Tarbiyyah

I L M U

Pengertian Ilmu

Secara bahasa ilmu berarti lawan kata bodoh atau jahil. Sedangkan menurut istilah berarti sesuatu yang dengannya akan tersingkap segala hakikat yang dibutuhkan secara sempurna.

Adapun menurut syariat, yang dimaksud dengan ilmu adalah pengetahuan yang sesuai dengan petunjuk Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dan diamalkan, baik amalan hati, amalan lisan maupun amalan anggota badan.

Dalam pengertian syariat, ilmu yang benar adalah yang diperoleh berdasarkan sumber yang benar (yaitu al Quran dan as Sunnah yang disebut ayat-ayat syar’iyyah; dan penelitian terhadap tanda-tanda kekuasaan Allah dialam semesta yang disebut ayat-ayat kauniyah), melahirkan rasa ketundukan kepada Allah dan diamalkan. Sebagaimana firman Allah subhanahu wata’aala;

“Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama.” (QS. Fathir: 28)

Ali bin Abi Thalib radhiyallaahu ‘anhu berkata: “Sesungguhnya yang disebut dengan alim adalah orang yang beramal dengan ilmunya dan yang ilmunya sesuai dengan amalnya.”

Abdullah bin Mas’ud radhiyallaahu ‘anhu berkata: “Ilmu itu bukanlah dengan banyaknya perkataan namun ilmu itu dengan banyaknya rasa takut kepada Allah.”

Dan kesimpulan dari semua itu adalah sebagaimana yang disepakati oleh para shahabat radhiyallaahu ‘anhum bahwa orang-orang berilmu namun tidak mengamalkan ilmunya, maka sejatinya ia adalah orang bodoh. Orang yang mengetahui perbuatan zina itu haram, namun tetap berbuat zina adalah orang bodoh dan tidak berilmu sekalipun ia adalah seorang yang bergelar doktor, profesor, ustadz, kiai ataupun ulama panutan sekalipun. Sebagaimana doa Nabi Yusuf yang diabadikan dalam Al Quran,

“Yusuf berkata: “Wahai Rabbku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan daripadaku tipudaya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh)”. (QS. Yusuf: 33)

Disyariatkannya Menuntut Ilmu

Firman Allah subhanahu wata’aala

“Tidak sepatutnya bagi orang-orang beriman itu pergi semuanya (kemedan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang dien (agama) dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (QS. At Taubah: 122)

“Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang Menciptakan” (QS. Al Alaq: 1)

Allah akan meninggikan orang-orang beriman diantara kamu dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al Mujadilah: 11)

Sabda Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam:

“Barangsiapa yang dikehendaki oleh Allah mendapat kebajikan maka ia akan difahamkan akan ilmu dien (agama)”. HR. Bukhari dan Muslim)

Dunia ini terkutuk beserta segala isinya, kecuali orang yang berdzikir kepada Allah dan yang serupa dengan itu serta orang yang berilmu dan yang menuntut ilmu.” (HR. At Tirmidzi)

Abi Umamah berkata bahwa suatu ketika Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang dua orang yang berbeda, yang pertama ahli ibadah dan yang kedua ahli ilmu. Maka Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Keutamaan orang yang berilmu daripada ahli ibadah adalah seperti keutamaanku terhadap orang yang terendah diantara kalian.” Kemudian Nabi juga bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya serta seluruh penduduk langit dan bumi hingga semut yang ada didalam lubangnya dan ikan-ikan selalu mendoakan kepada para pengajar yang mengajarkan kepada manusia.” (HR. At Tirmidzi)

“Jika kalian melewati taman surga, maka singgahlah.” Lalu para shahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apa itu taman surga?. Maka Rasulullah menjawab, “Majelis Ilmu (tempat-tempat menuntu ilmu agama)” (HR. At Thabrani)

“Sesungguhnya para Nabi itu tidak mewariskan dinar dan dirham (harta), tetapi mewariskan ilmu. Maka barangsiapa mengambilnya berarti telah mengambil bagian yang banyak”.

Generasi salafus shalih

Muadz bin Jabal rhadiyallahu ‘anhu berkata: “Pelajarilah ilmu, karena mempelajari ilmu karena mengharap wajah Allah itu mencerminkan rasa takut (khasyah), mencari ilmu adalah ibadah, mengkajinya adalah tasbih, menuntutnya adalah jihad, mengajarkannya untuk keluarga adalah taqarrub. Ilmu adalah pendamping disaat sendirian dan teman karib disaat menyepi.

Ibnu Rajab mengomentari hadits yang berbunyi.

“Barangsiapa menempuh suatu jalan dalam rangka menuntut ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan ke surga”. Ia mengatakan:

“Ilmu itu menunjukkan jalan kepada Allah dan merupakan salah satu jalan paling dekat dan paling mudah. Maka barangsiapa menggunakan ilmu dan tidak menyimpang darinya, niscaya akan sampai kepada Allah dan surga melalui jalan tersebut (yaitu dekat dan mudah).

edisi III/III/Muharram 1431

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s