Akidah

Tentang Bid’ah (terakhir)

Hukum Makanan Acara Yasinan dan Tahlilan

Pada dasarnya makanan atau sembelihan yang diadakan pada acara-acara pada yasinan dan tahlilan hukum asalnya adalah halal, karena sembelihan dan makanan semua kaum muslimin adalah halal, kecuali seorang yang menyembelih adalah ahli bid’ah dengan kebid’ahan yang sampai kepada derajat kekufuran, maka sembelihan-nya haram hukumnya, begitu juga yang termasuk diharamkan adalah sembelihan yang tidak disebut nama Alloh.

Sebagai misal, seseorang yang menganggap dirinya sebagai wali, meyakini bahwa dirinya tahu tentang ghoib, padahal yang tahu ghoib hanyalah Alloh, dan kemudian telah ditegakkan hujjah atasnya, dijelaskan kepadanya dalil-dalil dari Al-Qur’an dan hadits, dan dia telah mengetahui bahwa keyakinannya adalah suatu bid’ah dan kekufuran, akan tetapi dia tetap pada keyakinannya, bahkan mendakwahkan kesesatannya, sehingga para ulama’ menghukumi orang tersebut telah keluar dari Islam disebabkan bid’ahnya, maka sembelihan orang ini haram hukumnya.

Sedangkan orang-orang yang membuat aneka ragam makanan atau menyembelih binatang pada waktu mengadakan tahlilan dan yasinan, mereka bermaksud untuk bersedekah kepada masyarakat, dan tidak ditujukan kepada berhala, juga disebut nama Alloh ketika menyembelih, dan menggunakan alat yang tajam, hanya saja mereka menghadiahkan pahala bacaan Al-Qur’an kepada orang yang telah mati, dan ini tidak mempengaruhi kehalalan binatang yang disembelih, kecuali apabila benar-benar diyakini bahwa mereka menyembelih untuk berhala atau tidak disebut nama Alloh, atau semisal mereka yang menyembelih binatang dengan keyakinan bahwa menyembelih pada acara kematian hari ketiga, tujuh, empat puluh, dan seterusnya kalau diperuntukkan jin-jin, arwah-arwah gentayangan, atau penghuni-penghuni yang ditakutkan akan mengancam mereka (dan ini termasuk sembelihan/ibadah kepada selain Alloh ), maka hukumnya menjadi haram.

Akan tetapi, apabila dalam penerimaan makanan acara-acara bid’ah terdapat mafsadat, seperti anggapan orang bahwa apabila menerima makanannya berarti mendukung dan membolehkan acara tersebut, maka haram bagi kita untuk menerima makanan tersebut. Atau seandainya dengan menolak makanan tersebut menyebabkan orang menjadi tahu bid’ahnya tahlilan, kenduri dan sejenisnya, maka menerimanya adalah haram dan menolaknya wajib, karena ini termasuk mengingkari sebuah kemungkaran.

Sungkan, Sebab Banyak Pelanggaran

Mengenai masalah ini, kita pinjam penjelasan Abu Umar Abdillah dalam risalahnya. Sebagai orang jawa budaya sungkan sangat kental sekali, padahal rasa sungkan bukan saja menghalangi banyak kebaikan, tapi juga menjadi penyebab terjadinya banyak pelanggaran. Banyak orang yang secara ilmu sudah paham tentang haramnya sesuatu, tapi belum bisa meninggalkannya karena sungkan, takut menyinggung perasaan orang, atau khawatir penghargaan orang kepadanya menjadi berkurang. Menghadiri pesta yang menggelar kemungkaran, tahlilan, yasinan, kenduri, sepasaran, berpartisipasi dalam tradisi kesyirikan, berjabat tangan dengan lawan jenis yang bukan mahram dan masih banyak kasus lain yang hampir kita jumpai setiap hari. Sebagian orang melakukan bukan karena tidak tahu, tapi karena rasa sungkan untuk mengatakan “ tidak ! “ terhadap bid’ah dan kemaksiatan.

Beralasan ‘ menjaga perasaan orang ‘ tidaklah tepat dalam konteks ini. Karena resiko yang dihadapi terlalu besar dari sekedar menjaga perasaan orang. Adalah suatu kebodohan jika seseorang mencari ridho manusia dengan cara mengundang murka Alloh. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab menyebutkan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah,

“Barangsiapa yang berupaya meraih ridho Alloh hingga membuat manusia marah, maka Alloh akan meridhainya, dan akan membuat manusia ridho terhadapnya. Dan barangsiapa yang ingin mendapatkan ridho dari manusia dengan mengundang kemurkaan Alloh, maka Alloh akan murka kepadanya, dan akan membuat orang-orang marah padanya “.

Begitu banyak kebaikan yang hilang karena sungkan, demikian banyak pula pelanggaran dilakukan karena sungkan. Karenanya, sudah saatnya kita enyahkan rasa sungkan dalam melakukan kebaikan dan menjauhi bid’ah serta kemaksiatan.

Semoga yang sedikit ini bermanfaat dan menjadi evaluasi, untuk selanjutnya menjadi motifasi dalam kita beramal.

“ Ya Alloh, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak pernah khusyu’, nafsu yang tidak pernah kenyang, dan do’a yang tidak pernah dikabulkan “. Wallahu a’lam.

Maroji’ :
1. Abu Ibrahim Muhammad Ali bin A. Mutholib . Penjelasan Gamblang Seputar Yasinan, Tahlilan dan Selamatan . Cet. V . Surakarta : Pustaka Al-Umat . 2006.
2. Abu Umar Abdillah . Bid’ah dan Khurafat di Indonesia . Cet. I . Klaten : Wafa’ Press . 2009.
3. Abu Umar Abdillah . Sungkan Penghalang Banyak Kebaikan . Majalah Ar – Risalah . Edisi Mei . No. 95 . Volume VIII . 2009 .
4. Al – Imam Abul Fida Ismail Ibnu Katsir Ad – Dimasyqi . Tafsir Ibnu Katsir Edisi Terjemah. Cet. III . Bandung : Sinar Baru Algesindo . 2004
5. Hamka . Tasawuf : Perkembangan dan Pemurniannya . Jakarta : Panjimas . 1993 .
6. Ibrahim bin Muhammad . Ma Yanfa’ al-Muslim Ba’da Wafatih ( Edisi terjemah : Menolong Arwah Sesuai Sunnah ) . Cet. I . Klaten : Wafa’ Press . 2009.
7. Ibnu Qayyim Al-Jauzi . Zadul Ma’ad . Cet. I . Jakarta : Pustaka Al-Kautsar. 1999
8. Ibnu Qayyim Al-Jauzi . Mawaridul Aman Al-Muntaqa min Ighatsatul Lahfan fi Mashayidisy Syaithan . ( Edisi terjemah : Manajemen Qalbu ; Melumpuhkan Senjata Syetan ) . Jakarta : Darul Falah . 2005.
9. Imam Adz-Dzahabi . Al-Kaba’ir ( Edisi terjemah : Dosa-dosa Besar ) . Solo : Pustaka Arafah . 2007.
10. Imam Syafi’i . Ar – Risalah ( Edisi terjemah : Ar – Risalah ) . Cet . I . Jakarta : Pustaka Azzam . 2008
11. Saifullah . Gerakan Politik Muhammadiyah Dalam Masyumi . Jakarta : Pustaka Grafiti . 1997.
12. Syaikh Muhammad Abdussalam . As-Sunan wa al-Mubtada’at al-Muta’alliqah bi al-Adzkar wa ash-Shalawat Edisi terjemah : Bid’ah-bid’ah yang dianggap sunnah ) . Cet. X . Jakarta : Pustaka Qisti . 2006.
13. Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab . At-Tibyan Syarhu Nawaqidhil Islam ( Edisi terjemah : Kupas Tuntas 10 Pembatal Keislaman ) . Cet. I . Klaten : Inas Media . 2008.
14. Taufik Abdullah . Islam di Indonesia . Jakarta : Tintamas . 1974 .
15. Yazid bin Abdul Qadir Jawas . Yasinan . Cet. III . Jakarta : Pustaka Abdullah . 2005.
16. Zakiyuddin Baidhawi, dkk . Studi Kemuhammadiyahan . Surakarta : Lembaga Studi Islam . 2001

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s