Akhlak

T A W A K K A L

Seringkali kita mendengar kalimat yang diucapkan oleh seorang muslim, “Aku telah bertawakkal kepada Allah dan berdoa kepadanya”, sebagai ungkapan kepasrahan atas suatu perkara yang dihadapinya, tanpa melihat apakah ia telah berusaha sebelum ia menyerahkan semua perkara kepada Al Wakiil (Allah yang Senantiasa Mengurus kepentingan hamba-Nya). Dan ini adalah kekeliruan dalam memaknai hakikat tawakkal kepada-Nya.

Seorang yang ditimpa suatu penyakit, maka ia harus berobat untuk menjalankan sunnah-Nya, untuk kemudian bertawakkal setelahnya. Yaitu apakah Allah akan menyembuhkan atau mematikan karena penyakit tersebut, kita rela dan pasrah kepada-Nya.

Seorang yang ingin lulus dalam ujian akademisnya, maka ia harus belajar dengan sungguh-sungguh, untuk kemudian bertawakkal dan berdoa. Adapun hasil yang didapat, maka tidak akan mengecewakannya, karena ia telah menyerahkan kepada Dzat yang tidak pernah berlaku dzalim kepada hamba-Nya.

Seorang wanita yang dilamar oleh seorang pemuda, maka ia harus mengenal latar belakang pemuda tersebut, tidak menyerahkan begitu saja kepada Allah -meskipun ia nampak alim dan terpelajar-.  Sekadar pasrah tanpa usaha mencari tahu adalah pemahaman tawakkal yang keliru.

Pengertian Tawakkal

Para ulama -semoga Allah membalas mereka dengan sebaik-baik balasan- telah menjelaskan makna tawakkal.

Diantaranya adalah Imam Al-Ghazali, beliau berkata : “Tawakkal adalah penyandaran hati hanya kepada Alwakil  (yang ditawakkali) semata”. (Ihya’ Ulumid Din, 4/259)

Al-Allamah Al-Manawi berkata: “Tawakkal adalah menampakkan kelemahan serta penyandaran (diri) kepada yang ditawakkali”. (Faidhul Qadir, 5/311)

Menjelaskan makna tawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, Al-Mulla Ali Al-Qari berkata:

“Hendaknya kalian ketahui secara yakin bahwa tidak ada yang berbuat dalam alam wujud ini kecuali Allah, dan bahwa setiap yang ada, baik mahluk maupun rizki, pemberian atau pelarangan, bahaya atau manfaat, kemiskinan atau kekayaan, sakit atau sehat, hidup atau mati dan segala hal yang disebut sebagai sesuatu yang maujud (ada), semuanya itu adalah dari Allah”. (Murqatul Mafatih, 9/156)

Penjelasan Ulama tentang Tawakkal

Para Ulama memberikan penafsiran seputar Tawakkal, diantaranya;

a. Kepasrahan hati dihadapan Allah Ta’ala seperti pasrahnya mayat dihadapan orang yang memandikannya.

b. Biarkanlah Allah Ta’ala untuk berbuat sekehendak-Nya. Kita berposisi sebagaimana Allah Ta’ala memposisikan kita, kita ridha dan senang dengan ketetapan-Nya, kita katakan: “Ya Allah, apa yang datang dari Mu, aku senang menerimanya… aku yakin Engkau tiada akan menelantarkan aku dalam kemudharatan.

c. Kita menyempurnakan ‘sebab’ dengan anggota badan dan memutuskan ‘sebab’ dari hati kita. Karena tawakkal merupakan ibadah hati dan bukan ibadah anggota badan. Maka tangan dan kaki harus menyempurnakan ‘sebab’, sedang hati kita harus melepas diri dari ‘pikiran sebab’.

Jika kita ingin melamar pekerjaan, maka dalam kerangka tawakkal, ketika memasuki ruang wawancara, gantungkanlah hati kita untuk terus memohon kepada Allah. Namun, kita tidak boleh menyombongkan diri dengan mengatakan pada perusahaan, “Anda tidak pernah menemui orang menyamai keahlianku dalam hal ini”. Ini ucapan keliru. Kita harus tetap menjaga adab, karena itu berarti kita sedang mengambil sebab.

Pergaulilah manusia dengan adab kita, dan ambillah sebab, tetapi putuslah hati kita dari ‘sebab’. Itulah yang dinamakan tawakkal, sebagaimana yang dikatakan para ulama, “Harapan manusia akan pupus, jika sebab-sebabnya terputus”. Bukankah demikian? Apakah harapan manusia akan tercapai, bila ia diberhentikan oleh orang yang memberikannya pekerjaan? Apa yang akan terjadi? Harapannya akan pupus, karena faktor penyebab ia mendapat pekerjaan telah terputus. Tapi harapan seorang mukmin akan semakin bertambah, bila sebab itu semakin terputus. Mengapa? Karena ia hanya merasa tersibukkan oleh Allah, bukan yang lain.

Jika sebab terputus, manusia akan menangis, tetapi seorang muslim akan mengatakan, “Alhamdulillah, pasti akan ada jalan keluar. Dan aku bertawakkal kepada Al Wakiil.

d. Kita rela Allah Ta’ala menjadi wakil kita.

Berikut ini sebuah gambaran yang memudahkan kita untuk memahami tawakkal.

Pernahkah kita menyewakan atau menjual rumah melalui agen penjualan, dan mengadakan kontrak penyerahan kuasa atas rumah kita. Perwakilan penuh pada agen untuk melakukan apa saja pada harta kita, bukan kah itu perwakilan penuh? Kita mewakilkan kepada si fulan untuk mengelola harta kita seperti yang ia kehendaki. Ini sering terjadi. Pegawai agen akan bertanya, “Anda sudah tanda tangan?. Dan kita jawab, “Tentu, aku sudah tanda tangan.” Kita percaya dengannya, kita serahkan harta kita padanya, kita begitu mudah menandatangani kontrak penyerahan atas harta kita.

Tapi sudahkah kita tanda tangan dalam akad perwakilan kepada Allah? Akankah kita menyerahkan (urusan) pada-Nya, disaat kita tidak mempercayai-Nya? Dia bernama Al Wakiil, tapi kita tidak percaya pada-Nya, tidak mau menyerahkan hidup pada-Nya. Bukankah ini kebodohan? Kita mewakilkan urusan pada manusia dan berkata, “Aku serahkan urusanku pada Fulan,” Lalu kita merasa tenang. Apakah kita tidak mau mewakilkan pada Allah? Al Wakiil… Subhaanallah…

Jika kita mewakilkan urusan dan menandatanganinya, apakah akan disia-siakan-Nya? Masuk akalkah? Mungkinkah Al Wakiil akan menyia-nyiakan kita? Tidak mungkin!!!

Cukuplah Allah yang menjadi wakil kita, cukuplah Allah saja yang menyempurnakan nikmat kita, cukuplah Allah yang menjaga harta kita. Bukankah api yang tidak membakar kekasih Allah Ibrahim as, karena ia bertawakkal kepada-Nya, bukankah ia yang berdoa “Hasbunallaahu wa ni’mal wakil” (cukuplah Allah bagiku, dan ia adalah sebaik-baik wakil)??

Bukankah Allah Ta’ala yang telah menyembuhkan Ayub as dari penyakit kronis yang berkepanjangan karena sabar dan tawakkal kepada-Nya, siapa yang menjaganya dikala masyarakat mengisolirnya? bukankah Allah Ta’ala?? Siapakah yang kemudian mengembalikan harta dan keluarga kepada-Nya? Bukankah Allah Sang Wakiil??

Lalu mengapa kita masih tidak mempercayai-Nya, mengapa kita masih mewakilkan urusan kita kepada selain-Nya? Bukankah ia telah menjanjikan kepada kita

…Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya…” (QS. At Thalaaq: 3)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s