Akidah

I B A D A H

“dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi (beribadah) kepada-Ku.”  QS. Adz Dzariyat, 51: 56

Asal sebutan ibadah adalah tunduk. Sebutan ‘ibadah, tunduk, dan kerendahan sangat berdekatan maknanya. Seluruh bentuk ketundukan yang tidak ada lagi bentuk ketundukan setelahnya (puncak ketunduk-an), maka sudah disebut ibadah, baik dengan ketaatan atau tanpa ketaatan.

Al-‘Abdiyyah, Al-‘Ubudiyyah, Al-‘Ubudah dan Al-‘Ibadah adalah ketaatan, tunduk dan Sebagaimana dalam firman-Nya :

“Dan mereka berkata: “Apakah (patut) kita percaya kepada dua orang manusia seperti kita (juga), Padahal kaum mereka (Bani Israil) adalah orang-orang yang menghambakan diri kepada kita?”   (QS. Al Mu’minun: 47)

Imam Ath-Thobariy dalam menafsirkan ayat ini berkata: “Maksudnya mereka (pengikut Musa dan Harun) ta’at, tunduk, segala permasalahan diserahkan kepada mereka (pengikut Fir’aun) dan berpegang dengan perintah-perintah mereka. Orang Arab menamai setiap yang berpegang dengan pemerintahan seorang penguasa dengan : mengibadahinya”.

Adapun secara istilah ibadah adalah nama yang mencakup segala sesuatu yang diridhai Allah dan dicintai-Nya, baik berupa perkataan maupun perbuatan, yang dzahir maupun yang batin. (Fathul Majid hal 12)

Ibnu Katsir ra berkata:  Secara syar’i ibadah adalah perbuatan yang mengumpulkan kesempurnaan mahabbah (cinta), khudhu’ (ketundukan) dan khouf (rasa takut).

Menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah;

Ibadah adalah sebutan untuk segala hal yang dicintai dan diridloi Allah, berupa perkataan dan perbuatan, yang nampak ataupun yang tidak nampak. Mengandung di dalamnya puncak kerendahan (tunduk) kepada Allah, dengan dibarengi puncak kecintaan kepada-Nya.

Ibnu Qudamah berkata ; Telah berkata beberapa ulama’ salaf, “Saya berusaha untuk selalu mempunyai niat (niat ibadah) pada segala sesuatu. Bahkan sampai makan, minum, tidur dan masuk kamar mandi ..” karena segala sesuatu yang mubah kalau diniatkan (niat ibadah) akan bernilai taqorrub.

Landasan Ibadah Kepada Allah

Dalam kitab : al-madkhol lidzirasatil a’qidah al-islamiyah,’ DR. Ibrahim bin Muhammad al-Buraikaan menyebutkan, ’Bahwa beribadah kepada Allah Ta’ala harus dibangun atas landasan sebagai berikut:

Landasan Pertama: Rasa Cinta.

Maksudnya adalah mencintai Allah dan Rasu-Nya, yang terkandung didalamnya lebih mendahulukan rasa cinta kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya dari selain keduanya. Oleh karena itu, seorang hamba hendaknya memperhatikan tiga (maqomat) rasa cinta kepada Allah dan Rasul-Nya.

Pertama: Maqoomut Takmiil; yaitu menjadikan Allah Ta’ala dan Rasul-Nya lebih ia cintai dari pada selain keduanya.

Kedua: Maqoomu at-Tafriiq. Yaitu hendaknya seorang hamba mencintai sesuatu kecuali karena Allah Ta’ala, disamping harus bisa membedakan antara apa-apa yang dicintai oleh Allah dari amal shalih, perkataan dan seseorang serta apa-apa yang dibenci oleh Allah Ta’ala.

Ketiga: Maqoomu Daf’i Dzid. Yaitu membenci terhadap sesuatu yang dapat merusak dan membatalkan keimanan dan yang lebih besar lagi adalah membenci apabila dilempar ke Neraka.

Sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam,

“Tiga hal, jika terdapat pada diri seseorang, maka ia akan merasakan manisnya iman ; hendaknya Allah dan Rasul Nya lebih dicintai dari selain keduanya. Mencintai orang lain semata-mata karena Allah dan benci kembali kepada kekufuran seperti kebenciannya dilemparkan kepadalam api neraka”. (HR. Al-Bukhari)

Landasan Kedua: Rasa Takut.

Maksudnya adalah takut kepada Allah Ta’ala merupakan tujuan dan kesempurnaan ibadah, dimana tidak ada yang ditakuti kecuali hanya Allah Ta’ala. takut kepada Allah merupakan bentuk (ubudiyah) hati, yang hal itu tidak akan benar kecuali hanya kepada Allah Ta’ala semata.

Disisi lain takut kepada Allah Ta’ala merupakan ibadah  yang paling besar kedudukannya, rasa takut yang demikian  akan memberikan pengaruh dari pengetahuan akan kekuasaan Allah, keagungan-Nya dalam menciptakan, keagungan akan kekuasaan-Nya dan betapa dasyat siksaan-Nya serta betapa keras siksaan-Nya yang akan diberikan kepada orang-orang yang memusuhi-Nya dan Rasul-Nya serta para wali-Nya dan tidaklah Allah akan menurunkan adzab kepada mereka saat di dunia.

Demikian juga rasa takut kepada Allah akan tumbuh pada diri seorang mu’min disaat memperhatikan  nash-nash yang berupa ancaman dan memfikirkan terhadap apa yang dijanjikan oleh Allah kepada orang-orang yang memusuhi-Nya dan Rasul-Nya serta para wali-Nya baik berupa adzab kubur maupun neraka Jahannam.

Oleh karena itu sudah seyogyanya bagi seorang mu’min merasa yakin bahwa Dia-lah Allah yang maha berkehendak akan segala sesuatu, sehingga dalam hatinya akan tumbuh rasa takut kepada Allah dan takut akan terjerumus kedalam jurang kemaksiatan. Dalam hal ini Allah Ta’ala telah berfirman:

bagi mereka lapisan-lapisan dari api di atas mereka dan di bawah merekapun lapisan-lapisan (dari api). Demikianlah Allah mempertakuti hamba-hamba-Nya dengan azab itu. Maka bertakwalah kepada-Ku Hai hamba-hamba-Ku. (QS. Az-Zumar: 16)

dan mereka berkata: “Mengapa ia tidak membawa bukti kepada Kami dari Tuhannya?” dan Apakah belum datang kepada mereka bukti yang nyata dari apa yang tersebut di dalam Kitab-Kitab yang dahulu?  (QS. Thaha: 113).

Diantara buah yang tumbuh dari rasa takut kepada Allah Ta’ala adalah:

1.         Senantiasa menjauhi kemaksiatan kepada Allah.

2.         Senantiasa menjalankan kewajiban-kewajiban dan ketaatan, sekaligus berusaha untuk menjaganya.

3.         Senantiasa berinteraksi dengan Allah Ta’ala.

4.         Senantiasa memantap-kan hati agar tidak takut kepada makhluk kecuali hanya kepada Allah Ta’ala semata..

Landasan Ketiga: Rasa Harap.

Yaitu harapan untuk memperoleh apa yang ada di sisi Allah berupa ridha, pahala dan surga-Nya tanpa rasa putus asa. Dengan adanya harapan terhadap karunia-karunia Allah yang agung ini, seorang hamba akan bersemangat untuk beramal shalih dan menjauhi segala kemaksiatan. Pada dasarnya, rasa harap ada dua macam;

1. Rasa harap hamba yang melakukan amal kebajikan untuk diterima, diridhai dan dibalas oleh Allah subhaanahu wata’aala dengan pahala dari-Nya.

2. Rasa harap hamba yang melakukan amal keburukan untuk diterima taubatnya. Firman Allah

Katakanlah: ‘Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. QS. Az Zumar: 53)

Rasa harap hanya bisa muncul bila seorang hamba melakukan amal kebajikan dan bertaubat dari perbuatan buruk. Adapun harapan yang tidak disertai amal dan taubat adalah angan-angan kosong dan tipuan setan. Firman Allah,

dan tetapkanlah untuk Kami kebajikan di dunia ini dan di akhirat; Sesungguhnya Kami kembali (bertaubat) kepada Engkau. Allah berfirman: “Siksa-Ku akan Kutimpakan kepada siapa yang aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat kami”.

(yaitu) orang-orang yang mengikut rasul, Nabi yang Ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk dan membuang dari mereka beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Maka orang-orang yang beriman kepadanya. memuliakannya, menolongnya dan mengikuti cahaya yang terang yang diturunkan kepadanya (Al Quran), mereka Itulah orang-orang yang beruntung. QS. Al A’raaf: 156-157

wallaahu a’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s