Akidah

S Y I R I K

Syirik yaitu memalingkan bentuk peribadatan kepada selain Allah atau menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya dalam hal-hal yang hanya mutlak bagi Allah.

Dosa Paling Besar

Diantara perbuatan maksiat lainnya, Syirik adalah dosa yang paling besar yang tidak terampuni seperti ayat pembuka diata, dan dalam firman-Nya yang lain Allah berfirman,

“Dan ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepada-nya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Luqman: 13)

Firman Allah dalam surat Al Maaidah ayat 72;

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu.” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.”

Sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam;

“Maukah kalian aku beritahu-kan tentang dosa yang paling besar?, ‘Kami menjawab, Ya wahai Rasulullah!’, Beliau bersabda, Berbuat syirik kepada Allah dan durhaka kepada kedua orang tua.” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Macam Syirik

Syirik terbagi menjadi dua macam:

a. Syirik Akbar (besar)

yaitu, syirik yang menyebabkan pelakunya murtad (keluar dari Islam) dan menyebabkan dirinya kekal didalam neraka serta seluruh amalannya terhapus.

Adapun yang termasuk syirik akbar adalah:

  • Syirik Doa

Yaitu berdoa kepada selain Allah sama seperti berdoa kepada Allah Ta’ala. Jika dengan doa itu ia memohon manfaat atau meminta dihindarkan dari bahaya, maka doa tersebut disebut permohonan. Jika dengan doa itu menunjukkan kepasrahan dan ketundukan, maka doa itu disebut doa ibadah. Baik doa ibadah maupun doa permohonan, adalah satu bentuk ibadah yang hanya diperuntukkan kepada Allah semata. Manakala ditujukan kepada selain Allah, ia termasuk syirik akbar.

“Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah tiada dapat memperkenankan (doa) nya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (mem-perhatikan) doa mereka? dan apabila manusia dikumpulkan (pada hari kiamat) niscaya sembahan-sembahan itu menjadi musuh mereka dan mengingkari pemujaan-pemujaan mereka.” (QS. Al Ahqaaf: 5-6)

  • Syirik Niat

Yaitu seorang hamba melakukan suatu perbuatan dengan niat dan tujuan semata-mata untuk selain Allah, misalnya untuk meraih keuntungan dunia semata.

“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka Balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Huud:15-16)

  • Syirik Ketaatan

yaitu menyamakan sembahan selain Allah dengan Allah, dalam hak menentukan syariat dan hukum. Karena membuat syariat, hukum, halal-haram, dan memerintah adalah hak khusus Allah. Manakala manusia menyatakan bahwa selain Allah mempunyai hak untuk menetapkan dan menentukan hukum dan undang-undang atau pedoman hidup, yang berbeda, bertentangan atau tidak berlandaskan kepada hukum Allah dan Rasul-Nya; maka pada saat itu telah terjatuh dalam kesyirikan.

Begitu pula manakala ia mantaati aturan, hukum, undang-undang dan pedoman hidup itu, maka pada saat itu ia telah beribadah kepada tuhan-tuhan sesembahan selain Allah.

Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah? Sekiranya tak ada ketetapan yang menentukan (dari Allah) tentulah mereka telah dibinasakan. dan Sesungguh-nya orang-orang yang zalim itu akan memperoleh azab yang Amat pedih. (QS. Asy Syura: 21)

  • Syirik dalam Cinta

Yaitu apabila cinta seorang hamba kepada makhluk, sama besarnya dengan cintanya kepada Allah. Padahal cinta menumbuhkan ketundukan dan kepasrahan. Akibatnya, ketaatan hamba kepada makhluk tersebut melebihi ketaatannya kepada Allah. Dari sinilah terjadinya syirik dalam cinta.

“dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman Amat sangat cintanya kepada Allah. dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah Amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal). (QS. Al Baqoroh: 165)

  • Syirik dalam rasa takut

Yaitu rasa takut kepada selain Allah, baik berupa berhala, setan, thaghut, mayat orang yang telah mati dan lain sebagainya, dengan keyakinan mereka dapat mendatangkan manfaat dan mudharat kepada dirinya atau orang lain.

“Bukankah Allah cukup untuk melindungi hamba-hamba-Nya. dan mereka menakut-nakuti kamu dengan (sembahan-sembahan) yang selain Allah? dan siapa yang disesatkan Allah Maka tidak seorangpun pemberi petunjuk baginya.” (QS. Az Zumar: 36)

  • Syirik Tawakkal

Yaitu berserah diri dan menggantungkan harapan kepada sesuatu selain Allah untuk memperoleh suatu manfaat atau menolak sebuah mudharat, dalam hal-hal yang hanya Allah semata yang mampu melakukannya.

“Berkatalah dua orang diantara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah telah memberi nikmat atas keduanya: “Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, Maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. dan hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman”. (QS. Al Maaidah: 23)

b. Syirik Asghar (kecil)

Yaitu syirik yang menyebabkan terhapusnya amalan yang sedang diperbuat oleh pelakunya, ia juga diancam dengan masuk neraka sesuai dengan amalan yang diperbuatnya, ia tidak keluar dari Islam dan tidak kekal didalam neraka untuk selama-lamanya.

Yang termasuk syirik asghar adalah:

1. Perkataan, seperti bersumpah dengan selain nama Allah, “Demi langit dan bumi aku bersumpah…”

Rasulullah SAW bersabda; “Barangsiapa bersumpah dengan selain nama Allah, ia telah berbuat syirik.” (HR. At Tirmidzi_

2. Perbuatan, seperti mendatangi dukun dan membenarkan ramalannya.

Rasulullah SAW bersabda; “Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal, menanyainya tentang sesuatu dan membenarkan ramalannya, niscaya shalatnya tidak akan diterima selama 40 hari” (HR. Muslim)

3. Keyakinan, seperti riya’ (beramal agar dilihat dan dipuji orang lain), dan melakukan sebagian amal kebaikan dengan tujuan mendapat kenikmatan duniawi.

wallaahu a’lam

6 thoughts on “S Y I R I K

  1. Ustadz mohon tanggapan atas tulisan di bawah ini, karena berkaitan dengan tema di atas: Untuk memahami pembatal Islam yang pertama, yaitu syirik dalam beribadah kepada Allah maka harus memahami paparan di bawah ini sehingga kita akan memahami apa itu syirik yang mengeluarkan dari Islam dan apa syirik yang tidak mengeluarkan dari Islam. Definisi ibadah Secara asal bahasa: merendahkan diri (tadzallul), tunduk (khudhu’), patuh (inqiyad) dan taat. Secara kebiasaan (‘urf) dan istilah menurut orang Arab fush-ha saat turunnya Al-Qur’an seperti dalam perkataan mereka: “fulan beribadah kepada (menyembah) Laata”, “orang-orang Nasrani beribadah kepada Al-Masih”, “Muhammad dan para sahabatnya mencaci tuhan-tuhan kami dan tidak menyembah mereka” maka ibadah dalam pengertian ini adalah kumpulan ucapan dan perbuatan hati, ucapan dan lafal lisan dan amalan anggota badan yang menunjukkan perendahan diri, ketundukan, mempersembahkan pengagungan dan penghormatan; atau menunjukkan kecintaan dan untuk mendekatkan diri; atau untuk mendatangkan manfaat atau menghindarkan bahaya; dan untuk menampakkan kefakiran dan merasa butuh, dan yang semisalnya (semua itu ditujukan) kepada sesuatu yang diyakini ada padanya uluhiyah (sifat ketuhanan). Ini adalah tema pembahasan kita. Jadi, pembahasan kita di sini adalah tentang konsep ibadah dengan makna yang terbatas dan sempit yang bila diarahkan kepada selain Allah akan mengakibatkan kufur akbar dan syirik akbar, yang membatalkan Islam, mengeluarkan dari agama (millah). Kami tidak membahas ucapan: – fulan menyukai fulanah sampai derajat penghambaan – hamba dinar dan hamba dirham (bagi orang yang sangat mencintai harta) yang tidak mesti pelakunya kena hukum syirik dan kufur. – Ibadah kepada Allah (ibadatullah) sebagaimana yang dibawa oleh syariat penutup ini. Meskipun ini mencakup makna makna ibadah secara istilah dan syar’i, tetapi makna ibadatullah lebih luas dan mendalam sebagaimana yang dijelaskan dalam kitab ini secara global. Jadi pembahasan hanya akan terfokus pada makna ibadah secara syar’i saja karena syariat tidak memberikan pengertian baru, berbeda dengan kata shalat misalnya. Orang-orang musyrik Arab dulu –sebagaimana manusia yang lain- takut pada hewan-hewan buas, perampok, dan ular. Tetapi ketakutan semacam itu tidak disebut ibadah. Namun kebalikan dari itu, ketakutannya kepada Allah atau thaghut (seperti Laata, Manat dan Uzza) disebut ibadah. Ini bukan makna yang hanya dipahami orang Arab fasih saat turunnya Al-Qur’an, tetapi itu juga makna yang dipahami oleh seluruh umat dan bangsa sampai masa kini. Orang Arab yang fasih ia membedakan antara berdiri untuk mengagungkan kepala suku dengan berdiri untuk mengagungkan sebagian tuhan mereka. Yang kedua disebut ibadah, berbeda dengan yang pertama, ia tidak disebut ibadah. HUBUNGAN ANTARA PENGERTIAN IBADAH DENGAN PENGERTIAN ULUHIYAH Merupakan suatu kebenaran bahwa hubungan antara pengertian ibadah –dalam pengertian ini- dengan pengertian uluhiyah tidak akan keluar dari salah satu tiga kemungkinan berikut: 1. Ilah adalah yang diyakini mempunyai sifat-sifat tertentu yang membuatnya –menurut orang yang meyakini sifat-sifat itu ada padanya- berhak mendapatkan perendahan diri, ketundukan, pengagungan dan penghormatan; atau kecintaan dan mendekatkan diri; diminta mendatangkan manfaat atau menghindarkan bahaya, dan menampakkan kefakiran dan merasa butuh, dan yang semisalnya. Dengan ini maka definisi dan konsep uluhiyah mendahului definisi ibadah. Jadi, definisi ilah ada terlebih dahulu ada sebelum definisi ibadah. Yang pertama ada adalah definisi ilah, baru kemudian, otomatis, akibat dari itu, bahwa ibadah adalah setiap perbuatan atau ucapan yang ditujukan kepada ilah tersebut untuk mengagungkan; atau untuk menampakkan ketundukan dan perendahan diri; atau untuk mengungkapkan kefakiran dan merasa butuh dan meminta mendatangkan manfaat atau menolak bahaya; atau untuk mengungkapkan kecintaan dan meminta mendekatkan diri atau untuk semua itu. Apabila definisi tadi benar maka akan berakibat bahwasanya tidak ada perkataan, keyakinan atau perbuatan lahir ataupun batin baik berupa sujud, ruku’, berdiri, duduk, sembelihan, mempersembahkan persembahan, cinta, benci maupun pengagungan yang mungkin dianggap sebagai ibadah kecuali jika ditujukan kepada sesuatu yang diyakini berhak diibadahi karena sifat-sifat uluhiyah yang ada padanya. Maksudnya, konsep ibadah didahului oleh konsep uluhiyah dan terbangun di atasnya. Inilah pendapat yang benar yang dibangun di atas bukti dan dalil-dalil yang qath’iy sebagaimana akan dijelaskan. 2. Amalan-amalan itu merupakan ibadah itu sendiri tanpa melihat persepsi dan keyakinan pelakunya seputar sesuatu yang untuknyalah amalan itu dilakukan. Berdasarkan pendapat inilah sehingga ada pendapat yang mengatakan bahwa hormat militer dan hormat bendera adalah perbuatan syirik kufur yang mengeluarkan dari millah karena perbuatan itu mengandung: berdiri sempurna dan puncak kekhusyu’an dengan tata cara tertentu; sampai sekalipun pelakunya meyakini bahwa atasan yang dihormati atau bendera yang dihormati hanya hamba yang merupakan makhluk yang tidak kuasa berbuat apa-apa dan tidak bisa berbuat dan bertindak kecuali dengan izin, takdir dan kehendak Allah; bahkan sekalipun pelakunya meyakini bahwa bendera yang dihormati itu hanya selembar kain yang diikat di tiang bendera yang tidak hidup, tidak bisa mendengar dan tidak bisa melihat. Demikian juga orang yang berpendapat bahwa istighatsah (meminta pertolongan) kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam (ketika sudah wafat, penrj.) adalah syirik akbar hanya dengan sekadar melafalkannya (ucapan: Wahai Nabi Muhammad tolonglah aku, penrj.) tanpa melihat keyakinan orang yang beristighatsah tersebut. Atau orang yang berpendapat bahwa thawaf di kuburan Ahmad Al-Badawi adalah syirik kufur yang mengeluarkan dari millah hanya karena perbuatannya, yaitu hanya karena sekadar thawafnya –dari sisi perbuatannya- yang secara lahiriah menyerupai thawaf mengitari ka’bah misalnya, tanpa melihat keyakinan pelakunya. 3. Ilah adalah ma’bud (yang diibadahi) sehingga konsep uluhiyah mendahului konsep ibadah. Maksudnya adalah, bahwa konsep uluhiyah harus ada terlebih dahulu kemudian setelah itu baru menentukan definisi dan konsep ibadah. Pada saat yang sama dikatakan: bahwa ilah adalah setiap sesuatu yang diibadahi. Maksudnya adalah, ada perbuatan-perbuatan yang disebut ibadah dengan sendirinya. Apabila ibadah itu diserahkan kepada sesuatu, maka sesuatu itu –otomatis- menjadi ilah yang diibadahi. Sehingga konsep ibadah mendahului konsep uluhiyah. Dan ini adalah siklus berputar-putar. Dan ini merupakan hal yang mustahil dan batil. Yang menunjukkan kebatilan pendapat ini dalam mendefinisikan ibadah dan uluhiyah serta hubungna antara keduanya. Banyak orang yang jatuh pada kesalahan ini, bahkan ada yang dari kalangan para ulama, tanpa sadar. Pendapat ini akan banyak didapatkan di kitab-kitab dan risalah-risalah Aimmah Da’wah Wahabiyyah. Pendapat ini banyak mengandung kontradiksi dan kerancuan pemahaman. Mengenai pendapat kedua, meskipun selamat dari siklus berputar-putar dan kontradiksi internal, hanya saja pendapat ini batil dan tidak bisa diterima karena adanya bukti pasti dari nash-nash syar’i meyakinkan, yaitu dari nash Al-Qur’an dan As-Sunnah –bahkan sebelumnya dari bukti perasaan dan akal- yang membuktikan yang benar adalah yang berbeda dengan pendapat kedua ini sebagaimana yang akan kami jelaskan. Sebelum kami menjelaskan bukti-buktinya kami akan menyebutkan kaidah-kaidah meyakinkan yang bersifat mutlak: 1) Tidak ada ilah yang berhak untuk diibadahi di alam semesta ini kecuali hanya Allah. Ini termasuk dari hal-hal yang muhkam (baku) dalam Islam bahkan sebagai pangkalnya; asas aqidah Islam yang menjadi hakim bagi setiap pendapat yang lain dan tempat mengembalikan setiap mutasyabih. 2) Allah SWT tidak akan memerintahkan sesuatu yang kontradiksi atau sesuatu yang bertentangan dengan kesempurnaan, keindahan, dan ke-mahasucian-Nya: a) Maka mustahil ketika Dia berfirman:  شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ “Allah bersaksi bahwasanya tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Dia” terus kemudian berfirman: “Ambillah ilah lain bersama Allah”. Atau dengan ungkapan lain: “Dustakan persaksianku bahwasanya Akulah yang Maha Esa dan bahwasanya tidak ada ilah selain-Ku secara mutlak.” Tidak mungkin akan ada kontradiksi batil semacam ini muncul dari-Nya. Dia-lah Allah al-haq al-mubiin (kebenaran yang nyata). Mustahil Dia memerintahkan kesyirikan dan kekafiran. Hal ini dinyatakan dalam al-Qur’an:  وَلَا يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ “Dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya.” وَلَا يَأْمُرَكُمْ أَنْ تَتَّخِذُوا الْمَلَائِكَةَ وَالنَّبِيِّينَ أَرْبَابًا أَيَأْمُرُكُمْ بِالْكُفْرِ بَعْدَ إِذْ أَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “Dan Dia tidak menyuruhmu menjadikan malaikat dan para nabi sebagai tuhan. Apakah (patut) Dia menyuruhmu berbuat kekafiran di waktu kamu sudah (menganut agama) Islam?.” Allah SWT tidak mensyariatkan kecuali yang Dia cintai dan ridhai. Dia tidak menghendaki suatu kehendak syar’i kecuali apa yang Dia cintai dan ridhai. Meskipun di dunia ini terjadi banyak sekali sesuatu yang membuat-Nya murka dan tidak diridhai-Nya dengan kehendak qodariyah. b) Mustahil Dia memerintahkan perbuatan keji dengan menjadikannya suatu kewajiban; tidak pada syariat terdahulu, tidak pula pada syariat penutup yang penuh barakah ini. Allah Ta’ala berfirman: وَإِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً قَالُوا وَجَدْنَا عَلَيْهَا آبَاءَنَا وَاللَّهُ أَمَرَنَا بِهَا قُلْ: إِنَّ اللَّهَ لا يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ ، أَتَقُولُونَ عَلَى اللَّهِ مَا لا تَعْلَمُونَ “Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata: “Kami mendapati nenek moyang kami mengerjakan yang demikian itu, dan Allah menyuruh kami mengerjakannya.” Katakanlah: “Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) perbuatan yang keji.” Mengapa kamu mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?” Ini adalah berita yang benar dan meyakinkan. Tidak terbayang oleh akal ada berita yang bertentangan dengannya. Tidak mungkin berita ini mansukh karena berita tidak mungkin mansukh. Allah Ta’ala berfirman: يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ وَمَنْ يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَوْلا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَى مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَداً وَلَكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah- langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, maka sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” Mustahil Allah memerintahkan apa yang diperintahkan iblis, si musuh Allah! c) Mustahil Dia menjadikan akal dan kehendak yang bebas sebagai manath taklif (sebab dibebankannya syariat) tapi kemudian Dia berfirman: hukumlah orang yang tidak bersalah karena kejahatan orang yang jahat. Yang berarti Dia memerintahkan kezaliman. Maha Tinggi Allah dari semua itu. Semua itu dan semacamnya tidak mungkin dilakukan Allah sebagai konsekuensi dari ke-mahasucian-Nya. Maha Suci berarti suci dari semua aib dan kekurangan dan suci dari segala yang hina dan menghinakan. Apabila ini sudah jelas, sekarang kami akan mulai membantah, misalnya perkataan yang menganggap bahwasanya sujud adalah ibadah dari sisi ia merupakan perbuatan sujud tanpa melihat keyakinan orang yang sujud pada sesuatu yang disujudi. Maka kami katakan, dengan pertolongan dan taufiq Allah: Terdapat dalil yang pasti dari al-Quran dan Sunnah mutawatir bahwa Allah memerintahkan malaikat-Nya sujud kepada Adam. Berdasarkan pendapatmu “bahwasanya perbuatan sujud adalah ibadah tanpa melihat keyakinan pada yang disujudi” berarti Allah SWT telah memerintahkan malaikat beribadah kepada Adam, yaitu menjadikan Adam sebagai ilah lain bersama Allah, dengan kata lain, Dia memerintahkan kesyirikan dan kekafiran! Lihatlah apa akibat dari pendapat kalian! Terbukti melalui dalil-dalil yang meyakinkan dari al-Qur’an dan Sunnah mutawatir bahwa keluarga Ya’qub menyungkur sujud kepada Yusuf, kemudian Yusuf juga ikut sebagai bentuk ungkapan syukur kepada Allah yang telah menjadikan mimpinya benar. Yang ini –menurut pendapat kalian yang kontradiktif (yang sebenarnya pendapat ini adalah pendapat yang membinasakan, sangat buruk, dan berakibat mengerikan, sebagaimana akan nampak jelas tidak lama lagi, insya Allah)- berarti sebagai ungkapan syukur kepada Allah atas kekafiran dan kemurtadan keluarganya dan karena mereka melakukan syirik akbar.. Ya’qub termasuk salah satu yang ikut sujud; yang ia disimbolkan sebagai matahari dalam mimpi Yusuf. Dengan itu ia menjadi kafir murtad. Ya, pasti dengan segera kalian akan mengatakan: sujud malaikat kepada Adam bukan sujud ibadah. Demikian juga sujud keluarga Ya’qub kepada Yusuf. Tetapi itu adalah sujud penghormatan. Kami jawab: berarti pendapat kalian telah terbantahkan (telah batal). Minimal ada satu sujud yang bukan ibadah. Maka harus diperjelas: kapan sujud menjadi ibadah dan kapan tidak menjadi ibadah. Yang penting pendapat kalian telah batal (terbantahkan) dan telah jatuh hancur berkeping-keping. Demikian juga sujudnya Mu’adz kepada Nabi SAW setelah pulang dari Syam dalam rangka mengagungkan dan memuliakan. Lalu Nabi SAW mengingkarinya. Mu’adz adalah termasuk ulama di kalangan sahabat yang ilmunya mendalam. Termasuk orang yang paling paham tentang tauhid dan syirik dan apa yang termasuk dan tidak termasuk ibadah. Nabi SAW mengakui pemahaman tersebut, yakni pemahaman makna ibadah yang sempit. Meskipun beliau mengingkari perbuatannya. Beliau SAW menjelaskan bahwa syariat Islam membatasi sujud hanya untuk Allah semata dan mengharamkan sujud kepada selain-Nya, sekalipun sujud tersebut tujuannya untuk memuliakan, mengagungkan atau menghormati. Sujud bukanlah ibadah. Hal itu karena wajibnya mengesakan Allah dalam beribadah merupakan hal yang sudah maklum bagi sahabat yang ilmu dan keutamaannya di bawah Mu’adz. Dan pemahaman tersebut telah tertanam secara mendalam sejak di Makkah. Maka tidak perlu lagi menekankannya di Madinah kecuali pada sedikit kesempatan. Apa lagi dengan ulama sahabat sekelas Mu’adz. Seandainya perbuatan Mu’adz kesyirikan atau kekafiran pasti Nabi SAW menjelaskannya dan menamakannya dengan namanya serta mengingkarinya. Sebagaimana terjadi pada kisah Dzatu Anwath yang pada saat itu pengingkaran Nabi SAW sangat keras terhadap sekelompok sahabat yang baru masuk Islam, belum lama meninggalkan kekafiran dan kejahiliyahan. Beliau bersabda dengan nada keras: “Kalian mengatakan sebagaimana yang dikatakan kepada Musa: ‘Jadikan ilah untuk kami sebagaimana mereka juga memiliki ilah-ilah.’” Pengingkaran ini wajib ketika terjadinya kejahatan karena momen tersebut adalah waktu diperlukannya pennjelasan. Allah dan Rasul-Nya tidak boleh mengakhirkan penjelasan dari waktunya. Mustahil Allah akan mengingkari janji-Nya:  ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهُ “Kemudian, sesungguhnya atas tanggungan Kamilah penjelasannya.” Berdasarkan penelusuran kami terhadap kisah Mu’adz bin Jabal RA dan kisah-kisah semisalnya, seperti kisah Qais bin Sa’d bin Ubadah, sujudnya onta kepada nabi SAW, dan kisah seorang Arab badui dengan mengkaji pada jalur-jalur periwayatannya, sebagaimana yang kami kupas di lampiran, kami tidak mendapatkan satupun hadits baik shahih maupun dha’if, bahkan maudhu’ sekalipun yang menyebutkan bahwa Nabi SAW menamai perbuatan Mu’adz sebagai kesyirikan, kekafiran; atau beliau bersabda kepadanya: apakah engkau menjadikanku rabb atau ilah; atau bersabda: engkau telah menyembahku selain Allah atau engkau telah menjadikanku tandingan bagi Allah, atau ucapan-ucapan semacam itu, yang mirip atau hampir sama dari sisi hukumnya. Padahal beliau SAW mengatakan ucapan-ucapan semacam itu pada banyak kesempatan: – Seperti ucapan beliau: “Apakah engkau menjadikanku tandingan bagi Allah?! Tapi ucapkanlah: atas kehendak Allah semata”, ketika beliau berkata kepada orang yang telah mengatakan: “Atas kehendak Allah dan kehendak Anda”, padahal ini hanyalah sekadar syirik lafzhiy, sebagaimana akan kami jelaskan, hukum mengatakan perkatan itu menurut pendapat yang paling shahih hanyalah makruh saja, bahkan tidak sampai haram. – Tidak pula mengatakan sambil marah: “Ini sebagaimana perkataan kaum Musa: ‘Jadikan untuk kami ilah sebagaimana mereka juga memiliki ilah-ilah’. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Tirmidzi: dari Abu Waqid al-Laitsi bahwa ketika Rasulullah berangkat perang Hunain melewati sebuah pohon milik kaum musyrikin. Pohon itu namanya Dzatu Anwath, tempat menggantungkan senjata-senjata mereka. Para sahabat berkata: ‘Wahai Rasulullah, jadikan untuk kami Dzatu Anwath sebagaimana mereka juga memiliki Dzatu Anwath.’ Maka nabi menjawab: Subhaanallaah. Ini sebagaimana perkataan kaum Musa: ‘Jadikan untuk kami ilah sebagaimana mereka juga memiliki ilah-ilah’. Demi dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, sungguh kalian akan mengikuti jejak orang-orang sebelum kalian. Tirmidzi berkata: ini hadits hasan shahih. – Tidak pula menyuruhnya mengucapkan dua kalimat syahadat dan tidak pula bentuk-bentuk kafarat yang lain, sebagaimana beliau pernah memerintahkan kepada orang yang lisannya salah ucap bersumpah dengan Laata dan Uzza, sebagaimana kebiasaan mereka di masa jahiliyah, beliau menyuruhnya minta ampun kepada Allah dan mengucapkan: laa ilaaha illallaah. Bahkan beliau SAW bersabda: “Seandainya aku memerintahkan seseorang sujud kepada seseorang maka saya akan memerintahkan wanita untuk sujud kepada suaminya.” Ya, memang ini pengandaian yang tidak mungkin terjadi. Namun apakah bisa dibayangkan syirik dan kekafiran menjadi susuatu yang diperintahkan. Kami telah menjelaskan bahwa mustahil Allah meridhai kesyirikan dan kekafiran atau memerintahkannya?! Apakah Nabi tidak mampu mengatakan, misalnya: “Seandainya sujud kepada selain Allah bukan syirik atau kekafiran maka aku akan perintahkan wanita untuk sujud kepada suaminya”?! Oleh karena itu pendapat kalian dan orang-orang semacam kalian jelas batilnya. Seperti Ali al-Halabiy, murid Syaikh Albani, ketika mengomentari kisah Mua’dz tersebut: “… Mu’adz tidak dikafirkan oleh Rasulullah SAW dan beliau menjelaskan kepadanya bahwa perbuatannya itu adalah kekafiran dan bahwasanya tidak seharusnya manusia sujud kepada manusia lain …” ini dikatakan dalam wawancara dengan majalah Al-Hadyu an-Nabawiy pada halaman 24 edisi ke 9 (Ramadhan 1417 H)! Ya betul, Nabi SAW mengingkari perbuatan Mu’adz dan Nabi SAW juga menjelaskan bahwasanya tidak seharusnya manusia sujud kepada manusia lain! Betul, ia tidak dikafirkan oleh Rasulullah SAW, bahkan tidak difasikkan (divonis fasik), tidak divonis berdosa, tidak diperintah membayar kafarat atau meminta ampun (istighfar)! Apakah Nabi SAW tidak mampu mengatakan perbuatan itu merupakan kekafiran atau kesyirikan?! Atau berkata kepadanya: engkau telah menjadikanku rabb atau ilah; atau mengatakan: engkau telah menyembahku selain Allah atau engkau telah menjadikanku tandingan bagi Allah atau ucapan-ucapan semacam itu, yang mirip atau hampir sama dari sisi hukumnya?! Barangkali beliau SAW membiarkannya untuk “si jenius” Al-Halabiy agar mengoreksi beliau di akhir zaman?! Tidak, sama sekali tidak. Mustahil itu!! Akan tetapi itu adalah pemahaman yang keliru dan dangkal terhadap firman Allah dan sabda Rasulullah SAW. Itu yang bisa diprediksi dari orang semacam Al-Halabiy dan murid-murid Albani lainnya yang sudah terkenal dengan pendapat yang bodoh, dangkal pikirannya bahkan mengikuti hawa nafsu dan tidak hati-hati dari berdusta dan menyelewengkan lafal dan teks dalil, atau malah itu merupakan -na’udzubillaah- kekafiran dan mendahului Allah dan Rasul-Nya!! Lihatlah ini komentar Imam Ibnu Katsir rahimahullah ketika menafsirkan firman Allah Ta’ala ( وَخَرُّوا لَهُ سُجَّداً ) bahwa sujud kepada selain Allah: Itu dibolehkan dalam syariat mereka. Apabila mereka mengucapkan salam kepada yang lebih tua mereka sujud kepadanya. Ini masih dibolehkan sejak jaman Nabi Adam sampai syariat Nabi Isa AS. Lalu itu diharamkan dalam agama ini (agama Muhammad SAW). Pada syariat Muhammad SAW Allah SWT menjadikan sujud khusus hanya untuk Allah SWT. (halaman 645 jilid 2 Tafsir Ibnu Katsir). Imam Ibnu Katsir menyatakan, dulunya sujud mubah hukumnya. Namun beliau sama sekali tidak mengatakan bahwa ia berubah hukumnya menjadi kesyirikan dan kekafiran sebagaimana anggapan kalian?! Ya, ia haram dalam syariat kita seperti halnya mencuri dan zina. Dan ini semua bukanlah kesyirikan dan kekafiran kecuali apabila dilakukan oleh orang yang mengingkari hukumnya atau menghalalkannya karena pengingkaran dan penghalalannya. Namun kesyirikan dan kekafirannya bukan dari sisi itu sekadar perbuatan. Ini berkaitan dengan sujud dan ruku’. Adapun masalah berdiri (qiyam) karena makhluk ada tiga macam: qiyam ilaihi, qiyam lahu, dan qiyam ‘alaihi. Yang pertama mubah. Yaitu berdiri dengan maksud untuk memberi salam, penghormatan, merangkul dan menyambut orang yang datang serta yang semisalnya. Nash-nash yang mutawatir secara global menunjukkan dengan meyakinkan bahwa Nabi SAW pernah melakukannya kepada sebagian sahabat dan kerabatnya serta pernah dilakukan oleh sebagian sahabatnya ra kepada sebagian yang lain. Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari-Muslim dari Abu Sa’id Al-Khudriy bahwa Nabi SAW bersabda kepada kaum Anshar di Bani Quraizhah ketika Sa’d bin Mu’adz ra datang: «قُومُوا إِلَى سَيِّدِكُمْ». “Berdirilah kalian untuk menyambut pemimpin kalian.” Dan juga yang diriwayatkan oleh keduanya dari hadits Ka’b bin Malik yang panjang –pada kisah tiga sahabat yang absen dari perang Tabuk- berkaitan dengan berdirinya Thalhah bin Ubaidillah menyambut Ka’b memberikan ucapan selamat dan salam kepadanya, setelah Allah menerima taubatnya. Itu terjadi di hadapan Nabi SAW tanpa ada pengingkaran. Ka’b terus menyebutkan itu kepada Thalhah ra! Dan apa yang diriwayatkan Tirmidzi dari Aisyah ra berkenaan dengan berdirinya Nabi SAW untuk merangkul Zaid bin Haritsah. Dan apa yang diriwayatkan Nasai, Tirmidzi dan Abu Daud dari Aisyah ra berkenaan dengan berdirinya Nabi SAW menyambut kedatangan Fathimah dan berdirinya Fathimah menyambut kedatangan beliau SAW. Dan apa yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi berkenaan dengan berdirinya Nabi SAW menyambut Ikrimah bin Abu Jahal ketika ia hijrah kepada beliau. Dan hadits-hadits mutawatir maknawi lainnya yang bersifat qath’iy dan meyakinkan. Adapun dua macam berdiri yang terakhir hukumnya haram. Yaitu berdiri untuk mengagungkan, bukan untuk tujuan penghormatan dan memberi salam serta yang semisalnya. Bentuknya ada dua: berdiri karena seseorang yang sedang duduk sebagaimana yang dilakukan oleh para pembantu raja untuk mengagungkan tanpa ada sebab lain yang mengharuskannya. Adapun para pengawal, polisi, dan profesi semisalnya yang merupakan tuntutan pekerjaan mereka maka tidak apa-apa. Karena itu berdiri demi menjalankan pekerjaan yang tidak mungkin sempurna dilakukan tanpanya. Dan berdiri untuk orang masuk atau lewat untuk mengagungkannya tanpa bersalaman, rangkulan, atau penyambutan. Pertama qiyam ‘alaihi dan kedua qiyam lahu, keduanya haram. Ada dalil-dalil yang melarang keras dan menginformasikan bahwa perbuatan tersebut menyerupai orang-orang ajam (non arab) ketika mengagungkan selain Allah SWT. Sebagaimana riwayat-riwayat berikut: 1) Apa yang diriwayatkan Tirmidzi dan dishahihkannya dari Anas bin Malik ra, ia berkata: «لَمْ يَكُنْ شَخْصٌ أَحَبَّ إِلَى الصَّحَابَةِ مِنَ النَّبِيِّ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ، وَكَانُوا إِذَا رَأَوْهُ لَمْ يَقُومُوا لَهُ لِمَا يَعْلَمُونَ مِنْ كَرَاهَتِهِ لِذَلِكَ» “Tidak ada orang yang lebih dicintai oleh para sahabat dari Nabi SAW. Ketika mereka melihat beliau mereka tidak berdiri untuk beliau karena mereka tahu bahwa beliau tidak menyukainya.” 2) Apa yang diriwayatkan Abu Daud dan Tirmidzi dari Mu’awiyah bahwa Nabi SAW bersabda: «مَنْ أَحَبَّ أَنْ يَمْتَثِلَ النَّاسُ لَهُ قِيَاماً فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنَ النَّارِ» “Barang siapa yang suka apabila ia datang orang-orang berdiri menyambutnya maka siapkanlah tempat duduknya di neraka.” 3) Hadits shahih yang diriwayatkan Muslim dari Jabir ra: (….، فَأَشَارَ إِلَيْهِمْ فَقَعَدُوا، فَلَمَّا سَلَّمَ قَالَ: «إِنْ كِدْتُمْ آنِفاً لِتَفْعَلُوا فِعْلَ فَارِسٍ وَالرُّومِ يَقُومُونَ عَلَى مُلُوكِهِمْ وَهُمْ قُعُودٌ فَلاَ تَفْعَلُوا») … Maka beliau SAW memberi isyarat kepada mereka (para sahabat agar jangan berdiri), mereka pun duduk. Setelah mengucapkan salam beliau bersabda: “Tadi, hampir saja kalian melakukan perbuatan orang Persia dan Romawi. Mereka biasa berdiri untuk menghormati raja-raja mereka sementara para raja duduk, maka janganlah kalian melakukannya.” Dalam sabda beliau sedikit pun tidak menyebutkan tentang syirik atau kekafiran. Hanya sekadar kebencian dari menyerupai orang-orang Persia dan Romawi, tidak lebih dari itu. 4) Dalam hadits yang diriwayatkan Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah dan Abu Umamah Al-Bahiliy ra bahwa Nabi SAW bersabda: «لاَ تَقُومُوا كَمَا يَقُومُ اْلأَعَاجِمُ يُعَظِّمُ بَعْضُهُمْ بَعْضاً» “Janganlah kalian berdiri sebagaimana berdirinya orang-orang ajam, yang sebagian mereka berdiri untuk mengagungkan sebagian yang lain.” Ini seperti hadits sebelumnya, tidak sedikit pun menyebutkan tentang syirik atau kekafiran. Hanya sekadar kebencian dari menyerupai orang-orang ajam, tidak lebih dari itu. Dan hadits-hadits lainnya. Dari hadits-hadits tersebut bisa disimpulkan bahwa berdiri untuk menghormati makhluk terdapat ancaman keras bagi orang yang suka diperlakukan dengannya. Itu dikarenakan ia menyukai perbuatan yang amat buruk. Yaitu pengagungan yang diharamkan untuk makhluk. Padahal itu hanya layak untuk Allah SWT dalam syariat penutup ini. Sebagaimana ia juga termasuk menyerupai orang-orang kafir. Masalah menyerupai orang-orang kafir dalam kekhususan mereka yang berkaitan dengan kekafiran mereka terdapat ancaman dan larangan keras tentangnya. Ahmad dan Abu Daud meriwayatkan dari Ibnu Umar ra bahwa Nabi SAW bersabda: «مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ» “Barang siapa menyerupai suatu kaum maka ia bagian dari mereka.” Dan Tirmidzi meriwayatkan dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Aash bahwa Nabi SAW bersabda: «لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا، وَلاَتَشَبَّهُوا بِالْيَهُودِ وَلاَبِالنَّصَارَى» “Bukan termasuk golongan kami orang yang menyerupai golongan lain dan janganlah kalian menyerupai Yahudi dan Nasrani.” Dan puluhan hadits shahih lainnya, baik yang melarang secara tersurat maupun tersirat. Dua macam berdiri yang diharamkan ini tidak dinamakan sebagai ibadah oleh Nabi SAW, tidak pula perbuatannya disebut sebagai kesyirikan. Tidak pula beliau mengatakan: Kalian telah menjadikanku rabb atau ilah; atau bersabda: kalian telah beribadah kepadaku selain Allah; atau kalian telah menjadikanku tandingan Allah; atau ucapan semacam itu, yang mirip atau ucapan yang serupa dari sisi hukumnya. Padahal beliau SAW melarang keras keduanya sebagaimana yang telah kami jelaskan secara rinci! Kita tahu bahwa shalat adalah ibadah. Ia berbeda dengan berdiri. Atau dengan ungkapan yang lebih teliti, shalat adalah syiar ibadah dan bahwasanya berdiri dalam shalat adalah ibadah dan akan tetap sebagai ibadah, atau dengan ungkapan yang lebih teliti ia adalah syiar ibadah. Kesimpulannya, meskipun tidak dikerjakan dengan khusyu’ yang sempurna atau ketenangan yang sempurna, sebagaimana seharusnya, namun shalat adalah ibadah atau dengan ungkapan yang lebih teliti ia adalah syiar ibadah. Demikian juga ruku dan sujud yang merupakan bagian dari shalat. Sebagian pendukung dakwah wahabiyah berusaha lari dari apa yang barusan kami katakan dengan ucapan mereka: (Dalam setiap risalah dan syariat samawiyah terdapat perintah dan larangan. Juga, terdapat kufur dan iman terhadap syariat tersebut. Berdasarkan kufur dan iman yang dijelaskan dalam syariat yang diturunkan dari Allah SWT terbentuklah berbagai pengertian dan istilah. Pengertian kufur dalam syariat yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW berbeda dengan pengertian kufur dalam syariat yang dibawa oleh Isa AS. Padahal asas semua risalah satu, yaitu laa ilaaha illallaah) atau perkataan semacam ini. Kemudian mereka memberikan beberapa misal. Seperti: (Minum khamer termasuk dosa besar dalam syariat Muhammad SAW. Namun dalam syariat nabi-nabi yang lain termasuk barang yang paling halal). Jawaban kami adalah: Perkataan kalian masih bersifat global. Masih mengandung campur aduk pengertian yang berbahaya. Sehingga masih mengandung kebenaran sekaligus kebatilan. Hal itu akan nampak pada rincian berikut ini: Ya memang, dien penutup ini menghapus semua syariat terdahulu. Sehingga yang halal dan haram pada syariat terdahulu sudah berubah pada syariat penutup ini. Apa yang bersesuaian atau sama dengan syariat terdahulu itu tetap dikatakan syariat baru yang sama dengan syariat terdahulu dan bukan sebagai bentuk menyetujui syariat terdahulu. Bagaimanapun juga ini kemestian dari syariat dan akal. Saya kira saya sudah membahasnya secara tuntas pada satu bab khusus dalam kitab kami ini ‘Kitab Tauhid’. Hanya saja memang hukum naskh ada dalam hukum-hukum syar’i taklifiy: wajib (fardhu), mustahab (sunnah), halal (mubah), makruh dan haram. Demikian juga pada hukum-hukum wadh’iy: sah, batal, rusak, sebab, syarat dan lainnya. Dari sisi ini terdapat perbedaan pada istilah dan pengertian sesuai dengan perbedaan syariat. Namun ada istilah dan pengertian obyek-obyek tertentu yang berkaitan dengan realita tertentu sebagai gambaran terhadapnya atau hukum atasnya. Dan ini termasuk kategori informasi (berita). Merupakan hal yang mustahil baik secara akal maupun syariat ada naskh dalam berita. Berita itu cuma dua kemungkinan, kalau tidak benar ya dusta. Tidak ada kemungkinan yang lain. Ya memang, kadang terdapat perkataan yang tidak jelas yang tidak mungkin menamainya benar atau dusta. Hal itu karena ia terdiri dari bagian-bagian yang sebagiannya benar dan sebagiannya batil (seperti perkataan kalian yang sedang kami analisa dan diskusikan sekarang ini). Namun jika bagian-bagiannya diurai akan memungkinkan untuk menentukan hukum atasnya dari sisi prinsip. (Ya, terkadang ini sulit bagiku atau kalian. Namun pada prinsipnya bisa dilakukan. Kalau kalian mau katakanlah: sebagaimana yang ada dalam ilmu Allah). Ya memang, ada kalimat-kalimat yang terlihat seolah-olah memungkinkan untuk ditentukan hukumnya apakah benar ataukah dusta. Padahal hakikatnya ia adalah tidak mengandung apa-apa (omong kosong). Seperti ucapan: (ruh manusia berwarna hijau). Karena ruh sama sekali bukan termasuk materi yang bisa berlaku padanya konsep warna. Yang benar seharusnya dikatakan: ini adalah omong kosong. Secara mutlak ruh tidak bisa berwarna. Karena seandainya engkau katakan: ruh manusia warnanya bukan hijau, bisa jadi ada orang yang tertipu sehingga ia akan memahami bahwa warnanya merah misalnya. Kami tidak akan membahas ini panjang lebar. Karena seharusnya ini adalah persoalan yang sudah sangat jelas. Ini bisa diketahui dengan indera dan akal sebelum datang syariat. Karena ini sudah tertanam dalam akal manusia sebelum ia mendapatkan kewajiban menjalankan syariat (taklif). Karena taklif tidak akan diberikan jika akal tidak ada. Allah Ta’ala berfirman, وَعَلَّمَ آَدَمَ الْأَسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلَائِكَةِ “Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya, kemudian mengemukakannya kepada para Malaikat.” (QS. Al-Baqarah [2]: 31) Adapun misal-misal yang kalian sebutkan justru itu sebagai hujjah atas (yang menyerang) kalian bukan hujjah bagi (yang membela) kalian. Kalian katakan: (Minum khamer termasuk dosa besar dalam syariat Muhammad SAW. Namun dalam syariat nabi-nabi yang lain termasuk barang yang paling halal). Kami jawab: Bagus, kalian benar. Namun khamer tetap khamer dan ia adalah setiap yang memabukkan. Ini realitas obyektif yang bisa dimengerti dengan indera, eksperimen dan akal. Namun hukum syar’i berbeda sesuai dengan perbedaan syariat. Pengertian khamer menurut kami dan syariat-syariat terdahulu sama dari sisi ia adalah suatu materi yang dapat diminum, dimakan, dihirup, atau dihisap selanjutnya mengakibatkan mabuk. Mabuk adalah perubahan yang maklum pada akal dan jiwa. Namun hukum meminumnya berbeda sesuai dengan perbedaan syariat. Ketika Rasulullah SAW bersabda, مَا أَسْكَرَ كَثِيرُهُ فَقَلِيلُهُ (وَفِي رِوَايَةٍ: فَمِلْءُ الْكَفِّ مِنْهُ) حَرَامٌ “Apa yang ketika banyak memabukkan maka ketika sedikit (dalam suatu riwayat: meskipun cuma sepenuh telapak tangan) hukumnya haram.”, beliau mengalihkan kepada sesuatu realita yang bisa diindera yang dinamakan atau disifati bahwa ia memabukkan (muskirah). Muskirah adalah istilah yang sudah maklum dalam bahasa Arab. Orang Arab mengenalnya sebelum datangnya wahyu. Mereka juga mengetahui realitasnya melalui indera dan akal. Kemudian beliau SAW menghukuminya dengan hukum syar’i, yaitu haram. Pengertian ibadah juga memiliki realitas obyektif yang bisa dipahami dari indera dan akal sebelum adanya syariat. Kalau ibadah tidak bisa dimengerti maka perkataan para Nabi kepada kaumnya: [Janganlah kalian beribadah kecuali kepada Allah] tidak bermakna apa-apa. Karena kaum mereka akan mengatakan: Apa maksud ‘ibadah’, kami tidak mengenalnya sama sekali. Namun kenyataannya, berdasarkan riwayat sejarah yang mutawatir dan nash-nash Al-Qur’an yang meyakinkan kaum mereka mengerti maksud dari perkataan para Nabi tersebut. Dan mayoritas mereka langsung mengingkari dan menolaknya dengan argumen, مَا نَحْنُ بِتَارِكِي آلِهَتِنَا عَنْ قَوْلِكَ “Kami sekali-kali tidak akan meninggalkan sembahan-sembahan kami karena perkataanmu” , أَجَعَلَ اْلآلِهَةَ إِلاَهاً وَاحِداً؟! إِنَّ هَذَا لَشَيْءٌ عُجَابٌ! “Mengapa ia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.” dan ayat-ayat semisalnya. Kaum para nabi langsung mengerti maksud seruan para nabi dan mengerti bahwa seruan itu adalah bencana besar yang akan menghancurkan kebiasaan mereka turun temurun. Karena seruan para Nabi itu berkonsekuensi batilnya tuhan-tuhan mereka dan bahwasanya tuhan-tuhan mereka itu hanyalah sekadar khurafat yang tidak berwujud dalam alam nyata! Apa pengertian ibadah atau apa pengertian ilah yang menjadi sebab perseteruan antara para nabi dengan kaumnya?! Apa hubungan antara kedua pengertian tersebut?! Jadi, harus ada pendefinisian pengertian ibadah dan pengertian ilah serta menjelaskan mana di antara keduanya yang menjadi asal persoalan dan mana yang menjadi pengikut/cabang? Inilah yang telah saya jelaskan di depan. Penjelasannya akan semakin gamblang dengan bentuk bantahan atas sanggahan-sanggahan kalian. Itu akan bisa dipahami sedikit demi sedikit, insya Allah. Persoalan di sini adalah persoalan jenis perbuatan dan macamnya. Maksudnya, persoalan keyakinan dan persepsi yang menyertai perbuatan tersebut. Bukannya persoalan derajat, kerasnya atau sifat dan bentuk perbuatan. Orang tenggelam yang minta pertolongan kepada orang yang sedang berdiri di tepi sungai/laut tidak dianggap sedang beribadah kepadanya selain Allah. Dan itu tanpa melihat bagaimana ia bersangat-sangat dalam meminta pertolongannya dan kerasnya suara permintaannya. Demikian juga keadaan orang yang tidak berani berperang setelah Allah wajibkan atas mereka, karena takut terhadap manusia dan takut mati, terluka, tersakiti dan beratnya kondisi. Bahkan ketakutan mereka terhadap manusia menyamai ketakutan mereka kepada Allah atau malah melebihi. Hal ini berdasarkan nash Al-Qur’an yang meyakinkan. Namun meskipun demikian tidak satupun orang berakal yang mengatakan bahwa dengan sikap mereka ini menjadikan mereka menjadi penyembah manusia selain Allah, alias menjadi orang musyrik dengan kesyirikan yang mengeluarkan dari agama Islam. Meskipun memang tidak diragukan lagi sikap tersebut adalah sikap tercela dan buruk. Kalau mau, kami akan tulis ratusan lembar halaman di sini untuk membuktikan bahwa tidak ada satupun perbuatan manusia di dunia, tidak ada bedanya antara perbuatan anggota badan –seperti sujud dan ruku’- maupun perbuatan hati –seperti cinta, takut dan khawatir- yang layak dari sisi sekadar perbuatannya untuk menjadi ibadah. Tetapi, untuk menyebutnya sebagai ibadah harus disertai keyakinan atau persepsi tertentu pada diri pelaku mengenai siapa obyek/tujuan dari perbuatannya. Dengan penjelasan di atas menjadi jelaslah kebatilan penamaan atau anggapan sebagian amalan sebagai ibadah, atau dengan ungkapan lebih teliti: sebagai syiar-syiar ibadah, dari sisi hanya sekadar amalan tanpa melihat apa keyakinannya pada siapa obyek tujuan ia beramal. Adapun jenis keyakinan atau persepsi mengenai obyek tujuan amalan yang akan menjadikan amalan yang ditujukan kepadanya menjadi ibadah adalah keyakinan ‘uluhiyah’, termasuk di antaranya ‘keyakinan rububiyah selain Allah’. Bukan keyakinan selain itu. Hal ini akan dipahami dengan logika syariat dan akal yang sehat. Oleh karena itu kami simpulkan kaidah penting: Tidak mungkin suatu amalan hati, atau ucapan lisan atau amalan anggota badan disebut ibadah kecuali jika didahului keyakinan uluhiyah atau rububiyah selain Allah, sekalipun hanya pada satu bagian dari makna uluhiyah atau rububiyah selain Allah, pada sesuatu yang untuknya amalan itu ditujukan. Jadi pengertian uluhiyah, termasuk di dalamnya rububiyah selain Allah, pasti mendahului pengertian ibadah. Dan ibadah tidak terjadi kecuali pasti ditujukan kepada ilah. Misalnya, barang siapa yang meyakini bahwa jin adalah makhluk di bawah pengaturan Allah. Namun ia meyakini bahwa ia mampu bersembunyi dari Allah atau mampu lolos dari pengawasan Allah. Maka dengan keyakinan semacam ini ia menjadi musyrik kafir, murtad dari Islam jika sebelumnya Islamnya sah. Akibat dari keyakinan tersebut ketakutannya kepada jin termasuk ibadah sekalipun hanya ketakutan sedikit. Dan barang kali ia meyakini mampu mengalahkannya, menantangnya, bermain-main dengannya melalui praktek sihir. Hal ini berbeda sekali dengan takutnya seorang muslim yang kabur lari dari seekor singa yang mau menerkamnya. Padahal bisa jadi ketakutannya menguasai dirinya di mana yang ada dalam hatinya hanya rasa takut. Barang kali sampai ia tidak sadar ketika jatuh ke jurang karena tidak melihatnya. Namun meskipun demikian ketakutannya tersebut bukan termasuk ibadah. Tidak mungkin ketakutannya adalah ketakutan ibadah. Tidak mungkin ia mati dalam keadaan musyrik kafir seandainya mati karena jatuh ke jurang. Barang siapa yang menganggapnya telah musyrik kafir karena ketakutan semacam itu maka ia telah hilang akal dan telah meninggalkan Islam. Nikmatilah itu! Misal di atas menjelaskan bahwa musuh dakwah wahabiyah dari kalangan sufi, briliwiyah, syiah itsna ‘asyriyah dan musuh-musuh lainnya yang memerangi dakwah wahabiyah secara membabi buta, mereka tidak lebih baik dan lebih mendalam pemikirannya ketika menjawab tuduhan dari dakwah wahabiyah ketika mereka menyebutkan ‘niat’ atau ‘maksud dari pelaku perbuatan’ bahwa itu adalah manathul hukm (sebab hukum) dalam masalah itu. Kebatilan anggapan bahwa perbedaan niat adalah sebab hukum dalam masalah itu akan nampak dari merenungkan bahwa takut misalnya, muncul, biasanya dalam jiwa. Maka tidak ada hubungannya dengan ‘kehendak’, ‘maksud’ dan ‘niat’ ketika ia menjadi ‘takut ibadah’ atau ‘takut biasa’. Meskipun niat berpengaruh berkaitan dengan celaan dan sangsi atau pujian dan pahala karena ‘amalan itu tergantung niatnya dan bagi setiap orang itu apa yang dia niatkan’. Namun ia tidak berpengaruh sama sekali dalam menentukan macam perbuatan. Pembunuh yang salah tetap disebut pembunuh sekalipun ia tidak dihukum dan tidak berhak mendapat sangsi pembunuh yang membunuh dengan sengaja. Namun realitanya ia adalah pembunuh. Ia tidak akan secara tiba-tiba berubah menjadi ‘orang yang tertawa’ atau ‘pebisnis’ disebabkan karena berubahnya niat! Mereka semua (kedua pihak yang berseteru) sama-sama berkutat dalam kontradiksi. Tidak ada bedanya antara ulama dakwah wahabiyah dan musuh mereka dalam masalah ini. Mayoritas mereka menolak untuk berpikir secara mendalam dan melakukan penelitian secara detil. Mereka lebih suka tenggelam dalam mencela, melaknat dan mengkafirkan atau mengangkat derajat ulama pendahulu mereka sampai derajat maksum (terjaga dari kesalahan) dan suci, serta bersikeras mempertahankan kesalahan mereka daripada memperbaiki kesalahan mereka dan berdoa kepada Allah memintakan ampun untuk mereka dan semoga mereka mendapatkan pahala atas ijtihad mereka, separah apapun derajat kesalahan mereka. Maka harus menghentikan rangkaian tindakan penghancuran Islam. Yang mana ini sangat dikhawatirkan oleh amirul mukminin Umar bin Khathab ra ketika ia berkata: (إِنَّمَا يَهْدِمُ اْلإِسْلاَمَ: زَلَّةُ الْعَالِمِ، وَجَدَلُ الْمُنَافِقِ بِالْكِتَابِ، وَحُكْمُ اْلأَئِمَّةِ الْمُضِلِّينَ) “Sebenarnya yang akan menghancurkan Islam adalah ketergelinciran ulama, debatnya munafik menggunakan Al-Qur’an dan hukum yang dikeluarkan oleh pemimpin yang menyesatkan.” Perkataan yang sangat bagus ini bukanlah murni hasil pemikirannya sendiri, tapi ia simpulkan dari sabda Rasulullah SAW! Hadits Abu Bakar Pengertian ibadah dengan makna istilahi yang sempit inilah pengertian yang benar, yang sesuai dengan realita dan yang tersimpulkan dari nash-nash Al-Qur’an yang sangat banyak. Itulah yang dipahami oleh salaful ummah sebagaimana yang diriwayatkan Bukhari denga isnad shahih dalam Al-Adab Al-Mufrad dari Ma’qal bin Yasar, ia berkata: انْطَلَقْتُ مَعَ أَبِي بَكْرٍ، رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، إِلَى النَّبِيِّ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ، فَقَالَ: «يَا أَبَا بَكْرٍ! لَلشِّرْكُ فِيكُمْ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ». فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ: (وَهَلِ الشِّرْكُ إِلاَّ مَنْ جَعَلَ مَعَ اللهِ إِلَهاً آخَرَ؟!)، فَقَالَ النَّبِيُّ، صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ : «وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ، لَلشِّرْكُ أَخْفَى مِنْ دَبِيبِ النَّمْلِ ، أَلاَ أَدُلُّكَ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتَهُ ذَهَبَ قَلِيلُهُ وَكَثِيرُهُ؟!»، قَالَ: «قُلْ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ أَنْ أُشْرِكَ بِكَ وَأَنَا أَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا لاَ أَعْلَمُ». Saya bersama Abu Bakar ra mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda, “Wahai Abu Bakar, syirik yang ada pada kalian lebih tersembunyi/halus/samar daripada jejak semut.” Abu Bakar menyahut, “Bukankah syirik itu tidak lain adalah menjadikan ilah lain bersama Allah?” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, syirik itu lebih tersembunyi/halus/samar daripada jejak semut. Maukah engkau aku tunjukkan sesuatu yang apabila engkau kerjakan maka, baik syirik itu sedikit maupun banyak pasti akan hilang?” Beliau melanjutkan, “Ucapkanlah: Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu sedangkan aku tahu, dan aku meminta ampun kepada-Mu dari dosa yang aku tidak tahu.” Perkataan Abu Bakar ra pertama kali: “Bukankah syirik itu tidak lain adalah menjadikan ilah lain bersama Allah?”. Begitulah, Abu Bakar membatasi syirik hanya pada bentuk semacam itu. Ini sama dengan pendapat kami yang telah kami jelaskan secara rinci di atas. Bentuk syirik yang terbayang dalam benaknya hanyalah: menjadikan ilah lain bersama Allah, yaitu meyakini selain Allah memiliki sifat uluhiyah. SYIRIK AMALIY / KECIL Adapun sabda beliau SAW: “Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, syirik itu lebih tersembunyi daripada jejak semut … dst” merupakan syariat baru dan perluasan makna syirik dalam bentuk-bentuk yang belum dikenal oleh bangsa Arab sampai saat itu. Makanya syariat baru tersebut memberikan nama pada perbuatan-perbuatan tertentu dan kehendak-kehendak tertentu sebagai kesyirikan. Dan mengkategorikannya sebagai syirik ‘amaliy dan menjadikannya dosa yang diharamkan, yang biasanya tidak mengeluarkan dari agama. Syirik ‘amaliy ini sama sekali tidak termasuk syirik kufur, yang membatalkan Islam, yang mengeluarkan dari Islam, yang menjebloskan orang yang mati di atasnya –setelah sampainya risalah dan tegak hujjah, tanpa taubat- ke dalam neraka selama-lamanya. Namun masalah ini bukan pembahasan kita dalam bab ini. Ia akan dibahas pada bab-bab yang akan datang. Kami hanya akan membahas makna ibadah secara istilahi, bukan yang lain. BAHAYA DAN BENCANA AKIBAT KAIDAH SALAH DALAM DEFINISI IBADAH Pendapat yang mengatakan bahwa sekadar perbuatan tanpa melihat persepsi dan keyakinan yang menyertainya pada obyek tujuan (untuk siapa perbuatan itu ditujukan), berpendapat bahwa itu adalah ibadah merupakan kesalahan besar dan fatal. Bukan itu saja, itu adalah bid’ah mungkar dan kesesatan besar yang mengakibatkan bencana besar, di antaranya: 1) Menuduh banyak kaum muslimin jatuh dalam kesyirikan dan kekafiran dan memvonis mereka telah keluar dari agama dan meninggalkan Islam, selanjutnya mereka harus dimusuhi, pedang dihunus, mereka harus perangi serta harta dan darah mereka dihalalkan. Ini kemungkaran besar dan kesalahan fatal yang membuat pelakunya termasuk golongan khowarij yang membunuhi umat Islam dan membiarkan penyembah berhala, atau minimal: memusuhi umat Islam dan menyerahkan loyalitas kepada penyembah berhala. 2) Mengubah makna ibadah sampai menjadi sekumpulan syiar-syiar dan upacara-upacara yang kosong dari isi; dan menjadi pembahasan-pembahasan menggelikan seputar kuburan, makam dan para wali. Maka tidak mengherankan ketika Al-Albani menamakan, misalnya, negara dinasti Saud (Saudi Arabia) sebagai negara tauhid pada kaset yang sama dengan kaset yang habis disebarluaskan untuk mendatangkan tentara Amerika dalam rangka memerangi Iraq di awal krisis Kuwait. Menurut pandangannya, Saudi Arabia negara tauhid ketika ia bertawalli kepada orang-orang kafir dan ketika ia berperang di bawah bendera mereka untuk melawan kaum muslimin, perang yang benar-benar menghancurkan. Perbuatan itu merupakan salah satu perbuatan kekafiran. Dengan itu, pelakunya menjadi kafir murtad jika tidak ada padanya penghalang-penghalang takfir. Ditambah lagi ia mengganti syariat dan menampakkan kekafiran yang nyata; misalnya dalam peraturan kewarganegaraan Saudi -rezim busuk dan rasis terkutuk- dan peraturan yang membolehkan bank-bank ribawi serta menjadi anggota organisasi-organisasi kafir seperti PBB. Kemudian kami dapati ia menamakannya secara tertulis dalam kitabnya “Tahdziir As-Saajid Min Ittikhoodz Al-Qubuur Masaajid” pada cetakan keempat yang ada di hadapanku. Kitab ini diterbitkan oleh Al-Maktab Al-Islamiy tahun 1403 H / 1983 M, pada halaman 68, di mana ia berkata, “Ketika itu saya terheran-heran bagaimana fenomena paganisme (watsaniyah) masih ada di era Daulah Tauhid (Negara Tauhid).” Mengapa ia menamkannya Daulah Tauhid?! Dan mengapa negara ini berhak mendapatkan kemuliaan yang agung ini?! Karena negara Saudi bersih dari kuburan dan makam yang dibangun. Demikianlah ia menamkan negara ini dengan penuh kelemahan, kepandiran dan kedunguan serta kedangkalan pikiran. Maha Suci Engkau ya Allah. Ini merupakan kedustaan besar! 3) Yang paling buruk dari sisi aqidah, meskipun tidak nampak, yaitu berpendapat bahwa Allah tidak menjadi ilah sejak azali. Allah menjadi ilah setelah diibadahi/disembah dalam arti setelah ada orang yang menyembahnya. Cukuplah keburukan pendapat ini. Ya, mereka yang berpendapat seperti ini pasti akan menanggapi: Ma’aadzallaah (na’uudzubillah). Allah adalah ilah sejak azali dan akan abadi. Dalam arti, Dia berhak mendapatkan ibadah setiap yang beribadah (‘aabid). Tidak ada bedanya, baik ada yang beribadah kepadanya maupun tidak atau baik ada yang mau beribadah maupun tidak. Kami katakan: Bagus, memang sudah seharusnya seperti itu jawaban kalian. Sekarang sampaikan kepada kami apa definisi ibadah menurut kalian?! Bukankah ibadah adalah setiap perbuatan yang dimaksudkan untuk mendekatkan diri kepada Allah dalam kapasitas-Nya sebagai yang berhak diibadahi, yaitu berdasarkan keyakinan pelaku bahwa Allah memang yang berhak diibadahi?! Lalu bagaimana kalian menjadikan ibadah hanya terbatas pada perbuatan-perbuatan: sujud, ruku’, menyalakan lilin, mempersembahkan persembahan, menyembelih sembelihan, komitmen melaksanakan nadzar, dst, dari sisi ia hanya sekedar perbuatan. Mungkin mereka akan langsung berkata: Tapi itu karena Allah-lah yang memerintahkan untuk melakukannya untuk diri-Nya dan Dia melarang melakukannya untuk selain-Nya. Oleh karena itulah kami menamakannya ibadah dan kami mengklasifikasikan pelaku yang memalingkannya kepada selain-Nya sebagai orang musyrik kafir. Kami katakan: ini bagian dari kebodohan kalian atau kalian terang-terangan telah berdusta. Karena telah kami buktikan pada sujud, misalnya, bahwa Allah tidak mengklasifikasikannya sebagai ibadah jika dipalingkan kepada selain-Nya dan tidak pula mengkafirkan orang yang memalingkannya kepada selain-Nya. Bahkan Dia memerintahkan para malaikat dengan perintah wajib untuk melakukannya tanpa belas kasihan. Dan Dia melaknat (mengutuk) iblis dan mengusirnya dari surga ketika ia menolak dan sombong tidak mau melakukan perintah sujud tersebut. Sehingga dengan penolakan tersebut ia menjadi kafir. Dia hanya mengharamkan sujud kepada selain-Nya pada syariat penutup ini dan sebelumnya tidak haram. Pada syariat ini itu hanya haram bukan syirik atau kufur kecuali jika disertai dengan keyakinan yang mengkafirkan (i’tiqad mukaffir). Kalian membuat syariat dengan hawa nafsu kalian dan kalian menamakan banyak hal dengan nama-nama yang kalian buat-buat sendiri, yang Allah tidak sedikit pun menurunkan keterangan tentangnya. Ditambah lagi kontradiksi pendapat kalian dan jatuhnya kalian dalam lingkaran setan yang kadang terlihat jelas kadang samar. Maka tidak mengherankan jika serangan para boneka dinasti Saud kepada Taliban –ketika majikan mereka AS memerintahkannya- terfokus pada persoalan makam dan kuburan. Lalu pembelaan dari para pembela Taliban terbatas pada penyampaian dalil-dalil bahwa mereka sedang dalam usaha menghancurkan kuburan-kuburan dan makam-makam tersebut semampu mereka?! Adapun persoalan konvensi (adat istiadat) suku yang kufur yang didiamkan Taliban, persoalan taklid buta dan kebekuan fikih yang mengekor kepada pendapat ahli fikih masa kemunduran Islam yang sampai pada tingkat zhalamiyah (zalim dan gelap), persoalan ghuluw (sikap berlebih-lebihan) dan kesalahan-kesalahan yang dilakukan Taliban, yang mengotori gambaran Islam yang putih bersih, dan persoalan pengekangan dan penyitaan hak-hak manusia yang legal, semua persoalan itu poin yang perlu dibahas dan didiskusikan atau memberikan kritik dan nasehat kepada Taliban untuk membenarkannya. Kenapa tidak ?! Bukankah syirik kubur adalah bencana dan musibah besar yang seharusnya menjadi fokus perhatian dan perlu segera diatasi sebagaimana yang ada di khayalan mereka yang sakit, mereka yang terfitnah dari kalangan pengaku salafi, pemilik aqidah shahihah menurut anggapan mereka?! Tidak mengherankan ketika kita mendengar salah satu imam dakwah wahabiyah di abad ini, yaitu Syaikh Muhammad bin Ibrahim Aalu Asy-Sayikh rahimahullah, ketika mengatakan, “Menerapkan syariat Allah tanpa selainnya merupakan saudara kandung ibadah hanya kepada Allah semata. Karena kandungan dua kalimat syahadat adalah bahwasanya Allah-lah yang berhak diibadahi, tiada sekutu bagi-Nya, dan bahwasanya hanya Rasul-Nya saja yang berhak diikuti. Tidaklah pedang jihad dihunus kecuali karena itu. Dan ketika ada perselisihan harus dikembalikan kepada syariat Allah.” [dari Fatawa Syaikh Muhammad bin Ibrahim: 12 / 251]. Ya, tidak mengherankan kaluar pernyataan semacam ini dari Syaikh Muhammad bin Ibrahim rahimahullah, pernyataan yang kurang teliti. Meskipun di dalamnya juga mengandung sisi-sisi kebaikan yang tidak boleh diingkari. Hal itu karena pernyataan beliau bertolak dari pengertian ibadah yang asli dan terbelakang, yang mana ibadah adalah sekumpulan syiar dan perbuatan lahir dan batin dari berdiri, duduk, ruku’, sujud, puasa, haji, melempar jumrah, menyalakan lilin, mempersembahkan sembelihan dan persembahan, dan yang serupa dengannya. Padahal yang benar bahwa menerapkan syariat Allah adalah ibadah kepada Allah itu sendiri atau sebagian dari ibadah kepada Allah, bukan sesuatu yang berbeda dengannya sehingga sampai dikatakan ia adalah saudara kandungnya. Karena syiar-syiar ibadah bukan ibadah itu sendiri, meskipun para ahli fikih salah menamakannya sebagai ibadah sebagai ganti dari istilah yang benar ‘syiar ibadah’. Namun ibadah adalah ketaatan kepada perintah untuk melaksanakannya, bukan syiar ibadah itu sendiri. Inilah pernyataan Nabi penutup Muhammad SAW ketika bersabda, “Itulah ibadah mereka (kepada ahbar dan ruhban).” Tidak bersabda, “Itu seperti atau saudara kandung ibadah kepada mereka” sebagai pengajaran kepada ‘Adiy bin Hatim ketika ia tidak memahami firman Allah Ta’ala, اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah” (QS. At-Taubah [9]: 31) Makanya kontan ia berkata, “Kami tidak beribadah kepada mereka.” Maka Nabi SAW menanyainya, “Bukankah mereka mengharamkan apa yang dihalalkan Allah lalu kalian ikut mengharamkannya? Dan mereka menghalakan apa yang Allah haramkan lalu kalian ikut menghalalkannya.” ‘Adiy menjawab, “Ya benar.”! Sebab terjatuh dalam kesalahan besar dan fatal ini -yang mengakibatkan berbagai musibah dan bencana- adalah ketidaktelitian dalam membedakan istilah-istilah yang berlainan. Ada perbedaan mendasar antara pengertian ibadah dalam arti ‘urfiy isthilahiy yang sempit –yang dipergunakan oleh bangsa Arab ketika Al-Qur’an diturunkan terhadap tuhan-tuhan dan sembahan-sembahan mereka, dan masih dipergunakan oleh seluruh manusia, dan itu yang biasa dipakai dalam Al-Qur’an ketika berbicara kepada orang-orang musyrik dan mendakwahi mereka kepada Islam dan tauhid-; dan antara pengertian ibadah dalam arti syar’i yang luas –yang dibawa Islam khusus untuk ‘ibadah kepada Allah’ (ibadatullah), yang dipakai untuk orang-orang beriman setelah mereka bertauhid dan beriman. Ada perbedaan antara semua itu pada satu sisi dan dari sisi asal kata ‘abd dan jamaknya ‘abiid pada sisi yang lain. Adapun makna ibadah secara ‘urfiy isthilahiy adalah juga makna ibadah secara syar’i karena syariat tidak memberikan makna selain ini, yaitu: mengarahkan perkataan, perbuatan dan syiar-syiar tertentu kepada yang diyakini mempunyai sifat uluhiyah untuk mendekatkan diri kepadanya, meminta ridha, kecintaan dan kedekatan dengannya atau menjaga diri dari kejahatannya, atau agar mendapatkan kasih sayang, kebaikan dan memperoleh nikmat darinya, atau untuk meminta pertolongan dengannya dalam rangka menolak bahaya atau mendapatkan kemanfaatan, dan yang semacamnya. Adapun makna dari sisi bahasa asli –yang mengandung makna ketundukan, pasrah dan semacamnya- makna inilah yang dimaksud dalam perkataan kami seperti: fulan A hamba sahaya fulan B, yang tidak ada hubungannya dengan persoalan syirik dan tauhid secara makna syar’i. Meskipun syariat membenci penggunaan kata ‘abd dan amah untuk hamba sahaya dan memberikan petunjuk agar menggantinya dengan kata fata (فَتَى) dan fatatun (فَتَاةُ). Makna dari sisi bahasa ini juga maksud dari seperti sabda Rasulullah SAW, “Celakalah hamba dinar, celakalah hamba dirham, celakalah hamba khamishah …”. Ini termasuk keindahan gaya bahasa Nabi karena beliau meyerupakan orang yang telah dikuasai cinta harta dan perhiasan dengan hamba sahaya yang hina yang tidak kuasa melakukan apa-apa dan tidak mampu keluar dari kekuasaan tuannya. Ini tidak ada kaitannya dengan syirik dan tauhid dengan makna syar’i isthilahiy. Meskipun orang semacam ini layak mendapat celaan dan sangsi dari Allah Ta’ala. Cuma yang jelas, ini tidak masuk dalam pembahasan: hamba Laata, hamba Uzza dan hamba Manat. Adapun makna ibadah yang luas yang dibawa Islam maka ia memperdalam dan memperluas makna isthilahiy yang sempit menurut bangsa Arab, menyesuaikan pada setiap kondisi, dan tergantung konteksnya. Seperti dalam firman Allah Ta’ala, أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَهَهُ هَوَاهُ “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya.” (QS. Al-Jaatsiyah [45]: 23) Karena ia menjadikan pendapat dan hawa nafsunya sebagai pembuat hukum (musyarri’) dan pemutus hukum (hakim). Sesuatu berhukum wajib menurutnya adalah yang menurut pendapatnya wajib, bukan yang dinyatakan wajib oleh syariat, demikian juga yang sunnah, halal, makruh, dan haram; semuanya sesuai akal dan pendapatnya atau syahwat dan hawa nafsunya. Ia menganggap diri atau hawa nafsunya sebagai pemilik siyadah (kedaulatan) dan hakimiyah (pemutus hukum). Ia menjadi musyarri’ bagi dirinya sendiri. Ia yang mendefinisikan mana yang bagus dan buruk, mana yang baik dan jelek. Inilah makna menjadikan hawa nafsunya sebagai ilah. Dengan itu ia menjadi musyrik kafir, belum masuk Islam sama sekali atau ia telah murtad setelah masuk Islam. Karena kami belum pernah mendengar ada seseorang yang membangun mihrab (bagian rumah yang paling terhormat) dirinya sendiri, yang dipersembahkan kepadanya sembelihan dan persembahan serta dinyalakan lilin, lalu ia mengadap cermin kemudian menundukan dirinya dengan ruku’ dan sujud kepada gambar dirinya yang ada di cermin!! Telah kami jelaskan bahwa siyadah dan hakimiyah itu hak Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Barang siapa yang mengatakan bahwa salah satunya milik selain Allah maka ia telah menjadikan rabb dan ilah bersama Allah, itu tanpa melihat penamaan, baik ia menamakan dengan terang-terangan uluhiyah atau rububiyah atau menamakannya ‘melaksanakan siyadah atau kebebasan sebagaimana omong kosong orang-orang aliran ekstensialisme (al-wujudiyyun) –semoga Allah menghinakan, megutuk dan menghancurkan mereka; atau dengan menamakan ‘untuk menentukan nasib’, kedaulatan rakyat, kedaulatan negara, dikembalikan kepada hak tuhan milik raja, tindakan rasional, atau pemikiran politik yang membawa masalahat. Makna ibadah dalam arti yang luas ini juga maksud dari firman Allah Ta’ala, وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَى أَوْلِيَائِهِمْ لِيُجَادِلُوكُمْ وَإِنْ أَطَعْتُمُوهُمْ إِنَّكُمْ لَمُشْرِكُونَ “Sesungguhnya syaitan itu membisikkan kepada kawan-kawannya agar mereka membantah kamu; dan jika kamu menuruti mereka, sesungguhnya kamu tentulah menjadi orang-orang yang musyrik.” (QS. Al-An-‘aam [6]: 121) Yaitu jika kamu menaati dan mengikuti mereka (orang-orang musyrik) dalam penghalalan bangkai maka kamu menjadi kafir musyrik, keluar dari Islam, mengakui hak siyadah, hakimiyah dan tasyri’ untuk selain Allah. Inilah kesyirikan yang dimaksud di sini. Yaitu syirik kufur, yang membatalkan Islam, yang mengeluarkan dari millah bagi yang sebelumnya ada di dalamnya, yang tidak ada kitannya sama sekali dengan duduk, ruku’, sujud, sa’i atau thowaf. Termasuk dalam bab ini adalah firman Allah Ta’ala, اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah” (QS. At-Taubah [9]: 31) Ada riwayat tentang tafsir ayat ini dari ‘Adiy bin Hatim ra bahwa ia mendengar Rasulullah SAW membaca ayat ini, Adiy berkata, “Saya mengatakan kepada beliau, ‘Kami tidak beribadah kepada mereka.’ Maka Nabi SAW menanyainya, “Bukankah mereka mengharamkan apa yang dihalalkan Allah lalu kalian ikut mengharamkannya? Dan mereka menghalakan apa yang Allah haramkan lalu kalian ikut menghalalkannya.” ‘Adiy menjawab, “Ya benar.” Beliau bersabda, “Itulah ibadah kalian kepada mereka.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi dalam Sunannya). Di sini ‘Adiy memahami ibadah dalam arti yang sempit (syiar-syiar ibadah yang menandakan merendahkan dan menundukkan diri), sebagaimana pemahaman orang-orang Arab, bahkan mayoritas penduduk bumi dalam memahami makna ibadah. Makanya Nabi SAW mengajarinya bahwa mengakui hak tasyri’ bagi orang-orang alim dan rahib-rahib dan menjadikan mereka sebagai arbab yang memiliki siyadah adalah bentuk ibadah kepada mereka dalam arti yang luas (merendahkan dan menundukkan diri bersama taat dan ittiba’ serta bersama cinta dan loyalitas), yang semuanya pada akhirnya akan kembali pada taat kepada perintah yang terbangun atas keyakinan bahwa yang ditaati mempunyai kapasitas sama dengan Allah (uluhiyah). Imam Abu Muhammad Ali bin Hazem Al-Andalusiy mengungkapkan hal ini dalam Al-Ihkaam fii Ushuulil Ahkaam dengan ungkapan cukup berlebihan ketika ia mengatakan, “Perkataan orang yang berkata, ‘Saya beribadah kepada malaikat’ tidak pula ucapan orang-orang Nashara, ‘Kami menyembah Al-Masih (Isa AS)’ tidak otomatis menunjukkan kejujuran mereka. Karena ibadah berasal dari ubudiyah (penghambaan). Yang beribadah/menyembah seseorang adalah orang yang tunduk kepadanya dan orang yang mengikuti perintahnya. Adapun orang yang durhaka dan menyelisihinya bukanlah hambanya. Sehingga dia dusta dalam pengakuannya bahwa ia menyembahnya). Yang ia maksudkan adalah menjelaskan ketidakjujuran mereka, yaitu tidak sesuai dengan fakta di lapangan, sesuai dengan yang akan nampak nanti pada hari kiamat ketika tabir sudah disingkap. CATATAN UNTUK PEMBATAL ISLAM PERTAMA Hal 262 BANTAHAN KEPADA SYAIKH NASHIR AS-SA’DIY MENGENAI DEFINISI SYIRIK AKBAR Maka tidak benar apa yang diklaim Syekh Abdurrahman bin Sa’diy ketika mengatakan dalam kitabnya Al-Qoul As-Sadid Syarh kitab Tauhid yang telah dicetak dengan banyak versi. Yang sekarang di hadapanku ini berupa kitab kecil terbitan Maktab Ad-Da’wah fi Britaniya yang merupakan bagian dari seri Rasaa-il Al-Ishlah wal Fiqh No. 27. Ia berkata, “Batasan dan tafsir syirik akbar yang mencakup macam-macamnya adalah memalingkan salah satu jenis ibadah kepada selain Allah. Setiap keyakinan, ucapan atau amalan yang terbukti diperintahkan oleh Allah ketika dipalingkan hanya kepada Allah semata adalah tauhid, iman dan ikhlas dan ketika dipalingkan kepada selain Allah adalah syirik dan kufur. Engkau harus memegang kaidah syirik akbar ini karena tidak a
  2. CATATAN UNTUK PEMBATAL ISLAM PERTAMA

    Hal 262 Kitab Tauhid Syaikh Mas’ariy

    BANTAHAN KEPADA SYAIKH NASHIR AS-SA’DIY MENGENAI DEFINISI SYIRIK AKBAR

    Maka tidak benar apa yang diklaim Syekh Abdurrahman bin Sa’diy ketika mengatakan dalam kitabnya Al-Qoul As-Sadid Syarh kitab Tauhid yang telah dicetak dengan banyak versi. Yang sekarang di hadapanku ini berupa kitab kecil terbitan Maktab Ad-Da’wah fi Britaniya yang merupakan bagian dari seri Rasaa-il Al-Ishlah wal Fiqh No. 27. Ia berkata,

    “Batasan dan tafsir syirik akbar yang mencakup macam-macamnya adalah memalingkan salah satu jenis ibadah kepada selain Allah. Setiap keyakinan, ucapan atau amalan yang terbukti diperintahkan oleh Allah ketika dipalingkan hanya kepada Allah semata adalah tauhid, iman dan ikhlas dan ketika dipalingkan kepada selain Allah adalah syirik dan kufur. Engkau harus memegang kaidah syirik akbar ini karena tidak ada satu pun yang keluar darinya.”

    Bandingkan definisi ini dengan definisi yang dipahami Abu Bakar yang diriwayatkan oleh Bukhari dengan isnad shahih dalam Al-Adab Al-Mufrad: dari Ma’qal bin Yasar ia berkata: saya bersama Abu Bakar mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
    Beliau bersabda,
    “Wahai Abu Bakar, syirik yang ada pada kalian lebih tersembunyi/halus/samar daripada jejak semut.”
    Abu Bakar menyahut,
    “Bukankah syirik itu tidak lain adalah menjadikan ilah lain bersama Allah?”
    Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,
    “Demi Dzat yang jiwaku ada di tangan-Nya, syirik itu lebih tersembunyi/halus/samar daripada jejak semut. Maukah engkau aku tunjukkan sesuatu yang apabila engkau kerjakan maka baik syirik itu sedikit maupun banyak pasti akan hilang?”
    Beliau melanjutkan,
    “Ucapkanlah: Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari menyekutukan-Mu sedangkan aku tahu, dan aku meminta ampun kepada-Mu dari dosa yang aku tidak tahu.”

    Syirik dalam benak Abu Bakar tidak lain adalah menjadikan ilah lain bersama Allah, sementara beliau sendiri adalah orang Arab dari Quraisy yang fasih bahasanya. Syirik yang terbayang dalam benak Abu Bakar adalah meyakini uluhiyah pada selain Allah. Maksud syirik di sini adalah syirik akbar, syirik kufur.

    SISI-SISI KEBATILAN DEFINISI SYIRIK AKBAR DARI SYEKH ABDURRAHMAN BIN SA’DIY

    Kebatilan definisi Syekh Abdurrahman bin Sa’diy sangat jelas. Hal itu disebabkan karena:

    1) Ia menjadikan keyakinan dan amalan ada pada satu tingkat padahal sudah saya buktikan bahwa keyakinan uluhiyah mendahului definisi ibadah. Sekadar keyakinan murni, itu bukanlah perbuatan, dan tidak bisa disebut ibadah alias bukan ibadah. Namun, ibadah i’tiqadiyah adalah seseorang yang mendekatkan diri kepada sesuatu yang diyakini memiliki uluhiyah dengan keyakinannya tersebut, yakni menjadikan keyakinannya sebagai qurbah (bentuk pendekatan diri), maka ia bukan sekadar tashdiq (pembenaran) atau keyakinan murni.

    Seandainya ada seorang yang yakin bahwa uluhiyah itu tidak berbilang dan bahwa yang ada hanyalah ilah yang satu yaitu Allah. Yakni, seandainya ia bersaksi bahwasanya laa ilaaha illallaah maka ia benar dan yang mengatakannya juga benar. Bisa jadi ia adalah pemikir jenius atau ahli filsafat kesohor tetapi ia tidak dinamakan ‘abid (orang yang beribadah), bukan muslim dan bukan pula mukmin dengan iman yang syar’i sebelum ia menjadikan keyakinannya itu sebagai qurbah yang ia persembahkan kepada Allah, untuk mencari wajah Allah.

    Definisi Syirik Akbar

    2) Bahwa syirik akbar adalah sekadar hanya meyakini bahwa selain Allah memiliki sifat uluhiyah, tanpa melihat apakah ia melakukan amalan atau mengucapkan suatu perkataan –yang bisa disebut ibadah- yang dipersembahkan kepada selain Allah tersebut; atau menjadikan keyakinan apapun sebagai qurbah yang dipersembahkan kepada sesuatu yang diyakini memiliki sifat uluhiyah.

    3) Segala perbuatan yang dimaksudkan untuk merendahkan diri dan menampakkan pengagungan, atau mendekatkan diri dan menampakkan kecintaan, atau meminta mendatangkan manfaat dan menolak bahaya, dan menampakkan kefakiran serta merasa butuh kepada orang / sesuatu yang diyakini punya sifat uluhiyah maka itu semua adalah ibadah tanpa melihat apakah semua itu dan yang semisalnya diserahkan kepada Allah dengan dalil syar’i ataupun tidak. Tarian orang-orang musyrik untuk tuhan-tuhan mereka adalah ibadah, padahal Allah tidak diibadahi dengan tarian. Demikian juga tepuk tangan dan siulan. Serta wanita yang menyediakan dirinya untuk disetubuhi kaum lelaki tanpa ikatan pernikahan dalam sebagian upacara yang itu pada sebagian para penyembah berhala di India sebagai ibadah, tetapi itu semua menurut umat Islam bukanlah ibadah. Bahkan yang terakhir ini merupakan perbuatan keji dan dosa besar. Demikian seterusnya.

    Hadits Abu Bakar tadi juga membantah definisi syirik asghar yang dikemukakannya. Ia mendefinisikan syirik asghar: setiap wasilah atau sarana yang mengantarkan kepada syirik akbar baik berupa keinginan, ucapan dan perbuatan-perbuatan yang tidak sampai pada derajat ibadah.

    Definisi ini batil dari beberapa segi:

    1) Definisinya tentang ibadah dan syirik akbar kacau dan batil, sebagaimana kami jelaskan. Dia memasukkan ibadah dan syirik akbar dalam definisi syirik asghar sehingga batasannya tidak bisa diketahui dan tidak jelas. Sehingga kurang bermanfaat.

    2) Penamaan syirik asghar (kecil) murni penamaan syar’i dan tidak dikenal oleh bangsa Arab dalam pembicaraan mereka. Ia ada untuk menamakan perbuatan-perbuatan tertentu. Nash-nash tentangnya tidak menyebutkan illat atau beberapa illat yang membolehkan untuk mengkiyaskan kepadanya dengan kiyas yang jelas batasannya sehingga kita boleh menjeneralisir dengan lafal “setiap”. Sehingga kesimpulan dari tindakan menjeneralisir ini adalah menamakan perbuatan-perbuatan tertentu sebagai syirik padahal Allah dan Rasul-Nya tidak menamakannya syirik. Inilah perbuatan membuat bid’ah dalam dien Allah serta bentuk mendahului Allah dan Rasul-Nya dan ini kesalahan yang sangat besar. Sementara mereka menganggap diri mereka sebagai ahli ittiba’ bukan ahli bid’ah. Sampai-sampai ada sebagian mereka yang menghabiskan sebagian besar umurnya hanya untuk memerangi bid’ahnya biji-biji tasbih dan bid’ahnya keluar (khuruj) tiga hari bersama jamaah tabligh?!

  3. Wah sayang … malah dihapus … ya ana tetap husnuzhan sama dewan asatidz, semoga tulisan itu dihapus di sini untuk dikaji dan ditanggapi, tidak untuk disimpan di laptop atau komputer kemudian dibiarkan saja …

    Baarokalloohu fiikum jamii’an …

    Wa hadaanalloohu wa iyyaakum ilaa shiroothil mustaqiim …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s