Akidah

IHSAN

” Yaitu engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya, dan jika kamu tidak dapat (beribadah seolah-olah) melihat-Nya, maka sesungguh-Nya Dia melihatmu. “ HR. Muslim

Pengertian Ihsan

Ihsan adalah upaya mendekatkan diri kepada Allah baik pada saat sembunyi maupun terang-terangan, dalam perkataan juga perbuatan, yaitu realisasi perkara kebajikan dengan sempurna dan hanya mengharap keridhaan Allah semata.

Setelah menyerahkan segala urusan kepada-Nya dan meyakini dengan sepenuh hati bahwa apa yang ditakdirkan oleh Allah adalah perkara terbaik bagi hamba-Nya (sebagai konsekuensi islam dan iman), seorang hamba akan semakin bertambah ketundukan dan keyakinannya kepada Allah, karena sebagaimana disebutkan dalam hadits diatas, bahwa seorang muhsin (yang berbuat ihsan) adalah orang yang senantiasa mawas diri atas perilaku dan amalan yang telah diperbuatnya sehingga ia berharap bahwa apa yang telah dilakukannya tidaklah sia-sia. Atau dengan kata lain bahwa muhsin adalah seorang yang senantiasa melakukan pendekatan kepada Allah (muroqobah) dengan melakukan ketaatan-ketaatan seraya senantiasa merasa bahwa apa yang dilakukannya tidak luput dari pengawasan Allah.

Imam Ibn Daqiq a ‘Ied rahimahullah mengatakan bahwa yang disebut muhsin adalah orang yang senantiasa memelihara hak-hak Allah, merasakan  pengawasan-nya, dan merasakan kebesaran serta keagungan-Nya pada saat beribadah.

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah menjelaskan: Ihsan yaitu seorang manusia menyembah Robbnya dengan ibadah yang dipenuhi rasa harap dan keinginan, seolah-olah dia melihat-Nya sehingga dia pun sangat ingin sampai kepada-Nya, dan ini adalah derajat ihsan yang paling sempurna.

Tapi bila dia tidak bisa mencapai kondisi semacam ini maka hendaknya dia berada di derajat kedua yaitu: Menyembah kepada Alloh dengan ibadah yang dipenuhi rasa takut dan cemas dari tertimpa siksa-Nya, oleh karena itulah Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Jika kamu tidak bisa melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu”

Artinya jika kamu tidak mampu menyembah-Nya seolah-olah kamu melihat-Nya maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (Ta’liq Syarah Arba’in hlm. 21)

Maka, lakukanlah atas nama-Nya dan bukan kepada selain-Nya. Karena seorang muslim yang sampai derajat muhsin, ia  akan malu untuk berpaling kepada selain-Nya dalam melakukan amalan, dan menyibukkan hatinya dengan selain-Nya.

Kedudukan muhsin adalah maqam (kedudukan) para shiddiqqin, yaitu orang yang benar dalam keimanannya, benar dalam mentaati Allah dan mengikuti sunnah Rasul-Nya,

Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu: Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang saleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.
QS. An Nisa: 69

Syaikh As-Sa’di rahimahullah menerangkan bahwa ihsan terbagi dua, dalam beribadah kepada Allah dan dalam hal hak sesama makhluk.

Ihsan dalam beribadah kepada Allah maknanya beribadah kepada Allah seolah-olah melihat-Nya atau merasa diawasi oleh-Nya. Sedangkan ihsan dalam hal hak makhluk adalah dengan menunaikan hak-hak mereka.

Ihsan kepada makhluk terbagi dua: Wajib dan Sunnah. Yang wajib misalnya berbakti kepada orang tua dan bersikap adil dalam bermuamalah. Sedangkan yang sunnah misalnya memberikan bantuan tenaga atau harta melebihi batas kewajiban. Salah satu bentuk ihsan yang paling utama adalah berbuat baik kepada orang yang berbuat jelek kepada anda, entah dengan ucapan atau perbuatannya (lihat Bahjat Al-Qulub Al-Abrar, hal. 168-169)

Perintah Allah

Sebagaimana shalat, puasa, amar ma’ruf nahi munkar, berkata-kata ma’ruf (baik), jihad dan berlaku ihsan, adalah perintah dari Allah subhaanahu wata’ala yang setiap hamba berkewajiban untuk melakukannya. Sebagaimana Firman-Nya.

Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat ihsan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.
QS. An Nahl: 90

Tingkatan Ihsan

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah mengatakan,
“Bila dibandingkan dengan iman maka Ihsan itu lebih luas cakupannya bila ditinjau dari substansinya dan lebih khusus daripada iman bila ditinjau dari orang yang sampai pada derajat ihsan.

Sedangkan iman itu lebih luas daripada islam bila ditinjau dari substansinya dan lebih khusus daripada islam bila ditinjau dari orang yang mencapai derajat iman.

Maka di dalam sikap ihsan sudah terkumpul di dalamnya iman dan islam. Sehingga orang yang bersikap ihsan itu lebih istimewa dibandingkan orang-orang mu’min yang lain, dan orang yang mu’min itu juga lebih istimewa dibandingkan orang-orang muslim yang lain…

Muslim, Mu’min dan Muhsin
Oleh karena itulah para ulama’ muhaqqiq/peneliti menyatakan bahwa setiap mu’min pasti muslim, karena orang yang telah merealisasikan iman sehingga iman itu tertanam kuat di dalam hatinya pasti akan melaksanakan amal-amal islam/amalan lahir. Dan belum tentu setiap muslim itu pasti mu’min, karena bisa jadi imannya sangat lemah sehingga hatinya tidak meyakini keimanannya dengan sempurna walaupun dia melakukan amalan-amalan lahir dengan anggota badannya, sehingga statusnya hanya muslim saja dan tidak tergolong mu’min dengan iman yang sempurna.

Sebagaimana Firman Allah SWT,

“Orang-orang Arab Badui itu mengatakan ‘Kami telah beriman’. Katakanlah ‘Kalian belumlah beriman tapi hendaklah kalian mengatakan: ‘Kami telah berislam’.”
(Al Hujuroot: 14).

Dengan demikian jelaslah sudah bahwasanya agama ini memang memiliki tingkatan-tingkatan, dimana satu tingkatan lebih tinggi daripada yang lainnya. Tingkatan pertama yaitu islam, kemudian tingkatan yang lebih tinggi dari itu adalah iman, kemudian yang lebih tinggi dari tingkatan iman adalah ihsan.

wallaahu a’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s