Akidah

TAUHID

Tauhid adalah perkara pokok yang harus diketahui dan difahami oleh setiap hamba Allah. Karena ia syarat mutlak diterima sebuah amal ibadah. Jika dalam beramal shalih atau melakukan suatu kebajikan tetapi diniatkan untuk kepada selain Allah, maka amal tersebut batal.

Dan seruan (dakwah) kepada tauhid adalah misi pertama yang diemban oleh seluruh Nabi dan Rasul Allah.

Sebagaimana kewajiban pertama yang harus diketahui seorang hamba adalah mengenal-Nya. Firman Allah,

Maka ketahuilah, bahwa Sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, Tuhan yang berhak disembah) selain Allah. (QS. Muhammad: 19)

Pengertian Tauhid

Tauhid berasal dari bahasa arab wahhada yuwahhidu tauhiidan yang berarti ‘menyatukan’, ‘menjadikan sesuatu sebagai satu-satunya’, atau ‘meng-Esakan-Nya’.

Adapun secara istilah ilmu akidah adalah mengesakan Allah, meyakini keesaan Allah dalam rububiyyah-Nya, ikhlas beribadah kepada-Nya, serta menetapkan bagi-Nya nama-nama dan sifat-sifat kesempurnaan-Nya. Dengan demikian tauhid ada tiga macam:

Tauhid Rububiyyah

Tauhid Uluhiyyah dan

Tauhid Asma’ Wa Sifat

Syekh Abdur Rohman bin Nashir As Sa’die menulis bahwa dimaksud dengan tauhid adalah :

Mengetahui dan mengakui ke-Esa-an Rabb (Allah) dengan kesempurnaan sifat-sifat-Nya dan mengikrarkan ke-Esa-an-Nya dengan keagungan sifat-sifat-Nya serta meng-Esa-kan-Nya dalam Ibadah.

Pengertian ini mengandung tiga kalimat. Kalimat pertama – Mengetahui dan mengakui ke-Esa-an Rabb (Allah) dengan kesempurnaan sifat-sifat-Nya – mengacu pada tauhid Asma dan Shifat. Kalimat kedua – mengikrarkan ke-Esa-an-Nya dengan keagungan sifat-sifat-Nya – mengacu pada tauhid Rububiyah. Kata ikrar di sini lebih dekat kepada makna pengakuan dalam hati meski juga bisa diartikan ikrar secara lisan sesuai dengan esensi makna tauhid Rububiyah. Sementara kalimat ketiga – meng-Esa-kan-Nya dalam Ibadah – mengacu pada tauhid Uluhiyah.

Syekh  Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin memberikan pengertian senada :

Tauhid adalah meng-Esa-kan  apa-apa yang khusus bagi Allah ‘azza wa jalla dalam hal Rububiyah, Uluhiyah dan Asma wa Shifat.

TAUHID MISI DAKWAH PARA RASUL

Jika kita memperhatikan kisah para nabi dan rasul yang tercantum didalam Al quran, kita dapatkan bahwa mereka seluruhnya mengajak umatnya kepada satu kalimat, yaitu agar mereka beribadah kepada Allah dan tidak ada sekutu bagi-Nya. Misi mereka semuanya sama, yaitu mengingatkan kamunya agar tidak terjerumus kepada kemusyrikan, meski syariat atau tatacara ibadah dan muamalat masing-masing nabi dan rasul.

Pembelajaran tauhid merupakan prioritas pertama dalam agenda dakwah para nabi dan rasul. Seluruh nabi dan rasul yang diutus oleh Allah mengajak umatnya pertama kali untuk menerima, meyakini dan melaksanakan tauhid. Seluruh usaha dakwah mereka dipusatkan agar kaumnya beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Firman Allah:

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum engkau melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasannya tidak ada ilah yang berhak diibadahi selain Aku, maka beribadahlah kalian sekalian kepada-Ku”. (QS. Al Anbiya: 25)

Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh menjelaskan bahwa, “Ayat ini menunjukkan bahwa hikmah diutusnya para rasul adalah agar mereka mengajak kaumnya untuk beribadah kepada Allah semata, dan melarang mereka dari beribadah kepada selain-Nya. Ayat ini juga menunjukkan bahwa hal ini merupakan agama seluruh nabi dan rasul”.

Dalam ayat yang lain, Allah subhaanahu wata’aala berfirman,

“Dan sungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, … (QS. An Nahl: 36)

“Dan Tanyakanlah kepada Rasul-rasul Kami yang telah Kami utus sebelum kamu: “Adakah Kami menentukan tuhan-tuhan untuk disembah selain Allah yang Maha Pemurah?” (QS. Az Zukhruf: 45)

Tentang Dakwah Para Nabi

1. Allah berfirman tentang Nabi Nuh as.

“Sesungguhnya Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: “Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya.” Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat). (QS. Al A’raaf: 59)

2. Allah berfirman tentang Nabi Hud as.

“Dan kepada kaum ‘Ad (kami utus) saudara mereka, Huud. ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. kamu hanyalah mengada-adakan saja. (QS. Huud: 50)

3. Allah berfirman tentang Nabi Shalih as.

“Dan (kami telah mengutus) kepada kaum Tsamud saudara mereka shaleh. ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya. (QS. Al A’raaf: 73)

4. Allah berfirman tentang Nabi Ibrahim as.

“Dan (ingatlah) Ibrahim, ketika ia berkata kepada kaumnya: “Sembahlah olehmu Allah dan bertakwalah kepada-Nya. yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.”

“Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu adalah berhala, dan kamu membuat dusta. Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezki kepadamu; Maka mintalah rezki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. hanya kepada- Nyalah kamu akan dikembalikan. (QS. Al Ankabut: 16-17)

5. Allah berfirman tentang Nabi Luth as.

“Kaum Luth telah mendustakan rasul-rasul, ketika saudara mereka, Luth, berkata kepada mereka: mengapa kamu tidak bertakwa?” Sesungguhnya aku adalah seorang Rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu, Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. (QS. As Syu’ara: 160-163)

6. Allah berfirman tentang Nabi Syu’aib as.

“Dan (kami telah mengutus) kepada penduduk Madyan saudara mereka, Syu’aib. ia berkata: “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada Tuhan bagimu selain-Nya”. (QS. Al A’raaf: 85)

7. Allah berfirman tentang Nabi Yusuf as.

“Sesungguhnya aku telah meninggalkan agama orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, sedang mereka ingkar kepada hari kemudian. Dan aku pengikut agama bapak-bapakku Yaitu Ibrahim, Ishak dan Ya’qub. Tiadalah patut bagi Kami (para Nabi) mempersekutukan sesuatu apapun dengan Allah. yang demikian itu adalah dari karunia Allah kepada Kami dan kepada manusia (seluruhnya); tetapi kebanyakan manusia tidak mensyukuri (Nya). Hai kedua penghuni penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah yang Maha Esa lagi Maha Perkasa? Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) Nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang Nama-nama itu. keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Yusuf: 37-40)

8. Allah berfirman tentang Nabi Isa as.

“Sesungguhnya Allah, Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus”. (QS. Ali Imran: 51)

9. Adapun kepada Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam Allah subhaanahu wata’aala berfirman,

“Aku hanya diperintahkan untuk menyembah Tuhan negeri ini (Mekah) yang telah menjadikannya suci dan kepunyaan-Nya-lah segala sesuatu, dan aku diperintahkan supaya aku Termasuk orang-orang yang berserah diri.” (QS. An Naml: 91)

Demikianlah, seluruh nabi dan rasul Allah mengajak umatnya untuk bertauhid; beribadah kepada Allah semata dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun.

Dakwah tauhid, penjelasan tentang akidah yang shahih dan peringatan terhadap bahaya syirik merupakan pokok pertama dalam dakwah para rasul, sejak nabi Nuh alaihissalam hingga Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam. Inilah tujuan pokok yang dengannya akan baik seluruh urusan dunia dan agama mereka.

edisi V/V/Muharram 1431

Luqman Hakim berkata kepada putranya: Wahai putraku, seribu hikmah kupelajari, kupilih darinya empat ratus hikmah, dan dari empat ratus itu kuambil delapan kalimat yang merupakan kumpulan segenap kalimat hikmah:

Putraku! Dua hal yang tidak boleh engkau lupakan sama sekali:

1. Tuhan

2. Kematian

Dua hal yang senantiasa harus engkau lupakan:

1. Kebaikan yang engkau lakukan kepada seseorang

2. Kejahatan yang orang lain lakukan kepadamu

Jagalah empat perkara:

1. Lisanmu pada setiap majelis yang engkau masuki

2 . Perutmu pada setiap perjamuan yang engkau hadiri

3. Matamu pada setiap rumah yang engkau datangi

4. Hatimu pada setiap salat yang engkau kerjai.

“Jika seseorang berusaha mencari nafkah untuk kepentingan anaknya yang masih kecil, maka dia berada di jalan Allah. Jika seseorang berusaha mencari nafkah untuk kepentingan kedua orang tuanya yang sudah lanjut usia, maka ia berada di jalan Allah. Jika seseorang mencari nafkah untuk memenuhi ebutuhan dirinya agar tidak meminta-minta, maka ia berada di jalan Allah. Jika ada seseorang mencari nafkah dengan tujuan riya’ dan untuk bermegah-megahan, maka ia berada di jalan setan.” (HR. Thabarani).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s