliau membuat garis-garis di sebelah kanan dan kirinya, seraya bersabda, ‘Ini adalah jalan-jalan lain, di setiap jalan tersebut ada setan yang mengajak untuk mengikutinya (jalan tersebut). Lalu beliau membaca ayat: ‘(Inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah jalan tersebut. Dan, janganlah kalian mengikuti jalan-jalan yang lain. Jika kalian mengikuti jalan-jalan tersebut, niscaya kalian semua akan terpisah dari jalan-Nya.’ (Al-An’am: 153).” (HR. Ibnu Hibban dan Ad-Darimi)

Makna firman Allah “dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin” masih berkaitan dengan penyimpangan pada kalimat sebelumnya. Tetapi penyimpangan tersebut adakalanya terhadap nash syariat dan adakalanya terhadap perkara yang telah disepakati oleh umat Muhammad dalam hal-hal yang telah dimaklumi secara nyata. Karena kesepakatan umat ini telah terjaga dari kekeliruan. (Tafsir Ibnu Katsir, II/412).

Ayat ini dijadikan dalil oleh Imam Syafi’i bahwa ijma’ adalah sumber hukum yang haram ditentang. Imam Syafi’i sampai kepada kesimpulan ini setelah melakukan kajian cukup lama dan penyelidikan yang teliti. Dalil ini merupakan suatu kesimpulan yang terbaik lagi kuat. (Tafsir Ibnu Katsir, II/412).

“Dan demikianlah kami jadikan kalian umat pertengahan, agar kalian menjadi saksi atas seluruh kaum manusia, dan Rasul akan menjadi saksi atas kalian.” (Al-Baqarah: 143)

“Dan jika kalian berbeda pendapat pada suatu persoalan, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya.” (An-Nisa’: 59)
Ayat ini menunjukkan, jika tidak terjadi silang pendapat di antara kaum muslimin, maka tidak menjadi keharusan untuk mengembalikannya kepada Allah dan Rasul-Nya. Menunjukkan bahwa ijma’ adalah dalil yang shahih. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Umatku tidak akan bersatu dalam kesesatan.” (HR Thabrani, yang perawinya dinyatakan tsiqah oleh Al-Haitsami dalam Ma’mauz Zawaid)
Syaikh As-Sa’di mengatakan, “Jalan orang beriman adalah akidah dan amal perbuatan mereka.” (Tafsir As-Sa’di: I/202).

Pemahaman ayat tersebut, bahwa siapa yang tidak menyelisihi Rasul shallallaahu ‘alaihi wasallam dan mengikuti jalan orang-orang beriman, dalam wujud ketulusan kepada Allah, mengikuti Rasul-Nya, dan komitmen bersama jamaah kaum muslimin, lalu orang tersebut melakukan dosa atau timbul keinginan untuk itu dan dikalahkan oleh tabiatnya sebagai manusia, Allah tidak akan memalingkan dirinya. Allah akan membimbingnya dengan kelembutan-Nya dan menjaganya dari keburukan tadi. Hal ini terjadi pada Yusuf as. Seperti disebutkan dalam firman-Nya,

“Demikianlah, agar Kami memalingkan darinya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih.” (Yusuf: 24) (Tafsir As-Sa’di: I/202).

Banyak hal yang menyebabkan seseorang tidak konsisten pada kebenaran setelah ia tahu kebenaran itu:

1.    Tidak memahami hakikat iman
Iman yang benar sesuai yang dibawa Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam akan berdampak pada kebahagiaan dunia dan akhirat, memperbaiki lahir dan batin, akidah, perilaku, dan etika. Bila ini tidak terjadi berarti ada yang salah pada keimanan seseorang. Allah berfirman, “Bahkan yang sebenarnya, mereka mendustakan apa yang mereka belum mengetahuinya dengan sempurna, padahal belum datang kepada mereka penjelasannya. Demikianlah orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (rasul).

Maka perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang zalim itu.” (Yunus: 39).
Banyak model manusia yang berpaling dari kebenaran karena sebab ini, baik karena menginginkan keduniaan dengan menjual agama, demi harta, kedudukan, reputasi dan semacamnya. Contoh:  (At-Taubah: 75-77). Ibnul Jauzi mengatakan, “Aku melihat sebab kegelisahan dan kesedihan adalah berpaling dari Allah dan cenderung kepada dunia.”

2.    Lebih bangga dengan ilmunya dan fanatik terhadap ulama tertentu. Allah berfirman, “Maka tatkala datang kepada mereka Rasul-rasul (yang diutus kepada) mereka dengan membawa keterangan-keterangan, mereka merasa senang dengan pengetahuan yang ada pada mereka dan mereka dikepung oleh azab Allah yang selalu mereka lecehkan itu.” (Al-Mukmin: 83).

Mereka merasa senang dengan pengetahuan yang ada pada mereka Maksudnya ialah bahwa mereka sudah merasa cukup dengan ilmu pengetahuan yang ada pada mereka dan tidak merasa perlu lagi dengan ilmu pengetahuan yang diajarkan oleh Rasul-rasul mereka. malah mereka memandang enteng dan melecehkan keterangan yang dibawa Rasul-rasul itu.

3.    Harapan terhadap Allah lebih dominan daripada perasaan takut terhadap siksa-Nya, atau sebaliknya.
Ini adalah penyakit yang banyak menimpa umat. Imam Ghazali mengatakan dalam kitab Al-Ihya, “Awal jauhnya seseorang dari Allah adalah maksiat dan berpaling dari-Nya demi mengejar keuntungan sesaat dan godaan dunia, yang tidak pada tempatnya.”
Seberapa kuat seorang muslim bertahan pada kebenaran?

Kebanyakan kitab tafsir menyebutkan, ayat 115 surat An-Nisa’ ini berkenaan dengan seseorang yang disebut Tu’mah yang masuk Islam, kemudian mencuri dan harus dipotong tangannya. Karena malu, ia memisahkan diri dari kaum muslimin dan bergabung dengan kaum musyrikin di Mekkah.

Konsisten di jalan kebenaran memang tidak mudah. Sejarah sejak Nabi Nuh menunjukkan bahwa pelaku kebenaran selalu dihadapkan pada ujian yang berat. Itulah sebabnya ketika Khabbab mengadukan penderitaan yang harus ditanggung, padahal ia berada dalam kebenaran, Rasul shallallaahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Sesungguhnya di antara orang-orang sebelum kalian, ada yang diletakkan gergaji di atas tubuhnya lalu digergaji hingga terbelah sampai kedua kakinya, namun itu tidak membuatnya berpaling dari agamanya. Ada pula yang tubuhnya disisir dengan sisir besi, sehingga terpisah antara daging dan tulangnya semua itu tidak membuatnya berpaling dari agamanya, tetapi kalian tergesa-gesa.” (HR. Bukhari, Nasai, dan Ibnu Majah)

Al-Qusyairi ketika menafsirkan surah Jin ayat kedelapan, mengatakan, “Istiqamah di jalan kebenaran mengakibatkan sempurnanya nikmat dan ketenangan, sedangkan berpaling dari Allah berakibat sempitnya hidup dan kesengsaraan yang tidak berakhir.” (Tafsir Al-Qusyairi, VII/488).

Banyak contoh orang yang berpaling dari kebenaran setelah mengetahuinya, namun teladan tentang orang-orang yang tetap bertahan pada kebenaran tetap ada sejak dahulu sampai bumi ini diwarisi oleh Allah, sesuai sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam. Yusuf as., misalnya, kebenaran selalu menjadi dasar perbuatannya, baik ketika menjadi budak, di penjara, hingga menjadi penguasa. Dan ini berbuah manisnya kehidupan di dunia dan akhirat, karena Allah tidak akan menyia-nyiakan kebaikan orang yang beriman, “Sesungguhnya barang siapa yang bertakwa dan bersabar, maka Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.” (Yusuf: 90).

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barang siapa dikehendaki kebaikan oleh Allah, Dia akan memberikan musibah kepadanya.” (HR. Bukhari).

Jadi, bisa disimpulkan bahwa orang yang berkomitmen pada kebenaran akan selalu berada dalam ujian sampai Allah benar-benar tahu siapakah yang terbaik amalnya. Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam memberikan wejangan bahwa amal saleh akan menyelamatkan seseorang pada masa-masa sulit:

“Segeralah beramal sebelum datangnya fitnah seperti malam yang gelap gulita. Di pagi hari seorang laki-laki dalam keadaan mukmin, lalu kafir di sore harinya. Di sore hari seorang laki-laki dalam keadaan mukmin, lalu kafir dipagi harinya. Dia menjual agamanya dengan barang kenikmatan dunia.” (HR Riwayat Muslim). Wallahu a’lam. (buah/Ibnu Yaman/kiblat.net)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s