Fikih

NIAT

Orang Muslim beriman kepada urgensi niat bagi seluruh amal perbuatan agamanya dan dunianya. Sebab, seluruh amal perbuatan menjadi terhormat dengannya, kuat-lemahnya tergantung padanya, dan baik-buruknya terkait dengannya.

Niat Itu Tempatnya Di Hati

Niat adalah satu amalan yang memiliki kedudukan penting dalam agama ini, sedemikian besarnya kedudukan niat sehingga para ulama mengatakan bahwa hadits berikut ini,

“Sesungguhnya semua amalan itu hanyalah dengan niat, dan bagi setiap orang mendapatkan apa yang telah ia niatkan….” (HR. Al Bukhari no.1 dan Muslim no.1907)

merupakan sepertiga dari Islam dimana niat adalah amalan hati (bathin) sedangkan lisan dan gerakan anggota badan adalah dua bagian lain (zhahir) dimana poros Islam seseorang berada pada ketiga hal tersebut. Oleh karena itu para ulama mengatakan bahwa niat adalah pekerjaan hati yang tidak dapat dimanipulasi oleh pekerjaan anggota badan. Allah Tabaraka Wa Ta’ala berfirman,

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketaqwaan dari kamulah yang dapat mencapainya” (Al Hajj 37)

“Maka apakah dia tidak mengetahui apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur. Dan dilahirkan apa yang ada di dalam dada” (Al ‘Adiyat 9-10)

Ayat-ayat diatas menggambarkan bahwa pekerjaan anggota badan yang dilakukan manusia hanya dapat dinilai oleh manusia sedangkan amalan hati yang tidak terlihat hanya Allah yang dapat menilainya kelak, disitulah letaknya apa yang disebut niat. Hal ini dikuatkan dengan tidak ditemukannya riwayat yang menyatakan bahwa Rasulullah Sholallahu’Alahi Wasallam pernah melafalkan niat.

Definisi Niat Dan Urgensinya

Niat diartikan sebagai kemauan hati untuk melakukan sesuatu. Tempatnya adalah dalam hati dan tidak ada hubungannya dengan lidah. Dengan kata lain, niat menunjukkan sebab terjadinya amal perbuatan. Bahwasannya segala bentuk perbuatan pasti didorong oleh niat untuk melakukannya. Setiap amalan orang berakal yang mempunyai ikhtiar pasti terjadi karena adanya niat. Mustahil ada seorang waras yang berwudhu’, berangkat untuk shalat, bertakbir, dan melaksanakan shalat, tetapi dikatakan bahwa ia tidak atau belum berniat. Sedangkan ia melakukan semua itu dari dorongan keinginan hatinya, itulah yang disebut dengan niat. Sehingga sebagian ulama mengatakan: “Seandainya Allah membebani kita untuk beramal tanpa niat, sungguh itu adalah suatu beban yang tidak akan sanggup dipikul.”

Keimanan orang Muslim kepada urgensi niat bagi seluruh amal perbuatan, dan kewajiban perbaikan niat itu, pertama, berdasarkan firman-firman Allah Ta‘ala, seperti,

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya; dalam (menjalankan) agama dengan lurus.” (Al-Bayyinah: 5).

“Katakanlah, ‘Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama’.” (Az-Zumar: 11).

Kedua, berdasarkan sabda-sabda Rasulullah saw., misalnya,

“Sesungguhnya amal perbuatan itu harus dengan niat, dan setiap orang itu tergantung pada niatnya.” (Muttafaq Alaih).

“Tidak melihat kepada bentuk fisik kalian, dan harta kalian, namun melihat kepada hati kalian, dan amal perbuatan kalian.” (Muttafaq Alaih).

Penglihatan kepada hati berarti penglihatan kepada niat, sebab niat adalah motivasi amal perbuatan. Sabda Rasulullah saw., “Barangsiapa ingin kepada kebaikan, dan ia tidak mengamalkannya, maka ditulis satu kebaikan untuknya.” (Muttafaq Alaih).

Bernilainya amal seorang hamba ditentukan oleh dua faktor utama yaitu niat ikhlash karena Allah dan benar sebagaimana dicontohkan Uswah Hasanah Muhammad Shalallahu’Alaihi Wasallam. Kedua faktor ini layaknya dua sayap yang apabila salah satunya tidak ada menyebabkan hilangnya nilai dari amal itu sendiri. Dengan kata lain niat merupakan barometer bathin, sedangkan kesesuaian dengan contoh Rasulullah merupakan barometer lahir bernilainya amal perbuatan hamba di hadapan Allah Azza Wa Jalla.

Berkata Ibnul Mubarak rahimahullah: “Berapa banyak amalan yang sedikit bisa menjadi besar karena niat dan berapa banyak amalan yang besar bisa bernilai kecil karena niatnya”. (Jamiul Ulum wal Hikam, hal. 71)

Dalam hal ini niat seorang hamba terbagi menjadi dua kelompok besar yaitu niat amal dan niat sebab serta tujuan dalam beramal. Niat amal yaitu kemauan hati seorang hamba untuk melakukan perbuatan tertentu, sedangkan niat sebab serta tujuan adalah kesadaran hati melakukan suatu perbuatan dalam rangka menjalankan perintah Allah dan hanya diperuntukkan bagi Allah Azza Wa Jalla.

Contoh dari penjelasan diatas adalah ketika kita hendak melaksanakan sholat kemudian kita ditanya dengan tiga pertanyaan, “Mau melaksanakan apa kamu ?” Kita jawab, “Mau melaksanakan sholat” (dengan jawaban ini kita berarti sudah melaksanakan niat amal), “Kenapa dan untuk apa kamu sholat ?” Kita jawab, “Karena Allah memerintahkan dan kita melaksanakannya untuk menggapai ridhoNya” (dengan jawaban ini berarti kita telah melaksanakan niat sebab serta tujuan dalam beramal). Jika dalam berniat kita dapat menghadirkan kesadaran diatas dalam hati, maka kita telah lurus, ikhlash dan sempurna dalam melaksanakan niat tersebut.

Nilai Sebuah Niat

Sabda Rasulullah saw. di Tabuk, “Sesungguhnya di Madinah, terdapat orang-orang yang tidak mengarungi lembah, tidak menginjak tanah yang membuat orang kafir marah, tidak berinfak dengan apa pun, dan tidak ditimpa kelaparan, namun mereka sama dengan kita, kendati mereka berada di Madinah.” Ditanyakan kepada beliau, “Kenapa begitu, wahai Rasulullah?” Rasulullah saw. bersabda, “Mereka tidak bisa berangkat jihad karena udzur, kemudian mereka ikut kita dengan niat yang baik.” (Diriwayatkan Al-Bukhari dan Abu Daud).

Niat yang baik itulah yang membuat orang yang tidak bisa perang mendapatkan pahala orang yang berperang, dan orang bukan mujahid mendapat pahala mujahid. Sabda Rasulullah saw., “Jika dua orang Muslim bertemu dengan pedangnya masing-masing, maka pembunuh, dan orang yang terbunuh sama-sama masuk neraka.” Ditanyakan kepada beliau, “Wahai Rasulullah, kalau pembunuh betul, bagaimana dengan orang yang terbunuh?” Rasulullah saw. bersabda, “Karena ia juga ingin membunuh sahabatnya.” (Muttafaq Alaih).

Niat yang rusak dan keinginan yang rusak disamakan pada pembunuh yang berhak masuk neraka dan orang yang terbunuh, sebab jika niat orang yang terbunuh itu tidak rusak, ia pasti masuk surga. Sabda Rasulullah saw., “Barangsiapa menikah dengan mahar dan berniat tidak membayarnya, ia pezina. Barangsiapa meminjam dan berniat tidak membayarnya, ia pencuri.” (Diriwayatkan Ahmad).

Hanya dengan niat yang rusak, sesuatu yang mubah berubah menjadi sesuatu yang haram, dan sesuatu yang diperbolehkan menjadi sesuatu yang dilarang, serta sesuatu yang tidak ada kesulitan berubah menjadi ada kesulitan di dalamnya.
Ini semua menguatkan keyakinan orang Mukmin kepada urgensi niat dan nilainya yang agung.

Meluruskan Niat

Seorang muslim sudah seharusnya terus berupaya memperbaiki niatnya dan meluruskannya agar apa yang dia lakukan dapat berbuah kebaikan. Dan perbaikan niat ini perlu mujahadah (kesungguh-sungguhan dengan mencurahkan segala daya upaya). Karena sulitnya meluruskan niat ini sampai-sampai Sufyan Ats Tsauri rahimahullah berkata : “Tidak ada suatu perkara yang paling berat bagiku untuk aku obati daripada meluruskan niatku, karena niat itu bisa berubah-ubah terhadapku”. (Hilyatul Auliya 7/5 dan 62)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata dalam Majmu` Fatawa (10/49) : “Mengikhlaskan agama untuk Allah adalah pokok ajaran agama ini yang Allah tidak menerima selainnya. Dengan ajaran agama inilah Allah mengutus rasul yang pertama sampai rasul yang akhir, yang karenanya Allah menurunkan seluruh kitab. Ikhlas dalam agama merupakan perkara yang disepakati oleh para imam ahlul iman. Dan ia merupakan inti dari dakwah para nabi dan poros Al Qur’an”.

Mulai hari ini mari kita perhatikan niat kita dalam setiap amal perbuatan dan pastikan semuanya dapat bernilai disisi Allah Subahanahu Wa Ta’ala sebagaimana firmanNya kepada Al Khalil Ibrahim ‘Alaihissalam,

“Katakanlah : Sesungguhnya shalatku, dan ibadahku, dan hidupku, dan matiku bagi Allah Rabb semesta alam” (Al An’am 162). Selamat berusaha !.

Wallaahu a’lam

edisi II/II?Muharram/1431

* AAA/ADP

Referensi :

  • Syarh Riyadhus Shalihin, Faqihuzzaman Muhammad bin Sholih Al Utsaimin.
  • Syarh Arba’in An Nawawiyah, Ibnu Daqiqil ‘Id.
  • Minhajul muslim, Abu Bakar Jabir Al Jazairi

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s