Fikih

FIQIH QURBAN

Syawal hampir berlalu, jejak pelajaran Ramadhan tahun ini semoga bisa kita lestarikan hingga kelak menemui Ramadhan tahun depan. Sebentar lagi kita akan menjumpai waktu mengenang ketegaran salah satu suri tauladan kita Al Kholil Ibrahim ‘Alaihis Salam, bulan Dzulhijjah akan tiba, hari raya ‘Idul Adha saat melaksanakan ibadah qurban pun akan datang.
Dengan ini, kami ingin mengingatkan sejenak bahwa segala amal ibadah yang kita lakukan memiliki dua syarat yang harus kita penuhi,

1. Ikhlas, hanya diperuntukkan untuk mencari ridho Allah Subhanahu Wa Ta’ala semata.
2. Mengikuti tuntunan Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam.

Untuk itu mari kita refresh pengetahuan kita seputar petunjuk-petunjuk Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam dalam melaksanakan ibadah qurban.

Definisi Udhhiyah dan Qurban

Dalam istilah ilmu fiqih hewan qurban biasa disebut dengan nama Al Udhhiyah yang bentuk jamaknya Al Adhaahi.

Pengertian Al Udhhiyah adalah hewan ternak yang disembelih pada hari ‘Idul Adha dan hari Tasyriq dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah karena datangnya hari raya tersebut (Al Wajiz hal.405 dan Shahih Fiqih Sunnah jilid II,hal.366)

Sedangkan Qurban berasal dari kata qurbah yang artinya dekat, dengan kata lain qurban berarti mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Dari definisi diatas jelaslah kesalahan sebagian kaum Muslimin menyamakan istilah korban dalam bahasa Indonesia dengan qurban, karena maknanya berbeda walaupun ada sangkut pautnya dalam hal mengorbankan harta untuk dibelikan hewan qurban yang akan disembelih.

Hukum Qurban

Hukum melaksanakan qurban, dalam hal ini para ulama terbagi dalam dua pendapat,

Pertama, wajib bagi orang yang berkelapangan. Ulama yang berpendapat demikian adalah Rabi’ah (guru Imam Malik), Al Auza’i, Abu Hanifah, Imam Ahmad dalam salah satu pendapatnya, Laits bin Sa’ad serta sebagian ulama pengikut Imam Malik, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, dan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin Rahimahumullah. Syaikh Ibnu ‘Utsaimin berkata“Pendapat yang menyatakan wajib itu tampak lebih kuat dari pada pendapat yang menyatakan tidak wajib. Akan tetapi hal itu hanya diwajibkan bagi yang mampu…” (Syarhul Mumti’ jilid III,hal.408). Diantara dalilnya adalah,

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ

“Maka sholatlah menghadap Robbmu dan berqurbanlah” (Al Kautsar 2)

Hadits Abu Hurairah yang menyatakan bahwa Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam  bersabda,

“Barangsiapa yang berkelapangan (harta) namun tidak mau berqurban maka jangan sekali-kali mendekati tempat shalat kami.” (HR. Ibnu Majah no.3123, Al Hakim no.7672)

Kedua, menyatakan Sunnah Mu’akadah (ditekankan). Dan ini adalah pendapat mayoritas ulama yaitu Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad, Ibnu Hazm dan lain-lain. Ulama yang mengambil pendapat ini berdalil dengan riwayat dari Abu Mas’ud Al Anshari radhiyallahu ‘anhu. Beliau mengatakan, “Sesungguhnya aku sedang tidak akan berqurban. Padahal aku adalah orang yang berkelapangan. Itu kulakukan karena aku khawatir kalau-kalau tetanggaku mengira qurban itu adalah wajib bagiku.” (HR. Abdur Razzaq no.8149, Al Baihaqi jilid IX hal.265 dengan sanad shahih).

Demikian pula dikatakan oleh Abu Sarihah, “Aku melihat Abu Bakar dan Umar Radhiallahu’anhuma, mereka berdua tidak berqurban.” (HR. Abdur Razzaaq no. 8139, Al Baihaqi jilid IX hal.269, sanadnya shahih) Ibnu Hazm berkata, “Tidak ada riwayat shahih dari seorang sahabat pun yang menyatakan bahwa qurban itu wajib.” (Shahih Fiqih Sunnah jilid II hal.367-368, Taudhihul Ahkam jilid IV hal.454).

Dalil-dalil di atas merupakan dalil pokok yang digunakan masing-masing pendapat. Jika dijabarkan semuanya menunjukkan masing-masing pendapat sama kuat. Sebagian ulama memberikan jalan keluar dari perselisihan dengan menasehatkan “…selayaknya bagi mereka yang mampu, tidak meninggalkan berqurban. Karena dengan berqurban akan lebih menenangkan hati dan melepaskan tanggungan, Wallahu A’lam.” (Tafsir Adwa’ul Bayan, 1120)

Keutamaan Berqurban

Menyembelih qurban termasuk amal shalih yang paling utama. Ibunda ‘Aisyah Radhiallahu’anha menceritakan bahwa Nabi Shalallahu’alaihi Wasallam  bersabda,

“Tidaklah anak Adam melakukan suatu amalan pada hari Nahr (‘Idul Adha) yang lebih dicintai oleh Allah melebihi mengalirkan darah (qurban), maka hendaknya kalian merasa senang karenanya.” (HR.Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al Hakim dengan sanad shahih, Taudhihul Ahkam, jilid IV no.450), namun hadits di atas didhaifkan oleh Syaikh Al Albani (Dhaif Ibnu Majah no.671).

Namun kegoncangan hadits di atas tidaklah menyebabkan hilangnya keutamaan berqurban. Banyak ulama menjelaskan bahwa menyembelih hewan qurban pada hari ‘Idul Adlha lebih utama dari pada sedekah yang senilai atau harga hewan qurban atau bahkan sedekah yang lebih banyak dari pada nilai hewan qurban. Karena maksud terpenting dalam berqurban adalah mendekatkan diri kepada Allah. Disamping itu, menyembelih qurban lebih menampakkan syi’ar Islam dan lebih sesuai dengan sunnah. (Shahih Fiqih Sunnah jilid 2 hal.379 & Syarhul Mumthi’ jilid 7 hal.521)

Hikmah Disyari’atkannya Qurban

Setiap amal sholih yang disyariatkan dalam Islam memiliki hikmah dan pelajaran yang bisa diambil oleh kaum Muslimin, demikian pula dengan ibadah qurban. Ibadah yang satu ini memiliki banyak hikmah yang dapat kita ambil, diantaranya,

1. Mengingat kesungguhan dan keikhlasan Al Khalil Ibrahim ‘Alaihis Salam dalam menta’ati perintah Allah Azza Wa Jalla, bahkan sampai harus mengorbankan anaknya sendiri, namun Allah Subhanahu Wa Ta’ala menggantikan anaknya Isma’il ‘Alaihis Salam dengan seekor qibas. Maka selayaknya seorang Muslim meneladani hal ini dalam menta’ati perintah Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

2. Mengajarkan bahwa penyembelihan adalah cara menghalalkan hewan sembelihan untuk dimakan karena dengan penyembelihan mengalirlah darah dari hewan yang disembelih sehingga tidak ikut termakan, jika darah hewan yang mengalir termakan maka itu haram hukumnya dan berakibat buruk, sementara Allah Azza Wa Jalla hanya menghalalkan yang baik-baik sebagaimana firmanNya,

يَسْأَلُونَكَ مَاذَا أُحِلَّ لَهُمْ قُلْ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ

“Mereka menanyakan kepadamu ’apa yang dihalalkan bagi mereka ?’ Katakanlah ‘Dihalalkan bagi kamu yang baik-baik’…” (QS. Al Maidah: 4)

3. Mengingatkan kepada kita untuk meninggalkan amalan orang-orang musyrik, yaitu menyembelih tanpa menyebut nama Allah Azza Wa Jalla,

وَلاَ تَأْكُلُواْ مِمَّا لَمْ يُذْكَرِ اسْمُ اللّهِ عَلَيْهِ وَإِنَّهُ لَفِسْقٌ وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَى أَوْلِيَآئِهِمْ لِيُجَادِلُوكُمْ وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ

“Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya . Sesungguhnya perbuatan yang semacam itu adalah suatu kefasikan. Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik”

4. Mengajarkan kepada kita untuk bersyukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala atas limpahan rizki yang diberikan kepada kita melalui ibadah qurban.

5. Mengajarkan kita untuk berbagi kegembiraan kepada sesama Muslim dengan membagikan daging hewan sembelihan.

Hewan Yang Boleh Digunakan Untuk Qurban

Hewan yang boleh digunakan untuk qurban hanya dari kalangan Bahiimah Al An’am (hewan ternak tertentu) yaitu onta, sapi atau kambing dan tidak boleh selain itu. Bahkan sekelompok ulama menukilkan adanya ijma’ (kesepakatan) bahwasanya qurban tidak sah kecuali dengan hewan-hewan tersebut (Shahih Fiqih Sunnah jilid II hal. 369, Al Wajiz hal.406) Dalilnya adalah firman Allah Azza Wa Jalla ,

وَلِكُلِّ أُمَّةٍ جَعَلْنَا مَنسَكاً لِيَذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَى مَا رَزَقَهُم مِّن بَهِيمَةِ الْأَنْعَامِ فَإِلَهُكُمْ إِلَهٌ وَاحِدٌ فَلَهُ أَسْلِمُوا وَبَشِّرِ الْمُخْبِتِينَ

“Dan bagi setiap umat Kami berikan tuntunan berqurban agar kalian mengingat nama Allah atas rizki yang dilimpahkan kepada kalian berupa hewan-hewan ternak (bahiimatul an’aam).” (QS. Al Hajj 34).

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin mengatakan, “Bahkan jika seandainya ada orang yang berqurban dengan jenis hewan lain yang lebih mahal dari pada jenis ternak tersebut maka qurbannya tidak sah. Andaikan dia lebih memilih untuk berqurban seekor kuda seharga 10.000 real sedangkan seekor kambing harganya hanya 300 real maka qurbannya (dengan kuda) itu tidak sah…” (Syarhul Mumti’ ‘Ala Zaadil Mustaqni jilid III hal.409)

Umur Hewan Qurban

Untuk onta dan sapi, Jabir Radhiallahu’anhu meriwayatkan Rasulullah  Shalallahu’alaihi Wasallam bersabda,

“Janganlah kalian menyembelih (qurban)kecuali musinnah. Kecuali apabila itu menyulitkan bagi kalian maka kalian boleh menyembelih domba jadza’ah.” (Muttafaq ‘alaih)

Musinnah adalah hewan ternak yang sudah dewasa, dengan rincian,

Umur Minimal

1. Onta 5 tahun
2. Sapi 2 tahun
3. Kambing jawa 1 tahun
4. Domba/ kambing gembel 6 bulan (domba Jadza’ah)
(Shahih Fiqih Sunnah, jilid II, hal.371-372, Syarhul Mumti’, jilid III, hal 410,
Taudhihul Ahkaam, jilid IV, hal.461)

Ketentuan Untuk Sapi & Onta Seekor

Sapi dijadikan qurban untuk tujuh orang. Sedangkan seekor onta untuk sepuluh orang.

Dari Ibnu Abbas Radhiallahu’anhuma beliau mengatakan,

“Dahulu kami pernah bersafar bersama Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam  lalu tibalah hari raya ‘Idul Adha maka kami pun berserikat sepuluh orang untuk qurban seekor onta. Sedangkan untuk seekor sapi kami berserikat sebanyak tujuh orang.”

(HR.Ibnu Majah no.2536, Al Wajiz, hal. 406)

Dalam masalah pahala, ketentuan qurban sapi sama dengan ketentuan qurban kambing. Artinya urunan tujuh orang untuk qurban seekor sapi, pahalanya mencakup seluruh anggota keluarga dari tujuh orang yang ikut urunan.

Cacat Hewan Qurban

Nabi Shalallahu’alaihi Wasallam ditanya tentang cacat hewan apa yang harus dihindari ketika berqurban. Beliau menjawab: “Ada empat cacat… dan beliau berisyarat dengan tangannya.” (HR. Ahmad jilid IV hal.300 dan Abu Dawud no.2802)

Cacat hewan qurban dibagi menjadi tiga:

1. Cacat yang menyebabkan tidak sah untuk berqurban, ada empat:
a. Buta sebelah dan jelas sekali kebutaannya, jika butanya belum jelas (orang yang melihatnya menilai belum buta) meskipun pada hakekatnya kambing tersebut satu matanya tidak berfungsi maka boleh diqurbankan. Demikian pula hewan yang rabun senja. Ulama Syafi’iyah menegaskan hewan yang rabun boleh digunakan untuk qurban karena bukan termasuk hewan yang buta sebelah matanya.

b. Sakit dan tampak sekali sakitnya,

c. Pincang dan tampak jelas pincangnya, Artinya pincang dan tidakbisa berjalan normal. Akan tetapi  jika baru kelihatan pincang namun bisa berjalan dengan baik maka boleh dijadikan hewan qurban.

d. Sangat tua sampai-sampai tidak punya sumsum tulang. Dan jika ada hewan yang cacatnya lebih parah dari 4 jenis cacat di atas maka lebih tidak boleh untuk digunakan berqurban. (Shahih Fiqih Sunnah, jilid II hal.373 & Syarhul Mumti’ jilid III hal.294).

2. Cacat yang menyebabkan makruh untuk berqurban, ada dua :

a. Sebagian atau keseluruhan telinganya terpotong
b. Tanduknya pecah atau patah

Adapun pelarangan dua cacat diatas tidak berdasarkan kepada hadits yang shahih, maka para ulama hanya memasukkan kepada kemakruhan.

Selain enam jenis cacat diatas maka tidak berpengaruh terhadap keabsahan hewan qurban seperti tidak bergigi (ompong), kuping putus sebagian atau semuanya, dan lain-lain. (Shahih Fiqih Sunnah, jilid II hal.373)

Hewan yang Disukai dan Lebih Utama untuk Diqurbankan

Hendaknya hewan yang diqurbankan adalah hewan yang gemuk dan sempurna. Dalilnya adalah firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang artinya,

“…barangsiapayang mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah maka sesungguhnya itu adalah berasal dariketakwaan hati.” (QS. Al Hajj: 32).

Berdasarkan ayat ini Imam Syafi’i Rahimahullah menyatakan bahwa orang yang berqurban disunnahkan untuk memilih hewan qurban yang besar dan gemuk.

Abu Umamah bin Sahl mengatakan, “Dahulu kami di Madinah biasa memilih hewan yang gemuk dalam berqurban. Dan memang kebiasaan kaum muslimin ketika itu adalah berqurban dengan hewan yang gemuk-gemuk.” (HR. Bukhari secara mu’allaq namun secara tegas dan dimaushulkan oleh Abu Nu’aim dalam Al Mustakhraj, sanadnya hasan)

Diantara ketiga jenis hewan qurban maka menurut mayoritas ulama yang paling utama adalah berqurban dengan onta, kemudian sapi kemudian kambing, jika biaya pengadaan masing-masing ditanggung satu orang (bukan urunan). Dalilnya adalah jawaban Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ditanya oleh Abu Dzar Radhiallahu ‘anhu tentang budak yang lebih utama. Beliau bersabda, “Yaitu budak yang lebih mahal dan lebih bernilai dalam pandangan pemiliknya” (HR. Bukhari dan Muslim). (ShahihFiqih Sunnah, jilid II hal.374)

Hal yang juga perlu diperhatikan, apakah harus hewan yang berkelamin jantan ?, dalam hal ini tidak ada pengharusan hewan berkelamin jantan, berdasarkan sabda Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam,

“Aqiqah untuk anak laki-laki dua kambing dan anak perempuan satu kambing. Tidak jadi masalah jantan maupun betina.” (HR. Ahmad no.27900 & An Nasa’i no.4218 dan dishahihkan Syaikh Al Albani).

Berdasarkan hadis ini, Al Fairuz Abadzi As Syafi’i mengatakan: “Jika dibolehkan menggunakan hewan betina ketika aqiqah berdasarkan hadis ini, menunjukkan bahwa hal ini juga boleh untuk berqurban.” (Al Muhadzab jilid I hal.74). Namun umumnya hewan jantan itu lebih baik dan lebih mahal dibandingkan hewan betina. Oleh karena itu, tidak harus hewan jantan namun diutamakan jantan.

Larangan Bagi yang Hendak Berqurban

Orang yang hendak berqurban dilarang memotong kuku dan memotong rambutnya (yaitu orang yang hendak qurban bukan hewan qurbannya). Berdasarkan hadits Ummu Salamah dari Nabi Shalallahu’alaihi Wasallam beliau bersabda, “Apabila engkau telah memasuki sepuluh hari pertama (bulan Zulhijjah) sedangkan diantara kalian ingin berqurban maka janganlah dia menyentuh sedikitpun bagian dari rambut dan kulitnya.” (HR. Muslim).

Larangan tersebut berlaku untuk cara apapun dan untuk bagian manapun, mencakup larangan mencukur gundul atau sebagian saja, atau sekedar mencabutinya. Baik rambut itu tumbuh di kepala,kumis, sekitar kemaluan maupun di ketiak (lihat Shahih Fiqih Sunnah,jilid II hal.376).

Apakah larangan ini hanya berlaku untuk kepala keluarga ataukah berlaku juga untuk anggota keluarga shohibul qurban?  Larangan ini hanya berlaku untuk kepala keluarga (shohibul qurban) dan tidak berlaku bagi anggota keluarganya. Karena 2 alasan,

1. Zhahir hadis menunjukkan bahwa larangan ini hanya berlaku untuk yang mau berqurban.

2. Nabi Shalallahu’alaihi Wasallam sering berqurban untuk dirinya dan keluarganya. Namun belum ditemukan riwayat bahwasanya beliau menyuruh anggota keluarganya untuk tidak memotong kuku maupun rambutnya. (Syarhul Mumti’ jilid VII hal.529)

Waktu Penyembelihan

Waktu penyembelihan qurban adalah pada hari ‘Idul Adha dan 3 hari sesudahnya (hari tasyriq). Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam bersabda, “Setiap hari taysriq adalah (hari) untuk menyembelih(qurban).” (HR. Ahmad dan Baihaqi)

Tidak ada perbedaan waktu siang ataupun malam. Baik siang maupun malam sama-sama dibolehkan. Para ulama sepakat bahwa penyembelihan qurban tidak boleh dilakukan sebelum terbitnya fajar di hari ‘Idul Adha. Nabi Shalallahu’alaihi Wasallam  bersabda, “Barangsiapa yang menyembelih sebelum shalat Ied maka sesungguhnya dia menyembelih untuk dirinya sendiri (bukan qurban). Dan barangsiapa yang menyembelih sesudah shalat itu maka qurbannya sempurna dan dia telah menepati sunnahnya kaum muslimin.” (HR. Bukhari dan Muslim) (Shahih Fiqih Sunnah, jilid II hal.377)

Penyembelih Qurban

Disunnahkan bagi shohibul qurban untuk menyembelih hewan qurbannya sendiri namun boleh diwakilkan kepada orang lain. Syaikh Ali bin Hasan mengatakan, “Saya tidak mengetahui adanya perbedaan pendapat dikalangan ulama’ dalam masalah ini.” Hal ini berdasarkan hadits Ali bin Abi Thalib Radhiallahu’anhu di dalam Shahih Muslim yang menceritakan bahwa pada saat qurban Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyembelih beberapa onta qurbannya dengan tangan beliau sendiri kemudian sisanya diserahkan kepada Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu untuk disembelih. (Ahkamul Idain, hal.32)

Tata Cara Penyembelihan

1. Sebaiknya pemilik qurban menyembelih hewan qurbannya sendiri.

2. Apabila pemilik qurban tidak bisa menyembelih sendiri maka sebaiknya dia ikut datang menyaksikan penyembelihannya.

3. Hendaknya memakai alat yang tajam untuk menyembelih.

4. Hewan yang disembelih dibaringkan di atas lambung kirinya dan dihadapkan ke kiblat. Kemudian pisau ditekan kuat-kuat supaya cepat putus.

5. Ketika akan menyembelih disyari’atkan membaca “Bismillaahi Wallaahu Akbar” ketika menyembelih. Untuk bacaan bismillah (tidak perlu ditambahi Ar Rahman dan Ar Rahiim) hukumnya wajib menurut Imam Abu Hanifah, Malik dan Ahmad, sedangkan menurut Imam Syafi’i hukumnya sunnah. Adapun bacaan takbir – Allahu akbar – para ulama sepakat kalau hukum membaca takbir ketika menyembelih ini adalah sunnah dan bukan wajib.

Kemudian diikuti bacaan: hadza minka wa laka.”(HR. Abu Dawud no.2795) Atau hadza minka wa laka ‘anni atau ‘an fulan (disebutkan namashahibul qurban).”atau Berdoa agar Allah menerima qurbannya dengan doa, “Allahummataqabbal minni atau min fulan (disebutkan nama shahibul qurban)”

Catatan: Tidak terdapat do’a khusus yang panjang bagi shohibul qurban ketika hendak menyembelih. Wallahu A’lam.

Pemanfaatan Hasil Sembelihan

Bagi pemilik hewan qurban dibolehkan memanfaatkan daging qurbannya, melalui,

1. Dimakan sendiri dan keluarganya, bahkan sebagian ulama menyatakan shohibul qurban wajib makan bagian hewan qurbannya. Termasuk dalamhal ini adalah berqurban karena nadzar menurut pendapat yang benar.
2. Disedekahkan kepada orang yang membutuhkan.
3. Dihadiahkan kepada orang yang kaya
4. Disimpan untuk bahan makanan di lain hari. Namun penyimpanan ini hanya dibolehkan jika tidak terjadi musim paceklik atau krisis makanan.

Dari Salamah bin Al Akwa’ dia berkata; Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam  bersabda, “Barangsiapa diantara kalian yang berqurban maka jangan sampai dia menjumpai subuh hari ketiga sesudah ‘Id sedangkan dagingnya masih tersisa walaupun sedikit.” Ketika datang tahun berikutnya maka para sahabat mengatakan, “Wahai Rasulullah, apakah kami harus melakukan sebagaimana tahun lalu ?” Maka beliau menjawab, “(Adapun sekarang) Makanlah sebagian, sebagian lagi berikan kepada orang lain dan sebagian lagi simpanlah. Pada tahun lalu masyarakat sedang mengalami kesulitan (makanan) sehingga aku berkeinginan supaya kalian membantu mereka dalam hal itu.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Menurut mayoritas ulama perintah yang terdapat dalam hadits ini menunjukkan hukum sunnah, bukan wajib (Shahih Fiqih Sunnah,jilid II hal.378)

Oleh sebab itu, boleh mensedekahkan semua hasil sembelihan qurban. Sebagaimana diperbolehkan untuk tidak menghadiahkannya (kepada orang kaya) sama sekali kepada orang lain (Minhajul Muslim, hal.266). (artinya hanya untuk shohibul qurban dan sedekah pada orang miskin, ed.)

Bolehkah Memberikan Daging Qurban Kepada Orang Kafir?

Ulama madzhab Malikiyah berpendapat makruhnya memberikan daging qurban kepada orang kafir, sebagaimana kata Imam Malik: “(diberikan) kepada selain mereka (orang kafir) lebih aku sukai.” Sedangkan syafi’iyah berpendapat haramnya memberikan daging qurban kepada orang kafir untuk qurban yang wajib (misalnya qurban nadzar, pen.) dan makruh untuk qurban yang sunnah. (Fatwa Syabakah Islamiyah no. 29843).

Al Baijuri As Syafi’i mengatakan: “Dalam Al Majmu’ (Syarhul Muhadzab) disebutkan, boleh memberikan sebagian qurban sunnah kepada kafir dzimmi yang faqir. Tapi ketentuan ini tidak berlaku untuk qurban yang wajib.” (Hasyiyah Al Baijuri jilid II hal.310)

Larangan Memperjual-Belikan Hasil Sembelihan

Tidak diperbolehkan memperjual-belikan bagian hewan sembelihan, baik daging, kulit, kepala, teklek, bulu, tulang maupun bagian yang lainnya. Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu mengatakan, “Rasulullah Shalallahu’alaihi Wasallam  memerintahkan aku untuk mengurusi penyembelihan onta qurbannya. Beliau juga memerintahkan saya untuk membagikan semua kulit tubuh serta kulit punggungnya. Dan saya tidak diperbolehkan memberikan bagian apapun darinya kepada tukang jagal.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Bahkan terdapat ancaman keras dalam masalah ini, sebagaimana hadis dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu‘alaihi wa sallam bersabda: “Barang siapa yang menjual kulit hewan qurbannya maka ibadah qurbannya tidak ada nilainya.” (HR. Al Hakim jilid II hal.390 & Al Baihaqi, dihasankan Syaikh Al Albani).

Tetang haramnya pemilik hewan menjual kulit qurban merupakan pendapat mayoritas ulama, meskipun Imam Abu Hanifah menyelisihi mereka. Namun mengingat dalil yang sangat tegas dan jelas maka pendapatv siapapun harus disingkirkan.

Catatan:

1. Termasuk memperjualbelikan bagian hewan qurban adalah menukar kulit atau kepala dengan daging atau menjual kulit untuk kemudian dibelikan kambing. Karena hakekat jual-beli adalah tukar-menukar meskipun dengan selain uang.

2. Transaksi jual-beli kulit hewan qurban yang belum dibagikana dalah transaksi yang tidak sah. Artinya penjual tidak boleh menerima uanghasil penjualan kulit dan pembeli tidak berhak menerima kulit yang dia beli.Hal ini sebagaimana perkataan Al Baijuri: “Tidak sah jual beli (bagian dari hewan qurban) disamping transaksi ini adalah haram.” Beliau juga mengatakan: “Jual beli kulit hewan qurban juga tidak sah karena hadits yang diriwayatkan Hakim (baca: hadis di atas).” (Fiqh Syafi’i jilid II hal.311).

3. Bagi orang yang menerima kulit dibolehkan memanfaatkan kulit sesuai keinginannya, baik dijual maupun untuk pemanfaatan lainnya, karena ini sudah menjadi haknya. Sedangkan menjual kulit yang dilarang adalah menjualkulit sebelum dibagikan (disedekahkan), baik yang dilakukan panitia maupun shohibul qurban.

Larangan Mengupah Jagal Dengan Bagian Hewan Sembelihan

Dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu bahwa“Beliau pernah diperintahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengurusipenyembelihan ontanya dan agar membagikan seluruh bagian dari sembelihan ontatersebut, baik yang berupa daging, kulit tubuh maupun pelana. Dan dia tidakboleh memberikannya kepada jagal barang sedikitpun.” (HR. Bukhari dan Muslim) dan dalam lafaz lainnya beliau berkata, “Kami mengupahnya dari uang kami pribadi.” (HR. Muslim).

Dan ini merupakan pendapat mayoritas ulama (lihat Shahih Fiqih Sunnah jilid II hal.379) Syaikh Abdullah Al Bassam mengatakan, “Tukang jagal tidak boleh diberi daging atau kulitnya sebagai bentuk upah atas pekerjaannya. Hal ini berdasarkan kesepakatan para ulama. Yang diperbolehkan adalah memberikannya sebagai bentuk hadiah jika dia termasuk orang kaya atau sebagaisedekah jika ternyata dia adalah miskin..” (Taudhihul Ahkam jilid IV hal.464). Pernyataan beliau semakna dengan pernyataan Ibnu Qosim yang mengatakan: “Haram menjadikan bagian hewan qurban sebagai upah bagi jagal.” Perkataan beliau ini dikomentari oleh Al Baijuri: “Karena hal itu (mengupah jagal) semakna dengan jual beli. Namun jika jagal diberi bagian dari qurban dengan status sedekah bukan upah maka tidak haram.” (Hasyiyah Al Baijuri As Syafi’i jilid II hal.311).

Adapun bagi orang yang memperoleh hadiah atau sedekah daging qurban diperbolehkan memanfaatkannya sekehendaknya, bisa dimakan, dijual atau yang lainnya. Akan tetapi tidak diperkenankan menjualnya kembali kepada orang yang memberi hadiah atau sedekah kepadanya.

Demikian pembahasan ringkas dua seri fiqih seputar ibadah qurban, semoga mulai tahun ini kita bisa menjalankan ibadah qurban lebih semangat dan sesuai dengan syariat.

Demikian penjelasan tentang Fiqih Qurban, semoga bermanfaat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s