Akidah

JIKA MASIH ADA YANG MEMPERTANYAKAN BAHAYA BID’AH 3

Bid’ah Adalah Musibah

Berkembangnya bid’ah-bid’ah adalah musibah. Bahkan tak ada yang lebih menyesakkan dada para ulama’ melebihi kesedihan mereka ketika melihat munculnya bid’ah. Karenanya Ibnul Mubarok yang dikenal sebagai Amirul Mukminin fil hadits di zaman salaf berkata, “ Kita mengadu kepada Alloh akan perkara besar yang menimpa umat ini, yakni wafatnya para ulama dan orang-orang yang berpegang kepada Sunnah, serta bermunculannya bid’ah-bid’ah “. Bahkan Abu Idris Al-Khaulani berkata, “ Sungguh melihat api yang tak bisa kupadamkan lebih baik bagiku daripada melihat bid’ah yang tak mampu aku ubah “.

Itulah gambaran keprihatinan para ulama’ terhadap munculnya bid’ah. Karena bid’ah telah menciderai Islam yang hakikatnya telah sempurna. Makanya Imam Malik berkata, “ Barangsiapa membuat perkara bid’ah dalam Islam yang dianggap baik, berarti dia telah menuduh Muhammad SAW telah menghianati risalah. Karena Alloh subhaanahu wata’aala berfirman, ‘Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kalian agama kalian’. Jadi segala perkara yang pada saat itu bukan menjadi bagian agama, maka tidak akan menjadi bagian agama pula hari ini “. Bisa jadi mereka tidak menuduh dengan lisannya, tapi dengan perbuatan bid’ahnya, seakan berkata, “ Amalan ini baik, dan merupakan bagian dari Islam, tapi Nabi belum menyampaikannya “.

Bid’ah juga menyebabkan pelakunya semakin jauh dari Alloh. Semakin rajin bid’ahnya, semakin jauh dari Alloh. Hasan Al- Basri mengungkapkan, “ Bagi para pelaku bid’ah, bertambahnya kesungguhan ibadah ( yang dilandasi bid’ah ), hanya akan menambah jauhnya ia kepada Alloh “. Karena pentingnya kewaspadaan yang mendalam terhadap masalah ini, hingga Nabi menyampaikan dalam khutbah, “ Seburuk-buruk urusan adalah perkara yang diada-adakan dan setiap yang diada-adakan (dalam agama) adalah bid’ah “. Bahkan ketika mendekati wafatnya, Nabi memberikan beberapa wasiat, di antaranya, “ Jauhilah oleh kalian perkara yang diada-adakan, karena sesungguhnya setiap perkara-perkara yang diada-adakan itu bid’ah dan setiap bid’ah itu sesat “.

Bid’ahnya Yasinan dan Tahlilan

Kata yasinan dan tahlilan seakan telah mendarah daging dihati masyarakat luas, terutama di tanah air kita Indonesia, secara umum dapat dipahami bahwa dua kata tersebut biasanya berkaitan dengan peristiwa kematian. Acara yang diadakan oleh ahli mayit ini dihadiri oleh para kerabat, tetangga, masyarakat sekitar, bahkan terkadang mendatangkan para kyai dan sesepuh yang dianggap berpengaruh di daerah tersebut, hanya saja dibeberapa tempat ada yang dibedakan/disendirikan antara yasinan yang biasa diadakan pada malam jum’at dengan tahlilan yang dikaitkan dengan hitungan perhari dari kematian atau kadang disatukan dua acara tersebut dalam satu acara. Dimulai dengan bacaan pujian, surat yasin, dzikir-dzikir, serta doa-doa yang ditujukan untuk si mayit di alam kubur.

Dinamai yasinan karena diantara bacaan-bacaannya adalah surat yasin yang menurut mereka ada berbagai keutamaan lebih dibanding surat-surat yang lain, dan dinamai tahlilan karena termasuk yang dibaca diantara dzikir-dzikirnya adalah kalimat “ La ilaha illAlloh “.

Acara ini asal-usulnya adalah warisan dari nenek moyang yang sudah berabad-abad lamanya, dan entah siapa pencetusnya, yang jelas acara ini dimaksudkan untuk mengirimkan pahala bacaan-bacaan khusus buat mayit. Acara ini telah menjadi satu keharusan yang memberatkan dan terpaksa harus diadakan oleh ahli mayit, sehingga sulit untuk dihindarkan, apalagi dihapuskan, bahkan tidak jarang diantara mereka harus berhutang kesana-kemari demi hanya untuk mengadakan acara tersebut, karena jika tidak mengadakan maka akan diasingkan, dianggap melawan adat, dan tidak bermasyarakat.

Tidak hanya cukup disitu, bahkan beberapa orang yang gemar mendatangi acara ini tidak segan-segan mengatakan ini sunnah Rosul yang seyogyanya terus dilestarikan, baik dengan menyetir hadits-hadits Nabi (padahal haditsnya lemah dan palsu),  atau menafsirkan hadits-hadits dengan penafsiran yang jauh dari kebenaran, atau sekedar mengutip fatwa-fatwa guru mereka, kemudian menyandarkan bahwa acara seperti ini adalah termasuk ciri khas dari penganut mazhab Syafi’i.

Berikut akan kami tuliskan beberapa hadits yang biasa dijadikan hujjah oleh orang-orang yang membolehkan yasinan, diantaranya :

a. “ Barangsiapa yang membaca surat yasin pada malam jum’at, maka dia akan diampuni (dosanya)”. Keterangan : hadits ini derajatnya maudhu’ / palsu, terdapat dalam kitab at Targhib wa at Tarhib oleh al-Asfahani, didalam sanadnya terdapat seorang perawi mungkarul hadits yang bernama Aghlab bin Tamim ( lihat silsilah Al-Ahadits Adh-dho’ifaf no. 5111 ). Dan juga hadits-hadits yang semakna dengan diatas.

b. “ Sesungguhnya segala sesuatu pasti mempunyai hati, dan hatinya Al-Qur’an adalah surat yasin, barangsiapa membaca surat yasin, maka Alloh akan memberi ganjaran seperti membaca Al-Qur’an sepuluh kali “.

Keterangan : hadits ini derajatnya dho’if jiddan / lemah sekali, diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dalam sunannya no. 3048, didalamnya ada seorang perawi yang tidak dikenal bernama “ Harun Abu Muhammad “, maka hadits ini tidak dapat diterima. ( lihat silsilah Al-Ahadits Adh-dho’ifaf no. 169 ).

c. “ Bacakan surat yasin buat orang mati diantara kalian “. Keterangan : hadits ini derajatnya dho’if / lemah, diriwayatkan oleh Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Nasa’i, didalamnya ada seorang perawi yang tidak dikenal bernama Abu Utsman, sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Munzir dalam Aunul Ma’bud Syarh Abu Dawud 8/390. Begitu pula yang dijelaskan oleh Imam Nawawi, bahkan beliau menambahkan bahwa dalam hadits ini ada dua perawi hadits ini yang tidak dikenal, yaitu “ Abu Utsman “ dan “ Bapaknya “ keduanya adalah perawi majhul / tidak dikenal. ( lihat Al-Adhkar hal. 122 ).

d. “Tidak seorang pun yang akan mati, lalu dibacakan buatnya surat yasin, kecuali pasti diringankan / dimudahkan kematiannya “. Keterangan : hadits ini derajat-nya maudhu’ / palsu, diriwayatkan oleh abu Nu’aim dalam Akhbar al-Asbahah 1 / 188, didalamnya ada seorang perawi yang suka memalsukan hadits yang bernama, “ Marwan bin Salim Al-Jazali “, Imam Bukhori dan Muslim mengata-kan bahwa Marwan bin Salim dalam periwayatan hadits tergolong mungkarul hadits. ( lihat Mizanul I’tidal 4 / 90 ).

Sebenarnya masih banyak hadits-hadits lemah atau palsu yang sering dijadikan hujjah oleh para ahli bid’ah, tapi keempat hadits ini cukup mewakili.

Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa hadits-hadits yang menerangkan adanya fadhilah / keutamaan surat yasin semuanya tidak bisa dipakai, karena semua haditsnya tidak lepas dari derajat lemah bahkan palsu sehingga tidak sah untuk melegitimasi (membenarkan) acara yasinan yang diadakan baik mingguan, bulanan atau selainnya.

Lalu bagaimana dengan masalah tahlilan ? Hampir disetiap adanya kematian selalu diiringi acara tahlilan, yang dimaksud adalah acara jamuan makan yang diiringi bacaan Al-Qur’an, dzikir-dzikir diantara-nya adalah ucapan “ La ilaha illAlloh “ ( inilah yang dinamai tahlil ), sholawat atau doa-doa untuk si mayit yang diselenggarakan oleh keluarga yang berduka, dihadiri handai tolan dan masyarakat sekitar, baik ketika hari kematiannya, diteruskan sampai hari ketujuh, hari keempat puluh, hari keseratusnya, atau ditepatkan satu tahunnya atau seribu hari dari kematiannya dan seterusnya. Menurut pengakuan orang-orang yang membolehkan tahlilan, ada beberapa argumen baik naqli ( dalil syar’i ) ataupun aqli ( dalil akal ).

A.Berdasarkan Dalil Naqli ( alasan berdasarkan dalil syari’at ).
Sebagaimana hadits yang diriwayatkan Abu Dawud 2/244, hadits yang mana diceritakan didalamnya oleh seorang sahabat Nabi dari kalangan Anshor ketika beliau selesai menguburkan seorang mayit bersama Rosululloh dan sedang dalam perjalanan kembali, datanglah utusan dari istri si mayit mengundang Nabi bersama sahabatnya, maka Nabi mendatangi undangan tersebut dan Nabi makan hidangan yang dihidangkan kepada beliau, kemudian diikuti oleh para sahabat yang lain.

Maka jawabannya :
1. Bahwa ternyata didalam kitab asli sunan Abi Dawud memang diriwayatkan hadits tersebut, akan tetapi redaksinya berbeda, dalam sunan Abi Dawud dikatakan bahwa yang mengundang Nabi SAW adalah seorang perempuan, bukan istri si mayit, begitu pula dalam riwayat Baihaqi, dalam Ad-Daruquthni, serta yang tertera dalam kitab Syarhu Ma’anil Atsar, semua tertera bahwa yang mengundang Nabi adalah seorang perempuan, dan tidak disebutkan bahwa dia adalah istri si mayit ( kecuali dalam kitab Misyakatul Mashobih ). Maka berarti yang mengundang Nabi dan menjamunya adalah seorang yang tidak ada kaitannya dengan si mayit, dan sama sekali ini tidak ada kaitannya dengan acara tahlilan, dan kemungkinan yang sangat jauh apabila yang mengundang Nabi adalah istri dari si mayit itu, dengan bukti para sahabat menganggap ini adalah termasuk meratap yang di haramkan dalam Islam.

2. Sudah menjadi ijma’ atau kesepakatan para sahabat Nabi, para tabi’in, dan semua Imam mazhab empat, bahwa berkumpul-kumpul dirumah orang yang sedang kematian adalah termasuk bagian dari Niyahah (meratap) yang diharamkan dalam Islam, sebagaimana dinyatakan oleh seorang sahabat yang bernama Jarir bin Abdillah Al-Bajali, beliau mengatakan, “ Kami (para sahabat Nabi) menganggap bahwa kumpul-kumpul ditempat ahli mayit dan membuat makanan setelah dikuburnya mayit termasuk niyahah / meratap “.

Seluruh perawi ( periwayat ) hadits / atsar di atas tidak satu pun yang dikritik oleh para ulama pakar hadits, bahkan semuanya adalah perawi-perawi yang dipakai oleh imam Bukhori dan imam Muslim, sehingga dapat kita pastikan keshahihan hadits / atsar tersebut.

3. Apabila ada satu kesepakatan dari kalangan sahabat, dan tidak ada satu pun dari kalangan mereka yang menyelisihinya, maka kesepakatan itu sama dengan hujjah ( dalil ) yang harus diterima oleh seorang mukmin sebagaimana menerima Al-Qur’an dan al-hadits, hal ini karena Nabi telah bersabda, “ Ummatku ini tidak akan bersepakat di atas kesesatan “.

4. Kumpul-kumpul dan makan-makan ditempat ahli mayit justru menyelisihi sunnah Nabi yang seharusnya dilaksanakan oleh para tetangga yang ada disekitar ahli mayit, karena Nabi mengajurkan para sahabatnya ketika Ja’far bin Abi Thalib meninggal dunia dengan mengatakan, “ Buatkanlah untuk keluarga Ja’far makanan, karena sesungguhnya telah datang kepada mereka satu perkara yang menyibukkan “.

5. Seluruh Imam Mazhab yang empat menolak acara seperti ini dan menegaskan bahwa itu semua adalah bid’ah yang mungkar.

B. Berdasarkan Dalil Aqli ( alasan berdasarkan akal pikiran ).
a. Tahlilan mengingatkan manusia akan kematian.
Mengingat manusia atas kematian bukan dengan cara yang mengada-ada / bid’ah, Nabi menunjukkan cara yang sangat tepat untuk manusia supaya mengingat kematian dengan sabdanya, “ Sesungguhnya aku pernah melarang kalian berziarah kubur, maka sekarang lakukanlah, karena sesungguhnya ziarah kubur dapat mengingatkan kalian pada akhirat “. Ini adalah salah satu cara yang syar’i untuk mengingatkan manusia pada kematian, atau dengan cara lain seperti kajian-kajian ilmiah, khotbah, diskusi, dan lainnya dengan tanpa mengkhususkan hari-hari atau acara tertentu seperti tahlilan.

b. Tahlilan membuat manusia tergerak untuk melaksanakan suatu ibadah.
Menggerakkan manusia supaya melakukan ibadah tidak boleh dengan cara yang bid’ah, karena asal hukum ibadah adalah tertolak kecuali ada perintah dari Alloh dan Rosul-Nya. Nabi bersabda, “ Barangsiapa berbuat suatu amalan ibadah yang tidak ada perintahnya dari Kami maka tertolak “.

c. Tahlil memperbanyak amal shalih.
Perkataan “ tahlil memperbanyak amal sholih “ dapat kita jawab dengan jawaban para sahabat yang mana mereka jelas lebih banyak amalannya dan lebih bersemangat dalam melakukan segala kebajikan dari pada kita, mereka ( para sahabat ) mengatakan, “ Melakukan amal shalih sesuai sunnah ( walau sedikit ), itu lebih baik daripada memperbanyak amalan tapi bid’ah “. Nabi juga telah menunjukkan kepada umatnya dalam masalah ini dengan sabdanya, “ Amalan yang paling dicintai oleh Alloh adalah amalan yang terus-menerus walaupun sedikit “.

d. Tahlil dapat menenangkan hati keluarga yang ditinggal si-mayit.
Telah dicontohkan oleh Nabi bagaimana kita menghibur keluarga mayit yang sedang dirundung duka, Nabi pernah ber-ta’ziyah kepada sahabatnya, dan menghibur mereka yang sedang berduka dengan perkataan-perkataan yang sekiranya dapat meringankan musibahnya dan menyuruh mereka bersabar serta ridho atas semua ketentuan Alloh, sebagaimana pernah Rosululloh mengatakan kalimat penghibur kepada salah satu keluarga yang berduka,“ Sesungguhnya milik Alloh-lah apa yang telah diambil-Nya, dan milik Alloh-lah apa yang Ia berikan, dan segala sesuatu di sisi-Nya ada waktu yang ditentukan, maka bersabarlah dan mengharaplah pahala ( dari Alloh ) “.

e. Dalam tahlilan ada anjuran untuk ahli mayit supaya bersedekah.
Bersedekah dianjurkan kapan saja, tidak ada sangkut pautnya sama kematian, justru pada saat kematian, ahli mayit sedang susah karena ditinggalkan orang yang dicintai dan membebani mereka supaya mengadakan tahlilan adalah menambah kesusahan mereka, karena mereka sudah sibuk dengan adanya kematian. Mengadakan tahlilan mau tidak mau harus mengeluarkan biaya yang besar, dan kebanyakan mereka memakai dana diambil dari harta yang ditinggal oleh si mayit, padahal harta yang ditinggal si mayit adalah hak ahli waris yang harus dibagi sesuai dengan aturan agama Islam, dan apabila mengadakan acara tersebut dengan menggunakan harta si mayit, maka ini adalah makan harta manusia dengan cara batil. Apalagi bila yang ditinggal mati diantara mereka adalah anak-anak yatim yang mana kita telah paham ancaman bagi siapa saja yang mengambil harta mereka dengan kedholiman.

f. Tahlil menjalin persatuan manusia.
Adapun yang mereka katakan bahwa tahlil dapat menyatukan manusia, maka ini adalah mengada-ada, berapa banyak manusia berseteru gara-gara acara tahlilan, sebabnya adalah mereka bertengkar tentang biaya acara tersebut, dan siapa yang akan menanggung hutang untuk acara itu, terutama apabila ahli waris si mayit hidupnya serba kekurangan. Atau kalau tidak demikian, bolehlah kita katakan mereka dapat bersatu, akan tetapi persatuan yang sementara, persatuan di atas kebatilan dan bid’ah, bukan persatuan yang terpuji bahkan dimurkai Alloh SWT. Wallahu a’lam.
( Depok, 25 Mei 2010, 16.00 Wib )

7 thoughts on “JIKA MASIH ADA YANG MEMPERTANYAKAN BAHAYA BID’AH 3

  1. Fasal tentang Tahlil (1)
    29/01/2008
    Dalam bahasa arab, Tahlil berarti menyebut kalimah “syahadah” yaitu “La ilaha illa Allah” (لااله الا الله). Definisi ini dinyatakan oleh Al-Lais dalam kitab “Lisan al-Arab”. Dalam kitab yang sama, Az-Zuhri menyatakan, maksud tahlil adalah meninggikan suara ketika menyebut kalimah Thayyibah.

    Namun kemudian kalimat tahlil menjadi sebuah istilah dari rangkaian bacaan beberapa dzikir, ayat Al-Qur’an, do’a dan menghidangkan makanan shadaqah tertentu yang dilakukan untuk mendo’akan orang yang sudah meninggal. Ketika diucapkan kata-kata tahlil pengertiannya berubah seperti istilah masyarakat itu.

    Tahlil pada mulanya ditradisikan oleh Wali Songo (sembilan pejuang Islam di tanah Jawa). Seperti yang telah kita ketahui, di antara yang paling berjasa menyebarkan ajaran Islam di Indonesia adalah Wali Songo. Keberhasilan dakwah Wali Songo ini tidak lepas dari cara dakwahnya yang mengedepankan metode kultural atau budaya.

    Wali Songo mengajarkan nilai-nilai Islam secara luwes dan tidak secara frontal menentang tradisi Hindu yang telah mengakar kuat di masyarakat, namun membiarkan tradisi itu berjalan, hanya saja isinya diganti dengan nilai Islam.

    Dalam tradisi lama, bila ada orang meninggal, maka sanak famili dan tetangga berkumpul di rumah duka. Mereka bukannya mendoakan mayit tetapi begadang dengan bermain judi atau mabuk-mabukan. Wali Songo tidak serta merta membubarkan tradisi tersebut, tetapi masyarakat dibiarkan tetap berkumpul namun acaranya diganti dengan mendoakan pada mayit. Jadi istilah tahlil seperti pengertian di atas tidak dikenal sebelum Wali Songo.

    KH Sahal Mahfud, ulama asal Kajen, Pati, Jawa Tengah, yang kini menjabat Rais Aam PBNU, berpendapat bahwa acara tahlilan yang sudah mentradisi hendaknya terus dilestarikan sebagai salah satu budaya yang bernilai islami dalam rangka melaksanakan ibadah sosial sekaligus meningkatkan dzikir kepada Allah.

    Persoalannya adalah, apakah doa orang yang bertahlil akan sampai kepada mayit dan diterima oleh Allah? Jika diperhatikan dalam hadits bahwa Nabi SAW pernah mengajarkan doa-doa yang perlu dibaca untuk mayit:

    عَنْ عَوْفٍ بْنِ مَالِكٍ أَنَّهُ قَالَ: صَلَّى النَّبِيُّ صَلَّىاللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى جَنَازَةٍ فَسَمِعْتُهُ يَقُوْلُ اللَّهُمَّ اِغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَاعْفُ عَنْهُ

    “Diriwayatkan dari ‘Auf bin Malik, ia berkata; Nabi SAW telah menunaikan shalat jenazah, aku mendengar Nabi SAW berdoa; Ya Allah!! ampunilah dia, rahmatilah dia, maafkan dia.”

    Di dalam hadis, Nabi SAW pernah menyatakan;

    يَخْرُجُ مِنَ النَّارِ مَنْ قَالَ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ

    “orang yang menyebut “la ilaha illa Allah” akan dikeluarkan dari neraka.”

    Hadis ini menyatakan tentang keselamatan mereka menyebut kalimah syahadah dengan diselamatkan dari api neraka. Jaminan ini menandakan bahwa, menyebut kalimah syahadat merupakan amalan soleh yang diakui dan diterima Allah SWT.

    Maka dengan demikian, apabila seseorang yang mengadakan tahlil, mereka berzikir dengan mengalunkan kalimah syahadah terlebih dahulu, kemudian mereka berdoa, maka amalan itu tidak bertentangan dengan syari’at, sebab bertahlil itu sebagai cara istighatsah kepada Allah agar doanya diterima untuk mayit.

    Dari hadis tersebut juga dapat diambil kesimpulan hukum bahwa, doa kepada mayit adalah ketetapan dari hadits Nabis SAW maka dengan demikian, anggapan yang mengatakan doa kepada mayit tidak sampai, merupakan pemahaman yang hanya melihat kepada zhahir nash, tanpa dilihat dari sudut batin nash. Argumentasi mereka adalah firman Allah SWT:

    وَاَنْ لَيْسَ للإنْسَانِ اِلاَّ مَاسَعَى

    “Dan tidaklah bagi seseorang kecuali apa yang telah dia kerjakan”. (QS An-Najm 53: 39)

    Juga hadits Nabi Muhammad SAW:

    اِذَامَاتَ ابْنُ ادَمَ اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ اِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ اَوْعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ اَوْوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْلَهُ

    “Jika anak Adam meningga, maka putuslah segala amal perbuatannya kecuali tiga perkara; shadaqah jariyah, ilmu yang dimanfa’atkan, dan anak shaleh yang mendo’akannya.”

    H.M.Cholil Nafis, MA.

  2. Fasal Tentang Tahlil (2)
    05/02/2008
    Mereka yang mempunyai anggapan bahwa doa kepada mayit tidak sampai sepertinya hanya secara tekstual (harfiyah) memahami suatu dalil tanpa menghubungkan dengan dalil-dalil lainnya.

    Sehingga kesimpulan yang mereka ambil mengenai do’a, bacaan Al-Qur’an, shadaqoh dan tahlil tidak berguna bagi orang yang telah meninggal. Dalam ayat lain Allah SWT menyatakan bahwa orang yang telah meninggal dapat menerima manfaat doa yang dikirimkan oleh orang yang masih hidup. Allah SWT berfirman:

    وَالَّذِيْنَ جَاءُوْامِنْ بَعْدِ هِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَااغْفِرْلَنَا وَلإخَْوَانِنَاالَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإَْيْمَانِ……

    “Dan orang-orang yang datang setelah mereka, berkata: Yaa Tuhan kami, ampunilah kami dan ampunilah saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dengan beriman.” (QS Al-Hasyr 59: 10)

    1. ٍAyat ini menunjunkkan bahwa doa generasi berikut bisa sampai kepada generasi pendahulunya yang telah meninggal. Begitu juga keterangan dalam kitab “At-Tawassul” karangan As-Syaikh Albani menyatakan: “Bertawassul yang diizinkan dalam syara’ adalah tawassul dengan nama-nama dan sifat-sifat Allah, tawassul dengan amalan soleh dan tawassul dengan doa orang shaleh.”

    2. Mukjizat para nabi, karomah para wali dan ma’unah para ulama tidak terputus dengan kematian mereka. Dalam kitab Syawahidu al Haq, karya Syeikh Yusuf Ibn Ismail an-Nabhani: 118 dinyatakan:

    وَيَجُوزُ التَّوَسُّلُ بِهِمْ إلَى اللهِ تَعَالَى ، وَالإِسْتِغَاثَةُ بِالأنْبِيَاءِ وَالمُرْسَلِيْنَ وَالعُلَمَاءِ وَالصَّالِحِيْنَ بَعْدَ مَوتِهِمْ لأَنَّ مُعْجِزَةَ الأَنْبِيَاءِ وَكَرَمَاتِ الأَولِيَاءِ لاَتَنْقَطِعُ بِالمَوتِ

    “Boleh bertawassul dengan mereka (para nabi dan wali) untuk memohon kepada Allah SWT dan boleh meminta pertolongan dengan perantara para Nabi, Rasul, para ulama dan orang-orang yang shalih setelah mereka wafat, karena mukjizat para Nabi dan karomah para wali itu tidaklah terputus sebab kematian.”(Syeikh Yusuf Ibn Ismail an-Nabhani, Syawahidul Haq, (Jakarta: Dinamika Berkah Utama, t.th), h. 118)

    3. Dasar hukum yang menerangkan bahwa pahala dari bacaan yang dilakukan oleh keluarga mayit atau orang lain itu dapat sampai kepada si mayit yang dikirimi pahala dari bacaan tersebut adalah banyak sekali. Antara lain hadits yang dikemukakan oleh Dr. Ahmad as-Syarbashi, guru besar pada Universitas al-Azhar, dalam kitabnya, Yas`aluunaka fid Diini wal Hayaah juz 1 : 442, sebagai berikut:

    وَقَدِ اسْتَدَلَّ الفُقَهَاءُ عَلَى هَذَا بِأَنَّ أَحَدَ الصَّحَابَةِ سَأَلَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّم فَقَالَ لَهُ: يَا رَسُولَ اللهِ إِنَّا نَتَصَدَّقُ عَنْ مَوتَانَا وَنُحَجُّ عَنْهُمْ وَنَدعُو لَهُمْ هَلْْ يَصِلُ ذَلِكَ إِلَيْهِمْ؟ قَالَ: نَعَمْ إِنَّهُ لَيَصِلُ إِلَيْهِمْ وَإِنَّهُمْ لَيَفْرَحُوْنَ بِهِ كَمَا يَفْرَحُ اَحَدُكُم بِالطَّبَقِ إِذَا أُهْدِيَ إِلَيْهِ!

    “Sungguh para ahli fiqh telah berargumentasi atas kiriman pahala ibadah itu dapat sampai kepada orang yang sudah meninggal dunia, dengan hadist bahwa sesungguhnya ada salah seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah saw, seraya berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami bersedekah untuk keluarga kami yang sudah mati, kami melakukan haji untuk mereka dan kami berdoa bagi mereka; apakah hal tersebut pahalanya dapat sampai kepada mereka? Rasulullah saw bersabda: Ya! Sungguh pahala dari ibadah itu benar-benar akan sampai kepada mereka dan sesungguhnya mereka itu benar-benar bergembira dengan kiriman pahala tersebut, sebagaimana salah seorang dari kamu sekalian bergembira dengan hadiah apabila hadiah tersebut dikirimkan kepadanya!”

    Sedangkan Memberi jamuan yang biasa diadakan ketika ada orang meninggal, hukumnya boleh (mubah), dan menurut mayoritas ulama bahwa memberi jamuan itu termasuk ibadah yang terpuji dan dianjurkan. Sebab, jika dilihat dari segi jamuannya termasuk sedekah yang dianjurkan oleh Islam yang pahalanya dihadiahkan pada orang telah meninggal. Dan lebih dari itu, ada tujuan lain yang ada di balik jamuan tersebut, yaitu ikramud dla`if (menghormati tamu), bersabar menghadapi musibah dan tidak menampakkan rasa susah dan gelisah kepada orang lain.

    Ketiga hal tersebut, semuanaya termasuk ibadah dan perbuatan taat yang diridlai oleh Allah AWT. Syaikh Nawawi dan Syaikh Isma’il menyatakan: “Bersedekah untuk orang yang telah meninggal dunia itu sunnah (matlub), tetapi hal itu tidak harus dikaitkan dengan hari-hari yang telah mentradisi di suatu komunitas masyarakat dan acara tersebut dimaksudkan untuk meratapi mayit.

    وَالتَّصَدُّقُ عَنِ المَيِّتِ بِوَجْهٍ شَرْعِيٍ مَطْلُوْبٌ وَلاَ يَتَقَيَّدُ بِكَوْنِهِ فِىْ سَبْعَةِ أَيَّامٍ أَوْ أَكْثَرَ أَوْ أَقَلَّ وَتَقْيِيْدُ بَعْضِ الأَيَّامِ مِنَ العَوَائِدِ فَقَطْ كَمَا أَفْتىَ بِذَالِكَ السَيِّدُ اَحْمَد دَحْلاَنْ وَقَدْ جَرَتْ عَادَةُ النَّاسِ بِالتَّصَدُّقِ عَنِ المَيِّتِ فِىْثاَلِثٍ مِنْ مَوْتِهِ وَفِىْسَابِعٍ وَفِىْ تَمَامِ العِشْرِيْنَ وَفِى الأَرْبَعِيْنَ وَفِى المِائَةِ وَبَعْدَ ذَالِكَ يَفْعَلُ كُلَّ سَنَةٍ حَوْلاً فِىْ يَوْمِ المَوْتِ

    “Memberi jamuan secara syara’ (yang pahalanya) diberikan kepada mayyit dianjurkan (sunnah). Acara tersebut tidak terikat dengan waktu tertentu seperti tujuh hari. Maka memberi jamuan pada hari ketiga, ketujuh, kedua puluh, ke empat puluh, dan tahunan (hawl) dari kematian mayyit merupakat kebiasaan (adat) saja. (Nihayatuz Zain: 281 , I’anatuth-thalibin, Juz II: 166)

    HM Cholil Nafis MA

  3. Do’a, Bacaan Al-Qur’an, Shadaqoh & Tahlil untuk Orang Mati
    02/04/2007

    Apakah do’a, bacaan Al-Qur’an, tahlil dan shadaqoh itu pahalanya akan sampai kepada orang mati? Dalam hal ini ada segolongan yang yang berkata bahwa do’a, bacaan Al-Qur’an, tahlil dan shadaqoh tidak sampai pahalanya kepada orang mati dengan alasan dalilnya, sebagai berikut:

    وَاَنْ لَيْسَ لِلْلاِءنْسنِ اِلاَّ مَاسَعَى

    “Dan tidaklah bagi seseorang kecuali apa yang telah dia kerjakan”. (QS An-Najm 53: 39)

    Juga hadits Nabi MUhammad SAW:

    اِذَامَاتَ ابْنُ ادَمَ اِنْقَطَعَ عَمَلُهُ اِلاَّ مِنْ ثَلاَثٍ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ اَوْعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ اَوْوَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُوْلَهُ

    “Apakah anak Adam mati, putuslah segala amal perbuatannya kecuali tiga perkara; shadaqoh jariyah, ilmu yang dimanfa’atkan, dan anak yang sholeh yang mendo’akan dia.”

    Mereka sepertinya, hanya secara letterlezk (harfiyah) memahami kedua dalil di atas, tanpa menghubungkan dengan dalil-dalil lain. Sehingga kesimpulan yang mereka ambil, do’a, bacaan Al-Qur’an, shadaqoh dan tahlil tidak berguna bagi orang mati. Pemahaman itu bertentangan dengan banyak ayat dan hadits Rasulullah SAW beberapa di antaranya :

    وَالَّذِيْنَ جَاءُوْامِنْ بَعْدِ هِمْ يَقُوْلُوْنَ رَبَّنَااغْفِرْلَنَا وَلاِءخْوَنِنَاالَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلاِءْيمن

    “Dan orang-orang yang datang setelah mereka, berkata: Yaa Tuhan kami, ampunilah kami dan ampunilah saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dengan beriman.” (QS Al-Hasyr 59: 10)

    Dalam hal ini hubungan orang mu’min dengan orang mu’min tidak putus dari Dunia sampai Akherat.

    وَاسْتَغْفِرْلِذَنْبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنتِ

    “Dan mintalah engkau ampun (Muhammad) untuk dosamu dan dosa-dosa mu’min laki dan perempuan.” (QS Muhammad 47: 19)

    سَأَلَ رَجُلٌ النَّبِىَّ صَلَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَارَسُوْلَ اللهِ اِنَّ اُمِى مَاتَتْ افَيَنْفَعُهَا اِنْ تَصَدَّقْتَ عَنْهَا ؟ قَالَ نَعَمْ

    “Bertanya seorang laki-laki kepada Nabi SAW; Ya Rasulullah sesungguhnya ibu saya telah mati, apakah berguna bagi saya, seandainya saua bersedekah untuknya? Rasulullah menjawab; yaa berguna untuk ibumu.” (HR Abu Dawud).

    Dan masih banyak pula dalil-dalil yang memperkuat bahwa orang mati masih mendapat manfa’at do’a perbuatan orang lain. Ayat ke 39 Surat An-Najm di atas juga dapat diambil maksud, bahwa secara umum yang menjadi hak seseorang adalah apa yang ia kerjakan, sehingga seseorang tidak menyandarkan kepada perbuatan orang, tetapi tidak berarti menghilangkan perbuatan seseorang untuk orang lain.

    Di dalam Tafsir ath-Thobari jilid 9 juz 27 dijelaskan bahwa ayat tersebut diturunkan tatkala Walid ibnu Mughirah masuk Islam diejek oleh orang musyrik, dan orang musyrik tadi berkata; “Kalau engkau kembali kepada agama kami dan memberi uang kepada kami, kami yang menanggung siksaanmu di akherat”.

    Maka Allah SWT menurunkan ayat di atas yang menunjukan bahwa seseorang tidak bisa menanggung dosa orang lain, bagi seseorang apa yang telah dikerjakan, bukan berarti menghilangkan pekerjaan seseorang untuk orang lain, seperti do’a kepada orang mati dan lain-lainnya.

    Dalam Tafsir ath-Thobari juga dijelaskan, dari sahabat ibnu Abbas; bahwa ayat tersebut telah di-mansukh atau digantikan hukumnya:

    عَنِ ابْنِى عَبَّاسٍ: قَوْلُهُ تَعَالى وَأَنْ لَيْسَ لِلاِءنْسنِ اِلاَّ مَا سَعَى فَأَنْزَلَ اللهُ بَعْدَ هذَا: وَالَّذِيْنَ أَمَنُوْاوَاتَّبَعَتْهُمْ ذُرِيَتُهُمْ بِاِءْيمنٍ أَلْحَقْنَابِهِمْ ذُرِيَتَهُمْ فَأَدْخَلَ اللهُ الأَبْنَاءَ بِصَلاَحِ اْلابَاءِاْلجَنَّةَ

    “Dari sahabat Ibnu Abbas dalam firman Allah SWT Tidaklah bagi seseorang kecuali apa yang telah dikerjakan, kemudian Allah menurunkan ayat surat At-Thuur; 21. “dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, kami pertemukan anak cucu mereka dengan mereka, maka Allah memasukkan anak kecil ke surga karena kebaikan orang tua.”

    Syaekhul Islam Al-Imam Ibnu Taimiyah dalam Kitab Majmu’ Fatawa jilid 24, berkata: “Orang yang berkata bahwa do’a tidak sampai kepada orang mati dan perbuatan baik, pahalanya tidak sampai kepada orang mati,” mereka itu ahli bid’ah, sebab para ulama’ telah sepakat bahwa mayyit mendapat manfa’at dari do’a dan amal shaleh orang yang hidup.

    KH Nuril Huda

  4. Fasal tentang Bid’ah (1)
    23/02/2007

    Dalam kitab Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah karya Hadratusy Syeikh Hasyim Asy’ari, istilah “bid’ah” ini disandingkan dengan istilah “sunnah”. Seperti dikutip Hadratusy Syeikh, menurut Syaikh Zaruq dalam kitab ‘Uddatul Murid, kata bid’ah secara syara’ adalah munculnya perkara baru dalam agama yang kemudian mirip dengan bagian ajaran agama itu, padahal bukan bagian darinya, baik formal maupun hakekatnya. Hal ini sesuai dengan hadits Rasulullah SAW,” Barangsiapa memunculkan perkara baru dalam urusan kami (agama) yang tidak merupakan bagian dari agama itu, maka perkara tersebut tertolak”. Nabi juga bersabda,”Setiap perkara baru adalah bid’ah”.

    Menurut para ulama’, kedua hadits ini tidak berarti bahwa semua perkara yang baru dalam urusan agama tergolong bidah, karena mungkin saja ada perkara baru dalam urusan agama, namun masih sesuai dengan ruh syari’ah atau salah satu cabangnya (furu’).

    Bid’ah dalam arti lainnya adalah sesuatu yang baru yang tidak ada sebelumnya, sebagaimana firman Allah S.W.T.:

    بَدِيْعُ السَّموتِ وَاْلاَرْضِ
    “Allah yang menciptakan langit dan bumi”. (Al-Baqarah 2: 117).

    Adapun bid’ah dalam hukum Islam ialah segala sesuatu yang diada-adakan oleh ulama’ yang tidak ada pada zaman Nabi SAW. Timbul suatu pertanyaan, Apakah segala sesuatu yang diada-adakan oleh ulama’ yang tidak ada pada zaman Nabi SAW. pasti jeleknya? Jawaban yang benar, belum tentu! Ada dua kemungkinan; mungkin jelek dan mungkin baik. Kapan bid’ah itu baik dan kapan bid’ah itu jelek? Menurut Imam Syafi’i, sebagai berikut;

    اَلْبِدْعَةُ ِبدْعَتَانِ : مَحْمُوْدَةٌ وَمَذْمُوْمَةٌ, فَمَاوَافَقَ السُّنَّةَ مَحْمُوْدَةٌ وَمَاخَالَفَهَا فَهُوَ مَذْمُوْمَةٌ
    “Bid’ah ada dua, bid’ah terpuji dan bid’ah tercela, bid’ah yang sesuai dengan sunnah itulah yang terpuji dan bid’ah yang bertentangan dengan sunnah itulah yang tercela”.

    Sayyidina Umar Ibnul Khattab, setelah mengadakan shalat Tarawih berjama’ah dengan dua puluh raka’at yang diimami oleh sahabat Ubai bin Ka’ab beliau berkata :

    نِعْمَتِ اْلبِدْعَةُ هذِهِ
    “Sebagus bid’ah itu ialah ini”.

    Bolehkah kita mengadakan Bid’ah? Untuk menjawab pertanyaan ini, marilah kita kembali kepada hadits Nabi SAW. yang menjelaskan adanya Bid’ah hasanah dan bid’ah sayyiah.

    مَنْ سَنَّ فِى اْلاِسْلاَمِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ غَيْرِ اَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ سَنَّ فِى اْلاِسْلاَمِ سُنَّةً سَيِئَةً فَعَلَيْهِ وِزْرُهَاوَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ غَيْرِاَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْئًا. القائى, ج: 5ص: 76.
    “Barang siapa yang mengada-adakan satu cara yang baik dalam Islam maka ia akan mendapatkan pahala orang yang turut mengerjakannya dengan tidak mengurangi dari pahala mereka sedikit pun, dan barang siapa yang mengada-adakan suatu cara yang jelek maka ia akan mendapat dosa dan dosa-dosa orang yang ikut mengerjakan dengan tidak mengurangi dosa-dosa mereka sedikit pun”.

    Apakah yang dimaksud dengan segala bid’ah itu sesat dan segala kesesatan itu masuk neraka?
    كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَ لَةٍ وَكُلُّ ضَلاَ لَةٍ فِى النَّارِ
    “Semua bid’ah itu sesat dan semua kesesatan itu di neraka”.

    Mari kita pahami menurut Ilmu Balaghah. Setiap benda pasti mempunyai sifat, tidak mungkin ada benda yang tidak bersifat, sifat itu bisa bertentangan seperti baik dan buruk, panjang dan pendek, gemuk dan kurus. Mustahil ada benda dalam satu waktu dan satu tempat mempunyai dua sifat yang bertentangan, kalau dikatakan benda itu baik mustahil pada waktu dan tempat yang sama dikatakan jelek; kalau dikatakan si A berdiri mustahil pada waktu dan tempat yang sama dikatakan duduk.

    Mari kita kembali kepada hadits.
    كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَ لَةٍ وَكُلُّ ضَلاَ لَةٍ فِى النَّارِ
    “Semua bid’ah itu sesat dan setiap kesesatan itu masuk neraka”.

    Bid’ah itu kata benda, tentu mempunyai sifat, tidak mungkin ia tidak mempunyai sifat, mungkin saja ia bersifat baik atau mungkin bersifat jelek. Sifat tersebut tidak ditulis dan tidak disebutkan dalam hadits di atas; dalam Ilmu Balaghah dikatakan, حدف الصفة على الموصوف “membuang sifat dari benda yang bersifat”. Seandainya kita tulis sifat bid’ah maka terjadi dua kemungkinan: Kemungkinan pertama :
    كُلُّ بِدْعَةٍ حَسَنَةٍ ضَلاَ لَةٌ وَكُلُّ ضَلاَ لَةٍ فِى النَّارِ
    “Semua bid’ah yang baik sesat, dan semua yang sesat masuk neraka”.

    Hal ini tidak mungkin, bagaimana sifat baik dan sesat berkumpul dalam satu benda dan dalam waktu dan tempat yang sama, hal itu tentu mustahil. Maka yang bisa dipastikan kemungkinan yang kedua :
    كُلُّ بِدْعَةٍ سَيِئَةٍ ضَلاَ لَةٍ وَكُلُّ ضَلاَ لَةٍ فِى النَّاِر

    “Semua bid’ah yang jelek itu sesat, dan semua kesesatan itu masuk neraka”.

  5. Fasal tentang Bid’ah (2)
    01/03/2007

    Jelek dan sesat paralel tidak bertentangan, hal ini terjadi pula dalam Al-Qur’an, Allah SWT telah membuang sifat kapal dalam firman-Nya :

    وَكَانَ وَرَاءَهُمْ مَلِكٌ يَأْخُذُ كُلَّ سَفِيْنَةٍ غَصْبَا (الكهف: 79)
    “Di belakang mereka ada raja yang akan merampas semua kapal dengan paksa”. (Al-Kahfi : 79).

    Dalam ayat tersebut Allah SWT tidak menyebutkan kapal baik apakah kapal jelek; karena yang jelek tidak akan diambil oleh raja. Maka lafadh كل سفينة sama dengan كل بد عة tidak disebutkan sifatnya, walaupun pasti punya sifat, ialah kapal yang baik كل سفينة حسنة .

    Selain itu, ada pendapat lain tentang bid’ah dari Syaikh Zaruq, seperti dikutip Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari. Menurutnya, ada tiga norma untuk menentukan, apakah perkara baru dalam urusan agama itu disebut bid’ah atau tidak: Pertama, jika perkara baru itu didukung oleh sebagian besar syari’at dan sumbernya, maka perkara tersebut bukan merupakan bid’ah, akan tetapi jika tidak didukung sama sekali dari segala sudut, maka perkara tersebut batil dan sesat.

    Kedua, diukur dengan kaidah-kaidah yang digunakan para imam dan generasi salaf yang telah mempraktikkan ajaran sunnah. Jika perkara baru tersebut bertentangan dengan perbuatan para ulama, maka dikategorikan sebagai bid’ah. Jika para ulama masih berselisih pendapat mengenai mana yang dianggap ajaran ushul (inti) dan mana yang furu’ (cabang), maka harus dikembalikan pada ajaran ushul dan dalil yang mendukungnya.

    Ketiga, setiap perbuatan ditakar dengan timbangan hukum. Adapun rincian hukum dalam syara’ ada enam, yakni wajib, sunah, haram, makruh, khilaful aula, dan mubah. Setiap hal yang termasuk dalam salah satu hukum itu, berarti bias diidentifikasi dengan status hukum tersebut. Tetapi, jika tidak demikian, maka hal itu bisa dianggap bid’ah.

    Syeikh Zaruq membagi bid’ah dalam tiga macam; pertama, bid’ah Sharihah (yang jelas dan terang). Yaitu bid’ah yang dipastikan tidak memiliki dasar syar’i, seperti wajib, sunnah, makruh atau yang lainnya. Menjalankan bid’ah ini berarti mematikan tradisi dan menghancurkan kebenaran. Jenis bid’ah ini merupakan bid’ah paling jelek. Meski bid’ah ini memiliki seribu sandaran dari hukum-hukum asal ataupun furu’, tetapi tetap tidak ada pengaruhnya. Kedua, bid’ah idlafiyah (relasional), yakni bid’ah yang disandarkan pada suatu praktik tertentu. Seandainya-pun, praktik itu telah terbebas dari unsur bid’ah tersebut, maka tidak boleh memperdebatkan apakah praktik tersebut digolongkan sebagai sunnah atau bukan bid’ah.

    Ketiga, bid’ah khilafi (bid’ah yang diperselisihkan), yaitu bid’ah yang memiliki dua sandaran utama yang sama-sama kuat argumentasinya. Maksudnya, dari satu sandaran utama tersebut, bagi yang cenderung mengatakan itu termasuk sunnah, maka bukan bid’ah. Tetapi, bagi yang melihat dengan sandaran utama itu termasuk bid’ah, maka berarti tidak termasuk sunnah, seperti soal dzikir berjama’ah atau soal administrasi.

    Hukum bid’ah menurut Ibnu Abd Salam, seperti dinukil Hadratusy Syeikh dalam kitab Risalah Ahlussunnah Waljama’ah, ada lima macam: pertama, bid’ah yang hukumnya wajib, yakni melaksanakan sesuatu yang tidak pernah dipraktekkan Rasulullah SAW, misalnya mempelajari ilmu Nahwu atau mengkaji kata-kata asing (garib) yang bisa membantu pada pemahaman syari’ah.

    Kedua, bid’ah yang hukumnya haram, seperti aliran Qadariyah, Jabariyyah dan Mujassimah. Ketiga, bid’ah yang hukumnya sunnah, seperti membangun pemondokan, madrasah (sekolah), dan semua hal baik yang tidak pernah ada pada periode awal. Keempat, bid’ah yang hukumnya makruh, seperti menghiasi masjid secara berlebihan atau menyobek-nyobek mushaf. Kelima, bid’ah yang hukumnya mubah, seperti berjabat tangan seusai shalat Shubuh maupun Ashar, menggunakan tempat makan dan minum yang berukuran lebar, menggunakan ukuran baju yang longgar, dan hal yang serupa.

    Dengan penjelasan bid’ah seperti di atas, Hadratusy Syeikh kemudian menyatakan, bahwa memakai tasbih, melafazhkan niat shalat, tahlilan untuk mayyit dengan syarat tidak ada sesuatu yang menghalanginya, ziarah kubur, dan semacamnya, itu semua bukanlah bid’ah yang sesat. Adapun praktek-praktek, seperti pungutan di pasar-pasar malam, main dadu dan lain-lainnya merupakan bid’ah yang tidak baik.

    KH. A.N. Nuril Huda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s