Akidah

I M A N

Iman berasal dari kata dasar aamana-yu’minu-iimanan yang dalam bahasa arab berarti percaya atau membenarkan. Adapun menurut Istilah syar’i, iman adalah ucapan dan perbuatan, yaitu ucapan hati, amalan hati, ucapan lisan, amalan lisan dan amalan anggota badan, bisa bertambah dengan ketaatan dan berkurang karena kemaksiatan. inilah definisi iman yang benar menurut Alquran, Assunnah dan kesepakatan ulama ahlus sunnah (ijma’)

Maka, iman adalah gabungan dari lima unsur, yaitu:

1. Ucapan hati, yaitu membenarkan, mengilmui dan memahami sepenuhnya.

2. Amalan hati, yaitu berserah diri kepada Allah, tunduk kepada perintah dan larangan Allah, mengikhlaskan niat untuk mencari ridha Allah semata, mencintai Allah, takut kepada-Nya, berharap kepada Allah, bergantung kepada-Nya, menerima ketentuan Allah dengan lapang dada, sabar dalam menjalankan perintah. Termasuk didalamnya meninggalkan kesombongan, riya’, sum’ah, ujub dll.

3. Ucapan lisan, yaitu mengucapkan dua kalimat syahadat.

4. Perbuatan lisan, yaitu membaca Alquran, dzikir, istighfar, dakwah dan amar ma’ruf nahi munkar dengan lisan, berkata yang baik dan lain sebagainya. Termasuk didalamnya meninggalkan ghibah (menggunjing), namimah (adu domba), mencela muslim dan ucapan lainnya yang dilarang oleh Alquran dan Assunnah.

5. Perbuatan anggota badan, yaitu mengerjakan shalat, zakat, shiyam, haji, umrah berjihad dan lain sebagainya. Unsur-unsur ini harus dipenuhi agar imannya benar, sah dan sempurna. Iblis dan Fir’aun membenarkan dalam hatinya bahwa Allah adalah pencipta dan pengatur alam semesta, namun karena tidak disertai dengan amalan hati, yaitu kecintaan dan ketundukan kepada Allah, maka keduanya adalah kafir.

Demikian pula orang-orang munafik, sekalipun lisan dan anggota badannya beramal, namun karena tidak disertai oleh ucapan hati (membenarkan) dan amalan hati, maka ia bukan seorang mukmin.

Penjelasan Para Ulama

Berikut ini kutipan dari penjelasan para ulama ahlus sunnah tentang pengertian iman.

a. Imam Syafi ra

Sudah menjadi kesepakatan (ijma) dari generasi shahabat dan tabi’in sesudahnya yang telah kami temui, bahwa iman adalah ucapan, perbuatan, dan niat. Satu bagian dari ketiganya tidak dapat mewakili yang lain.

b. Imam Ibnu Abdil Barr berkata:

Seluruh ulama fikih dan hadits telah bersepakat bahwa iman adalah ucapan dan perbuatan, dan tidak ada perbuatan tanpa niat.

c. Imam Al Baghawi berkata:

Telah bersepakat generasi shahabat dan tabi’in sesudah mereka dari kalangan ulama ahli sunnah bahwa amal termasuk bagian dari iman dan mereka menyatakan bahwa iman adalah ucapan, perbuatan dan akidah.

d. Imam Bukhari berkata:

Saya telah menemui lebih dari seribu ulama diberbagai negeri islam. Saya tidak mendapati seorang pun diantara mereka yang berselisih pendapat, bahwa iman adalah ucapan dan perbuatan, bertambah dan berkurang.

Pokok Iman Didalam Hati

Artinya, keimanan hati merupakan syarat sah dan benarnya keimanan. Keimanan hati disini bukan sebatas mengetahui dan membenarkan Allah dan Rasul-Nya semata, namun juga harus disertai dengan amalan-amalan hati yang diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya, seperti tunduk kepada kepada perintah-Nya, mencintai, berserah diri dan berharap pada Allah.

Hal ini ditegaskan oleh Firman Allah,

a. Firman Allah Ta’ala

“Mereka itu adalah orang-orang yang telah dicatat (diteguhkan) keimanan dalam hati mereka.” (QS. Al Mujadilah: 22)

b. Firman Allah Ta’ala

“Akan tetapi Allah menjadikan kalian mencintai iman dan Dia menghiaskan iman didalam hati kalian.” (QS. Al Hujurat:7)

c. Firman Allah Ta’ala

“Akan tetapi, iman belum masuk kedalam hati kalian”. (QS. Al Hujurat: 14)

d. Firman Allah Ta’ala “…kecuali orang yang dipaksa untuk kafir, sementara hatinya tetap mantap dalam keimanan…”. (QS. An Nahl: 106)

e. Sabda Rasulullah SAW

“Wahai segenap orang (munafik) yang beriman sebatas ucapan di lisan, namun sebenarnya iman belum masuk kedalam hatinya…”. HR. Abu Dawud

Jika hatinya telah terisi dengan qaulul qalbi dan amalul qalbi, niscaya akan menggerakkan lisan dan anggota badannya untuk patuh melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya.

Iman didalam hati akan menggerakkan lisan untuk mengucapkan perkataan-perkataan yang baik dan menggerakkan badan untuk melakukan amalan-amalan yang baik dan menjauhi amalan-amalan yang buruk. Hati yang seperti ini akan melahirkan amal-amal shalih. Keimanan dan keshalihan dalam hati akan membangkitkan keimanan dan keshalihan lisan dan anggota badan.

Buruknya amal lisan dan anggota badan menunjukkan buruknya keyakinan dan amalan dalam hati. Begitu juga, kekafiran yang dilakukan oleh lisan dan anggota badan menunjukkan hilangnya keyakinan dan amalan hati dalam diri seorang hamba. Sebaliknya, ucapan lisan yang baik dan amalan anggota badan yang baik juga berpengaruh besar dalam mengokohkan keyakinan dan amalan hati.

Jadi, masing-masing saling mempengaruhi satu sama lain. Sebagaimana dijelaskan dalam hadits,

“Ingatlah, Sesungguhnya dalam jasad itu ada sekerat daging, jika baik, maka baiklah jasad seluruhnya. Dan jika ia rusak, maka rusaklah jasad seluruhnya. Ketahuilah bahwa sekerat daging itu adalah hati”. (HR. Bukhari)

wallaahu a’lam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s