Akidah

AKIDAH

Pengertian Akidah

Secara bahasa akidah berasal dari bahasa arab, yaitu ‘aqada yu’qidu uqdatan wa ‘aqidatan  yang berarti pengikatan atau mengikat sesuatu.

Menurut istilah adalah perkara-perkara yang dibenarkan oleh jiwa dan hati merasa tenang karenanya serta menjadi suatu keyakinan bagi pemiliknya yang tidak dicampuri keraguan sedikitpun.

Adapun secara istilah syar’i yang dimaksud dengan akidah Islam adalah sebagaimana yang disampaikan oleh Dr. Nashir Abdul Karim Al-Aql dalam ‘Mabahits Fi Akidah Ahlus Sunnah Wal Jama’ah’ adalah “Keimanan yang mantap kepada Allah, juga kepada apa-apa yang wajib bagi diri-Nya dalam uluhiyyah-Nya, rububiyyah-Nya, rasul-rasul-Nya, kepada hari akhir, kepada takdir baik dan buruk, dan beriman kepada seluruh nash-nash yang shahih berupa pokok-pokok dien, semua perkara ghaib dan kabar-kabarnya, serta apa yang telah disepakati oleh para shalafus shalih. Dan berserah diri kepada Allah ta’ala dalam masalah hukum, perintah, takdir dan syariat, serta tunduk kepada Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam dengan taat kepadanya, berhukum dan mengikuti petunjuknya”.

Istilah-istilah Akidah

Ahlus sunnah wal jama’ah menggunakan beberapa istilah dalam membahas Akidah Islam, yaitu:

  1. Akidah
  2. Tauhid
  3. As Sunnah
  4. Ushuluddin
  5. Fiqhul Akbar
  6. Asy Syariah
  7. Al Iman

Sumber pengambilan Akidah

Secara garis besar bahwa sumber pengambilan akidah yang benar hanya ada dua, yaitu Al Quran dan As Sunnah, sebagaimana yang disepakati oleh seluruh ulama salaf. Sebagian kelompok sesat diluar ahlus sunnah wal jama’ah menjadikan akal sebagai dasar akidah, bahkan mendahulukannya atas Al Quran dan As Sunnah. Akal sehat mampu menuntun manusia untuk mengenali kebenaran secara global, namun gambaran utuh dan rinci dari akidah hanya bisa diketahui dari Al Quran dan As Sunnah. Akal hanya sebagai pendukung dan pelengkap semata.

1. Al Qur’an

Al Quran adalah cahaya yang mampu menerangi kegelapan alam berfikir manusia. Diturunkan kepada Nabi Muhammad shallallaahu ‘alaihi wasallam dengan bahasa arab yang jelas dan fasih. Ia berfungsi sebagai mu’jizat baik secara lafadz maupun maknanya, sekaligus gaya bahasanya.

Tidak ada kerancuan dan pertentangan didalamnya, tidak ada satupun perintah dalam Al Quran yang tidak difahami oleh manusia serta tidak ada satu beban yang tidak sanggup dipikul oleh pundak mereka. Akal yang sehat akan mendukung bahwa hanya Al Quran lah satu-satunya hukum yang harus ditegakkan dan dilaksanakan demi kemaslahatan manusia itu sendiri. Karena tegaknya hukum Al Quran berarti terlindunginya lima unsur pokok dalam kehidupan manusia, yaitu agama, harta, jiwa, kehormatan dan akal.

Begitu juga autentitas Al Quran tetap terjaga, kemurniannya tetap terpelihara dari berbagai perubahan zaman maupun keadaan. Sehingga Al Quran yang ada saat ini sama dengan Al Quran yang dibaca dan diamalkan oleh Rasulullah dan para shahabatnya. Al Quran telah menantang manusia untuk membuat surat atau ayat yang semisal dalam Al Quran, namun hingga kini tantangan itu belum pernah terbukti (dan tidak ada yang mampu untuk membuktikannya).

“Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Quran yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Quran itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar. Maka jika kamu tidak dapat membuat(nya) – dan pasti kamu tidak akan dapat membuat(nya), peliharalah dirimu dari neraka yang bahan bakarnya manusia dan batu, yang disediakan bagi orang-orang kafir. (QS. Al Baqoroh: 23-24)

Aksioma diatas menunjukkan tentang keabsahan Al Quran sebagai satu-satunya kitab yang selamat dari pencemaran tangan-tangan kotor manusia. Sebuah jaminan yang disampaikan sejak pertama kali diturunkannya Kitab Suci ini,

“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan Sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya. (QS. Al Hijr: 9)

2. As Sunnah

As Sunnah merupakan sumber pengambilan hukum yang kedua dalam akidah. Substansi dan muatannya memiliki memiliki kesepadanan dengan Al Quran, sebagaimana firman Allah,

“Apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, Maka tinggalkanlah. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Amat keras hukumannya. (QS. Al Hasyr: 7)

“Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, Sesungguhnya ia telah mentaati Allah. dan Barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), Maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka. (QS. An Nisa: 80)

Hal ini dikuatkan dengan sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam yang berbunyi,

“Sungguh telah aku tinggalkan untuk kalian dua perkara. Jika kalian berpegang teguh kepada keduanya, niscaya kalian tidak akan tersesat. Keduanya adalah kitabullah dan sunnahku, dan keduanya tidak akan pernah terpisah hingga keduanya mendatangiku kelak disisi al haudh”. (HR. Al Hakim)

Dan dalam sabdanya yang lain,

“Karena itu hendaklah kalian berpegang teguh kepada sunnahku dan sunnah khulafaur rasyidin yang mendapat petunjuk. Gigitlah ia dengan gigi geraham…” (HR. Abu Dawud)

As Sunnah merupakan penjelasan tafsir bagi ayat-ayat Al Quran yang bersifat umum atau global. Hukum-hukum yang tercantum dalam Al Quran yang belum terperinci telah dijelaskan secara detail dalam As Sunnah, sehingga ayat itu menjadi jelas dan gamblang serta mudah untuk difahami. Kedudukannya dengan al Quran berada pada peringkat kedua setelahnya. Sedemikian tingginya kedudukan As Sunnah dalam menerapkan hukum-hukum agama, sehingga hilangnya satu bagian dari As Sunnah sama buruknya dengan hilangnya satu bagian dari Al Quran.

3. Akal Sehat

Secara bahasa akal berarti kebijaksanaan atau tindakan yang bijak dan tepat.

Sedangkan secara istilah akal memiliki dua pengertian; pertama, pengetahuan dasar manusia serta aksioma-aksioma rasial. Kedua, Persiapan yang bersifat pembawaan insting dan kemampuan yang matang.

Akal merupakan insting yang telah Allah berikan kepada setiap manusia yang kemudian diberi muatan tertentu berupa kemampuan dan keinginan untuk melakukan sejumlah aktivitas dan pemikiran yang bergunaa bagi kehidupan manusia.

Kaitannya dengan akal sebagai salah satu sumber atau bagian dari pengambilan akidah islam, maka ada beberapa ketentuan yang harus diberlakukan, diantaranya:

  1. Syariat harus didahulukan daripada akal.
  2. Apa yang benar menurut akal sehat, pasti tidak bertentangan dengan hukum-hukum syariat. Jika pemikiran akal sehat bertentangan dengan dalil, kemungkinannya ada dua; pemikiran akal tersebut yang salah atau dalil haditsnya yang tidak shahih.
  3. Yang benar menurut pemikiran akal adalah benar menurut ketentuan syari’at dan selalu berjalan dengan syariat itu sendiri.
  4. Yang salah dari pemikiran akal adalah bertentangan dengan syariat
  5. Balasan berupa pahala dan dosa seluruhnya ditentukan oleh syariat dan bukan oleh akal
  6. Penentuan hukum yang terperinci adalah hak mutlak bagi syariat dan bukan hak bagi akal.
  7. Mubah adalah hukum dasar segala sesuatu sebelum datangnya hukum syariat.
  8. Kadang-kadang terdapat muatan syariat yang membingungkan akal, namun hal itu bukan berarti menolak atau bertentangan dengannya.
  9. Tidak ada kewajiban tertentu bagi Allah yang ditentukan oleh akal. Karena Allah memiliki sifat Maha Kuasa untuk berbuat apa saja yang dikehendaki-Nya.
  10. Akal tidak dapat menentukan hukum-hukum tertentu sebelum turunnya wahyu, meski secara umum akal mampu mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk.

edisi IV/IV/Muharram 1431

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s