Akidah

Jika masih ada yang mempertanyakan bahaya bid’ah (1)

Oleh : Ibnu Sahro

SESUNGGUHNYA segala puji hanyalah milik Alloh Ta’ala. Kami memuji-Nya dan minta pertolongan hanya kepada-Nya, dan kami minta perlindungan-Nya dari kejahatan diri kami dan keburukan amal-amal kami. Barangsiapa yang diberi petunjuk Alloh, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya. Dan barangsiapa disesatkan Alloh, maka tidak ada yang dapat menunjukinya. Aku bersaksi bahwa tiada ilah ( sesembahan ) yang haq kecuali Alloh Ta’ala, dan sesungguhnya Muhammad itu adalah hamba dan utusan-Nya. Sebaik-baik perkataan adalah firman Alloh Ta’ala, sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rosululloh SAW. Seburuk-buruk urusan adalah hal-hal baru yang diada-adakan dan setiap hal-hal yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat.

Semoga Alloh melimpahkan sholawat, salam dan keberkahan kepada Nabi yang ummi, kepada keluarga dan para sahabatnya yang berpegang teguh pada sunnahnya dan tidak melakukan bid’ah, dan kepada orang-orang yang mengikuti langkah dan jalan mereka hingga hari kiamat.

Bid’ah sangat merusak dan menghancurkan sendi-sendi agama seperti srigala yang melumat seekor kambing, seperti ngengat yang membusukkan biji-bijian, menyebar dalam praktik keagamaan seperti kuman kanker dalam aliran darah atau api yang melahap jerami. Sehingga tidak mengherankan jika banyak nash Al-Qur’an dan hadits yang mewanti-wantikan bid’ah dan dampaknya, misal : perpecahan umat, tarik-menarik kepentingan dan terpaan azab yang menyakitkan serta wajah yang hitam di akhirat kelak. Hal ini sebagaimana Ibnu Abbas ketika ditanya tafsir dari Surat Al-Imran ( 3 ) : 105-107, beliau berkata, “ bahwa wajah para penghuni surga akan berwarna putih bersinar dan wajah para pelaku bid’ah akan berwarna hitam “.

Oleh sebab itulah kami sengaja menulis risalah ini dengan ringkas dan dengan bahasa yang sangat sederhana karena beberapa pertimbangan, diantaranya, karena ritual bid’ah banyak terjadi di kalangan masyarakat awam secara umum yang mana tingkat wawasan dan keilmuan mereka berbeda-beda sehingga diperlukan wacana yang dapat mereka pahami secara umum dengan bahasa yang sangat mudah.

Kami menyadari bahwa risalah ini jauh dari kesempurnaan, karena keterbatasan ilmu yang kami miliki, oleh karena itu kami berharap dari segenap pembaca untuk memberi kritik, saran dan peranannya demi perbaikan di masa mendatang.

Perkembangan Islam di Indonesia

Sebelum masuknya Islam, penduduk Nusantara mempunyai tiga kepercayaan, yaitu dinamisme, animisme dan totemisme. Dinamisme muncul dalam bentuk adanya kepercayaan bahwa setiap benda mempunyai kekuataan ghaib. Sedang animisme adalah kepercayaan tentang arwah nenek moyang mereka yang suatu saat masih akan menjumpainya. Adapun totemisme adalah kepercayaan tentang adanya orang yang telah meninggal yang kemudian menjelma menjadi harimau, babi, dsb. Ketiga kepercayaan ini dalam banyak hal senafas dengan pandangan Hindu dan Budha yang lebih awal masuk ke Indonesia.

Pengaruh agama Hindu dan Budha terhadap masyarakat Indonesia sangat kental, khususnya masyarakat Jawa. Hindu dengan kekuatan politiknya telah menanamkan akar-akar kebudayaannya ke dalam masyarakat Jawa. Bahkan dalam tingkat tertentu agama Hindu menjadi agama kerajaan, dan kerajaan Mataram ( Yogyakarta dan Surakarta ) merupakan kerajaan yang paling dalam terkena pengaruh Hindu.

Dalam rentang waktu 7 abad, dari abad XIII sampai akhir abad XIX, proses masuk dan berkembangnya Islam di Jawa mengalami dialog pergumulan budaya yang panjang. Corak Islam yang murni mengalami peleburan dengan kepercayaan pra-Islam atau Hindu. Tradisi Hindu tidak di kikis habis, padahal dalam beberapa hal tradisi tersebut bertentangan dengan ajaran Islam. Tindakan yang dilakukan oleh para wali, agaknya merupakan pilihan yang terbaik ketika itu. Sebab, tanpa berbuat demikian kemungkinan sekali Islam tidak akan berkembang di Nusantara.

Para wali dalam mengislamkan jawa dilakukan dengan menggunakan lambang-lambang dan simbol budaya jawa. Dalam pola ini, para wali langsung ke daerah-daerah pedesaan dengan menggunakan metode akulturasi. Cara demikian ditempuh karena memperhatikan situasi waktu itu. Pilihan itu ditempuh dengan maksud memperoleh dua sasaran, yaitu menjinakkan obyek yang menjadi sasaran sekaligus Islam menjinakkan dirinya sendiri. Dengan penjinakkan model demikian, muncul Islam dengan corak berbeda yang kemudian disebut dengan Islam kejawen ( percampuran antara Islam tarekat dan Hindu ). Dalam prakteknya, penganut Islam kejawen ini biasanya mengaku Islam tetapi tidak menjalankan ritual-ritual Islam, ritualnya cukup eling ( mengingat ) dan percaya saja pada Sang Pencipta.

Dalam praktek kepercayaan dan ibadah, muatannya menjadi khurafat dan bid’ah. Khurafat adalah kepercayaan tanpa pedoman yang sah dari Al-Qur’an dan Sunnah, hanya ikut-ikutan orang tua atau nenek moyang. Sedang bid’ah biasanya muncul karena ingin memperbanyak ritual tetapi pengetahuan Islamnya kurang luas, sehingga yang dilakukan adalah sebenarnya bukan bersumber dari ajaran Islam. Bentuk khurafat misalnya mohon kepada Mbaurekso, sementara contoh bid’ah adalah selamatan dengan kenduri dan tahlil yang menggunakan lafal Islam.

Dakwah dengan model percampuran tradisi memang cepat memberi daya tarik tersendiri bagi masyarakat yang sebelumnya kental dengan budaya Hindu-Budha. Memang secara kuantitatif jumlah penduduk bertambah, bahkan menjadi mayoritas di Jawa. Tapi secara kualitatif, intensitas ibadah mereka masih kurang mantap. Sehingga banyak yang menyimpang dari ajaran akidah Islamiyah dan harus diluruskan. Akibat dari praktek-praktek ini, ajaran Islam ( yang mereka pahami ) tidak murni lagi, tidak berfungsi sebagaimana mestinya, dalam arti tidak memberikan manfaat pada pemeluknya. Oleh karena itu perlu adanya pemurnian, untuk mengembalikan Islam pada Al-Qur’an dan Sunnah, dimana hal itu telah di awali oleh KH. Ahmad Dahlan pada tahun 1916.

Langkah-langkah Setan dalam Menyesatkan Manusia

Alloh SWT berfirman, “ Dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan, karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu. Sesungguh-nya setan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terha-dap Alloh apa yang tidak kamu ketahui “. Mengenai hal ini Ibnu Qoyyim Al-Jauziyah dalam kitabnya Ighatsatul Lahfan, mengatakan bahwa setan menyesatkan manusia dengan beberapa langkah, yang jika ia tidak bisa menyesatkan dengan langkah yang pertama maka ia akan menyesatkan dengan langkah yang kedua, hingga manusia terperangkap dengan tipu dayanya. Langkah-langkah tersebut yaitu :

1. Syirik ; Ini adalah langkah setan yang pertama, yaitu setan akan menyesatkan manusia hingga manusia menyekutukan Alloh, beribadah dan memohon kepada selain Alloh. Syirik merupakan kedholiman yang sangat besar dan mengeluarkan pelakunya dari Islam, kecuali pelakunya bertaubat nasuha dan mengucapkan kembali syahadat. Sebagaimana firman Alloh, “ Sesungguhnya mempersekutukan ( Alloh ) adalah benar-benar kedholiman yang besar “.

2. Bid’ah ; ketika setan tidak bisa membujuk seorang hamba untuk melakukan kesyirikan, maka setan akan menggiringnya kepada amalan bid’ah. Dari cara dan bentuknya bid’ah kelihatannya mirip dengan syari’at, tetapi secara hakekat bertentangan. Dengan kemiripannya, bid’ah menjadi pesaing syari’at dalam ber-ta’abbud kepada Alloh. Si pelaku bid’ah pasti menganggap bahwa yang ia lakukan itu lebih baik, lebih memadai atau minimal bisa menjadi cara lain dalam beribadah. Tanpa keyakinan ini, tentu mereka mencukupkan diri dengan syari’at, tidak perlu lagi berbuat bid’ah. Disinilah letak busuknya bid’ah dan jahatnya pembuat bid’ah, seolah-olah mereka Nabi.

3. Al-Kaba’ir ; yaitu dosa-dosa besar, jika seorang hamba masih bertahan dan tidak terjerumus kedalam bid’ah, maka setan pun akan berusaha untuk menggoda manusia dengan dosa besar, seperti : zina, mabuk, judi, meninggalkan sholat, dll.

4. As-Shoghoir ; yaitu dosa-dosa kecil, jika seorang hamba masih juga istiqomah, maka setan akan menggiringnya untuk melakukan dosa-dosa yang kecil, seperti : memandang lawan jenis yang bukan mahram dengan syahwat, atau semisalnya.

5. Hal-hal Mubah ; kemudian langkah selanjutnya adalah melakukan hal-hal yang mubah, yang menjauhkan dari Alloh, misal : banyak ngobrol, banyak becanda,dll

6. Mafdhul ; inilah langkah terakhir setan. Mafdhul adalah lebih suka melakukan sesuatu hal yang kurang utama, padahal ada yang lebih utama untuk dikerjakan. Wallahua’lam Bishowab.

( Bekasi, 24 Mei 2010, Pukul 18.15 Wib )

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s