Akidah

Jika masih ada yang mempertanyakan bahaya bid’ah (2)

oleh: Ibnu Sahro

Sekilas Mengenal Bid’ah

“Tidak semua bid’ah itu sesat“. Demikian komentar sebagian orang terhadap hadits Nabi, “Kullu bid’atin zhalalah”, bahwa semua bid’ah itu sesat.

Penambahan kata tidak di awal kalimat jelas menunjukkan penentangan dan bantahan terhadap hadits Nabi. Apa pendapat anda jika terpampang tulisan “dilarang kencing disini “ lalu seseorang menambah kata tidak di awal kalimat sehingga menjadi “ tidak dilarang kencing disini “ ? Mungkin itu analogi yang tidak begitu pas, tapi cukup menggambarkan betapa makna kalimat itu menjadi berkebalikan jika dibubuhi kata tidak di awal kalimat. Padahal tidak layak seorang muslim mengatakan tidak bila Nabi mengatakan ya, begitu pula sebaliknya, “ Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak pula bagi perempuan yang mukmin, apabila Alloh dan Rosul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan lain tentang urusan mereka “.
Mestinya yang perlu ditindaklanjuti seorang mukmin ketika mendengar sabda Nabi tentang sesatnya setiap bid’ah adalah mencari tahu maksud bid’ah yang disebut oleh Nabi, dan tidak lagi mempertanyakan apakah bid’ah itu sesat, karena hadits Nabi itu sendiri sudah menjadi jawabannya.

Menurut Syaikh Muhammad Abdussalam, bahwa bid’ah artinya sesuatu yang baru dalam agama ( berkaitan dengan ibadah ) –setelah agama itu dinyatakan sempurna dan setelah wafatnya Nabi. Bid’ah juga berarti sesuatu yang diciptakan namun menyalahi kebenaran yang diterima dari Rosululloh dan prinsip agama yang benar. Ada bid’ah diniyah dan duniawiah. Setiap bid’ah yang terkait dengan agama adalah sesat. Kita tidak boleh merubah pemahaman atau mengartikan sabda Rosululloh bahwa bid’ah itu sesat dan harus masuk neraka, dengan mengatakan, “ itu lebih baik ( mustahsan ) ”. Tetapi sebaliknya, kita harus menerima bahwa, bagaimanapun, “ bid’ah itu sesat “ yang bisa jadi menyebabkan pengingkaran, terkadang menjelma menjadi dosa besar, dan sering kali menjadi dosa kecil.

Bid’ah dalam masalah agama bisa di bagi menjadi empat, yaitu :
1. Al-Bid’ah al-Mukkafirah ( bid’ah yang menyebabkan pengingkaran ). Misalnya, berdo’a kepada selain Alloh, seperti kepada para nabi dan orang shalih, meminta pertolongan kepada mereka dan memohon kepada mereka agar dilepaskan segala kesulitannya. Inilah bid’ah yang paling besar yang menimpa kaum muslimin.

2. Al-Bid’ah al-Muharramah ( bid’ah yang diharamkan ). Misalnya, bertawassul ( menjadikan perantara ) kepada Alloh melalui orang yang telah meninggal, meminta do’a mereka, menjadikan kuburan mereka sebagai masjid, ber-nadzar menyembelih binatang untuk mereka dan mencium kuburan mereka. Ibnu Hajar al-Haitsami dalam kitabnya az-Zawajir, telah memasukkan perbuatan ini sebagai dosa besar dan bid’ah yang menyesatkan.

3. Al-Bid’ah al-Makruhah tahrim ( maksudnya adalah pengharaman ). Misalnya, sholat Dhuhur setelah sholat Jum’at, karena hal itu tidak disyari’atkan Alloh dan Rosul-Nya. Atau membaca Al-Qur’an dengan pamrih imbalan, bertasbih, dan khataman yang dilakukan untuk orang yang sudah meninggal, berkumpul untuk melakukan do’a atau dzikir berjamaah ( bersama ) pada malam nishfu Sya’ban atau pada malam Maulid Nabi, mengeraskan bacaan shalawat setelah adzan, dll.

4. Al-Bid’ah al-Makruhah tanzih ( maksudnya sebagai penegasan agar dijauhi ). Misalnya, berjabat-tangan setelah sholat, dll. Wallahu a’lam.
Bid’ah juga berkaitan dengan waktu dan tempat, artinya pengkhususan terhadap waktu dan tempat tertentu untuk melakukan suatu amal atau perbuatan, kecuali ada dalil yang mengaturnya. Misalnya, menikah pada tanggal, hari dan jam tertentu serta menganggap selainnya buruk. Adapun bid’ah yang berkaitan dengan kemaslahatan dunia, hukumnya boleh selama itu bermanfaat, tidak menimbulkan kerusakan, atau memancing niat jahat, tidak melanggar hal-hal yang diharamkan dan tidak merusak nilai-nilai agama. Alloh membolehkan hamba-hamba-Nya melakukan kreativitas demi kemaslahatan hidup di dunia. Bukankah Alloh telah berfirman, “ Dan perbuatlah kebajikan supaya kamu mendapat kemenangan “.

Syubhat-Syubhat Para Pelaku Bid’ah

Ada beberapa alasan berkenaan dengan ibadah yang selalu didengungkan oleh tokoh ahli bid’ah dan penyembah hawa nafsu sebagai dalil mereka untuk menipu :

a. Yang penting niatnya ikhlas karena Alloh Ta’ala.
Memang betul niat ikhlas akan diterima oleh Alloh, dengan syarat bila amal ibadahnya sesuai dengan tuntunan Rosululloh, hal ini sebagaimana firman Alloh, “ Barangsiapa mencari agama selain agama Islam maka sekali-kali tidaklah diterima ( agama itu ) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi “. Juga berdasarkan sabdanya,“ Barangsiapa beramal tanpa ada perintah dariku, maka tertolak “. Berkaitan dengan niat Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitabnya Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari, berkata, niat yang baik tidak bisa mengubah status maksiat menjadi amal taat, atau bid’ah berbalik menjadi sunnah. Kalaulah penilaian dari sisi niat, tentulah seseorang boleh melacur asalkan niatnya untuk mendapat pahala mencari rezeki atau menghibur. Begitu juga dengan dosa yang lain.

b. Banyak tokoh umat yang menjalankan, mustahil jika mereka salah.
Tidak menjamin tokoh umat yang tahu dalil pasti menerima dan mengamalkan-nya, bahkan banyak tokoh umat yang menolak dan menghalangi kebenaran Islam. Sebagaimana firman Alloh, “ Hai orang-orang yang beriman, sesungguh-nya sebagian besar dari orang-orang alim Yahudi dan rahib-rahib Nasrani benar-benar memakan harta orang dengan jalan yang batil dan mereka meng-halang-halangi ( manusia ) dari jalan Alloh. Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Alloh, maka beritahukan-lah kepada mereka, ( bahwa mereka akan mendapat ) siksa yang pedih “.

c. Ibadah ini sudah umum, mustahil bila salah.
Yang benar, umumnya orang itu menjalankan kemusyrikan, kebid’ahan, kemak-siatan dan sesat lagi menyesatkan, bukan umumnya menjalankan tauhid, sunnah, taat kepada Alloh dan Nabi. Adapun dalilnya, “ Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Alloh. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta ( terhadap Alloh ) “.

d. Perbedaan pendapat itu Rohmat.
Hadits yang menjelaskan bahwa perbedaan pendapat umat itu adalah rohmat adalah hadits lemah, bertentangan dengan ayat, hadits yang shahih dan bertentangan dengan akal yang sehat. Bertentangan dengan akal yang sehat, karena fitroh manusia lebih menyukai kerukunan dan persatuan, suami dan istri dalam rumah tangga lebih suka bersatu daripada bertengkar karena berbeda pendapat. Dalilnya adalah, “ Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali ( agama ) Alloh, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Alloh kepadamu ketika kamu dahulu ( masa Jahiliyah ) bermusuh-musuhan, maka Alloh mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Alloh orang-orang yang bersaudara ; dan kamu telah ada ditepi jurang neraka, lalu Alloh menyelamatkan kamu dari padanya.

Demikianlah Alloh menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk “. Juga sabda beliau, “ Jamaah itu rahmat, sedang perpecahan itu adzab “.

e. Yang penting tidak ada larangan.
Kaidah yang penting tidak ada larangan, ini adalah kaidah urusan muamalah, bukan urusan ibadah. Misalnya sepeker, mobil, dan lainnya, ini halal karena tidak ada larangan, sedangkan kaidah ibadah ialah asal ibadah adalah haram sehingga harus ada dalil ( perintah ) untuk melakukakannya. Misalnya, apabila ada orang sholat subuh sepuluh rakaat, tentu orang ahli sunnah akan menyalahkan, bukan berarti “ mana larangannya “, akan tetapi karena tidak ada contoh ( tuntunan- nya ), demikian juga yasinan, bukan mana larangannya, karena yasinan menurut para ahli bid’ah adalah ibadah, maka hukumnya haram, karena Rosululloh dan para sahabat tidak mengerjakannya, dan tidaklah benar perkataan mereka bila mengatakan : membaca yasin kok dilarang ?.

Ahli sunnah ( agama Islam ) tidak melarang membaca yasin, karena itu ayat Alloh, tapi yasinan, yang harus dibaca pada hari tertentu dan harus mengumpulkan orang, mana contohnya dari Nabi atau para sahabat dan para tabiin ? Jika tidak ada mengapa diamalkan ?

f. Bid’ah itu ada dua, hasanah dan sayyiah.
Orang yang membagi bid’ah ada dua, bid’ah hasanah dan sayyiah, dengan alasan perkataan sahabat Umar bin Khotob, “ alangkah nikmatnya bid’ah ini “ adalah orang yang tidak mengerti dien dan bahasa, menentang akal yang sehat dan dalil sunnah. Adapun mereka tidak mengerti bahasa dan dien karena sahabat Umar berkata demikian berkaitan dengan peristiwa yang belum terjadi sebelumnya, yaitu semaraknya orang shalat tarawih pada bulan Romadhan yang jumlahnya cukup banyak, belum pernah ada sebelumnya, dan karena mereka berkumpul dalam satu masjid. Beliau tidaklah membuat rakaat sholat tarawih baru sehingga dikatakan bid’ah hasanah, sholat tarawih yang beliau lakukan sama dengan yang dikerjakan Rosulullah. Demikian juga penulisan Al-Qur’an dan Al-hadits bukan bid’ah, akan tetapi termasuk maslahah mursalah dan tidak ada seorang ulama’ salaf pun ( ulama terdahulu ) yang mengingkarinya. Adapun pertentangan dengan akal, karena mereka apabila ditanya : mana amalanmu bid’ah sayyiah ? mereka bingung menjawabnya, sehingga semua amalan bid’ah bagi mereka adalah hasanah, padahal Nabi menjelaskan, bahwa semua bid’ah adalah sesat. Jika demikian lalu siapa yang benar perkataannya ? Ahli bid’ah-kah atau Nabi ?

Selanjutnya mereka beralasan bahwa hadits kullu bid’atin dholalah, kullu bukan menunjukkan semua, tapi sebagian. Ini orang yang tidak tahu bahasa atau ushul, dan menolak ayat Alloh, “ Dia. tiap-tiap semua pasti binasa, kecuali Alloh “. Apakah kullu dalam ayat ini juga mereka artikan tidak ikut binasa atau mati, sehingga mereka hidup seperti Alloh. Wallohul mustaan dan bertentangan dengan ayat-Nya, “ setiap yang bernyawa pasti merasakan mati “. Coba tanya mereka ( para ahli bid’ah ), apakah yang dimaksud kullu dalam ayat ini berarti sebagian ? Bersambung……nantikan bahasan selanjutnya, besuk..

( Kramat Jati, 25 Mei 2010, Pukul 03.00 Wib ).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s